23.8 C
Bandar Lampung
Minggu 31 Mei, 2020 03:10 WIB
Beranda OPINI Tujuh Jurus UMKM Lolos Dari Pusaran Pandemi Covid-19

Tujuh Jurus UMKM Lolos Dari Pusaran Pandemi Covid-19

Oleh Andi Desfiandi*

HANYA ada dua skenario ekonomi Indonesia bahkan dunia saat prahara pandemi Covid-19 ini , yaitu skenario buruk dan sangat buruk bahkan kolaps.

Sangat buruk bahkan kolaps apabila hingga akhir tahun bahkan tahun depan masih belum usai dan pergerakan manusia, barang dan jasa masih sangat terbatas atau dibatasi.

Saya secara pribadi memprediksi bahwa tidak ada satupun negara mau melakukan pembatasan ekonomi dan sosial hingga akhir tahun bahkan hingga tahun depan.

Sekalipun misalnya vaksin dan obatnya belum ditemukan dan juga tidak ada satupun ahli yang memastikan virus Covid-19 ini tidak akan bermutasi.

Tidak ada satupun negara yang sanggup bertahan dengan pembatasan ekonomi dan sosial hingga akhir tahun apalagi hingga tahun depan karena artinya ekonomi dunia akan lumpuh total dan bahkan banyak negara yang akan bangkrut.

Karakteristik krisis moneter tahun 1998 sangat berbeda dengan saat ini karena pada saat krismon hanya berdampak kepada sebagian sektor ekonomi saja dan bahkan sektor usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) berjaya dan menjadi dewa penyelamat perekonomian nasional.

Sedangkan saat ini seluruh sektor ekonomi dan kehidupan terdampak secara merata termasuk yang berskala raksasa hingga UMKM.

Begitupula dengan Depresi Ekonomi Dunia tahun 1930 yang lalu karena saat itu baru sedikit negara yang maju dan berkembang, sebagian besar negara didunia masih masuk negara miskin.

Size ekonomi saat itu juga masih jauh lebih kecil dibandingkan saat ini dimana sekarang banyak negara yang menjadi maju dan berkembang serta jenis usaha dan industri sudah sangat jauh berkembang dibandingkan 1930.

Banyak analis mengatakan dampak enonomi akibat Covid-19 akan lebih buruk dari great depression tahun 1930 dan krisis ekonomi lainnya yang pernah terjadi.

Saya mengambil kesimpulan bahwa Indonesia termasuk negara yang tidak akan menunggu hingga Covid-19 ini usai total.

Alasannya, tidak ada yang mampu memprediksi kapan pandemi ini akan berakhir, termasuk juga kemungkinan virus tersebut bermutasi.

Sehingga akan muncul kebijakan campuran (mix policy) yang akan diambil pemerintah yaitu tetap menjalankan protokol kesehatan tapi terpaksa hidup berdampingan dengan Covid-19 alias berdamai dengan keadaan.

Dengan kata lain kehatihatian akan virus tsb tetap dilakukan namun sektor ekonomi akan mulai dihidupkan kembali secara bertahap dan tidak akan menunggu virus bisa dikalahkan dengan tuntas.

Apakah langkah tersebut memilki resiko?

Seperti buah simalakama, semua ada resikonya manapun yang akan dilakukan termasuk tetap melakukan pembatasan yang ketat bahkan menutup negara sekalipun dari seluruh aktifitas.

Apapun keputusan yang akan diambil kita semua harus bersiap karena apapun pendekatan atau kebijakan yang akan diambil baik itu campuran ataupun menunggu hingga pandemi ini usai.

Perubahan sudah pasti akan terjadi tanpa harus menunggu apa yang akan kita lakukan, perubahan tatanan ataupun peradaban akan terjadi baik untuk sebagian dari kita maupun seluruh dunia.

Manusia saat ini dan nanti setidaknya untuk sementara waktu akan menjadi lebih religius, lebih higienis, lebih suka di rumah atau bersama keluarga, lebih jarang bepergian, lebih senang berbelanja via online, lebih menyukai barang yang murah, lebih hati2 membelanjakan uang, lebih hemat, lebih sensitif, lebih praktis dsbnya.

Morgan Stanley memprediksi bahwa beberapa negara akan mengalami recovery ekonomi dengan cepat pasca-Covid-19 yaitu Jepang, Tiongkok, India, Pilipina dan Indonesia.

Saya setuju dengan prediksi tersebut dikarenakan negara-negara tersebut memiliki kelebihan dibandingkan negara lain yaitu :
1. Jumlah penduduk yang banyak sehingga pasar domestiknya begitu luas
2. Angkatan kerja yang produktif juga melimpah.
3. Mayoritas pelaku usaha di negara2 tsb adalah UMKM dan Mikro yang selama ini dikenal sebagai penyumbang perekonomian yang signifikan di negara2 tsb.
4. Sumber daya alam yang relatif melimpah dan beragam terutama di sektor pangan dan kebutuhan pokok manusia lainnya.
5. Jepang mungkin karena terbukti setelah perang dunia ke 2 mampu bangkit dengan cepat dan sudah terbiasa dengan bencana dinegaranya.

Bagaimana kemudian peluang UMKM Indonesia yang juga mengalami pukulan yang kuat dan sudah mulai banyak yang berjatuhan, dan upaya yang dilakukan untuk bisa bertahan dan mengambil manfaat saat “rebound” pasca-Covid-19 nanti?

Berikut beberapa upaya yang perlu dilakukan oleh UMKM :

1. UMKM harus mulai mempersiapkan diri untuk meningkatkan daya saing produknya termasuk kapasitas dan kapabilitas manajemen dan SDM sekaligus juga menyesuaikan “Bisnis Model”

2. UMKM harus mampu memprediksi kebutuhan manusia atau pelanggannya yang sudah mulai berubah, dimana pelanggan saat ini lebih mengutamakan kemudahan dan harga terjangkau serta kualitas yang juga baik.

3. UMKM harus mampu berdaptasi dengan perubahan dan terus melakukan inovasi produknya dan juga mampu menerapakan tehnologi yang sederhana sekalipun untuk peningkatan kualitas produk dan pelayanannya.

4. UMKM juga harus mampu melakukan kolaborasi secara holistik dengan mitra2 UMKM bahkan juga dengan perusahaan swasta besar dan BUMN bahkan juga dengan BUMDES.

5. Kepuasan pelanggan adalah kunci memenangkan persaingan dengan mengetahui apa yang diinginkan pelanggan dan mendeliver produk dengan cepat, tepat, harga terjangkau dan kualitas yg memadai.

6. UMKM harus meningkatkan kemampuan dalam penggunaan tehnologi informasi karena Tehnologi Informasi adalah kebutuhan agar mampu mengadopsi perkembangan ekonomi digital termasuk e-commerce.

7. UMKM harus melakukan inovasi salah satunya dengan melakukan marketing intelligence dan marketing research agar produk yang dihasilkan sesuai kebutuhan pasar dan produknya memiliki keunikan dibandingkan pesaing.

Sudah saatnya pelaku UMKM melakukannya karena dulu kegiatan tsb hanya dilakukan oleh perusahaan2 besar dan multi nasional saja.

UMKM memiliki peluang lebih besar untuk lebih cepat bangkit dibandingkan perusahaan besar yang sudah tumbang, karena usaha yang dilakukan oleh perusahaan besar untuk bangkit lebih berat dibandingkan UMKM.

Sementara UMKM bisa langsung bangkit dan produknya lebih banyak dibutuhkan dan mudah diperoleh oleh pelanggan apalagi kalau pola kolaborasi dan sinergitas mampu dibangun dengan pelaku2 UMKM lainnya bahkan dengan BUMN dan BUMDES.

Dengan kolaborasi maka pangsa pasar akan semakin luas, produk akan semakin beragam, kualitas akan terstandarisasi, sumber bahan baku akan semakin banyak, kecepatan dan ketepatan delivery akan lebih terjamin dan harga bisa ditekan.

Apalagi saat ini beragam kebijakan dan relaksasi diberikan pemerintah kepada UMKM seperti relaksasi pajak, relaksasi kredit, akses modal dan kebijakan2 lainnya.

Perubahan perilaku konsumsi dari konsumen harus mampu diprediksi dan diproduksi oleh UMKM, untuk itu adaptasi terhadap perubahan harus dilakukan agar mampu menawarkan produk yang benar2 dibutuhkan oleh konsumen nantinya.

Jepang, Tiongkok, Perancis, Kanada dan negara2 yang saat ini maju juga awal kemajuannya adalah dengan mendorong sektor UMKM untuk memiliki daya saing yang tinggi.

Barangkali ini adalah momentum UMKM Indonesia untuk naik kelas dengan meningkatkan daya saingnya dan mengawal Indonesia untuk bangkit dan meraih kemenangan..
Wallahualam..

(*) Ketua Bidang Ekonomi DPP Pejuang Bravo LimaKetua Yayasan Alfian HusinKetua Lembaga Perekonomian NU Lampung

EDITOR : herman bm

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

Baca Juga

Selamat Datang Di Negeri “Ramah” Corona

Oleh Dr. Andi Desfiandi, MA* COVID-19 sepertinya bakal betah berlama lama bersemayam di negeri kita tercinta sejak pertama kali diumumkan secara resmi oleh pemerintah pada...

Empat Strategi Siapkan Ketahanan Pangan Dari Turbulensi Covid-19

Oleh Dr. Andi Desfiandi, MA* WALAU baru berjalan empat bulan melanda dunia dan baru dua bulan menyusup ke Indonesia, pandemi Covid-19 telah dan bakal terus...
Translate »