Transisi Energi, DEN Dorong Lampung Maksimalkan Potensi Panas Bumi

Transisi Energi, DEN Dorong Lampung Maksimalkan Potensi Panas Bumi
Anggota Dewan Energi Nasional (DEN), Surono bersama Rektor Universitas Lampung (Unila), Prof Lusmeilia Afriani/Tuti

Article Header Image Anggota Dewan Energi Nasional (DEN), Surono, mendorong pengembangan energi panas bumi di Lampung sebagai salah satu strategi memperkuat ketahanan dan kemandirian energi daerah. Potensi panas bumi di Lampung dinilai cukup besar, terutama di wilayah Suoh dan Gunung Rajabasa.

Surono mengatakan, transisi energi tidak bisa dilakukan secara mendadak dengan langsung meninggalkan energi fosil dan beralih sepenuhnya ke energi terbarukan.

Menurutnya, proses tersebut harus dilakukan secara bertahap mengingat pasokan listrik nasional hingga kini masih didominasi pembangkit berbahan bakar batu bara.

Selain itu, aktivitas pertambangan batu bara juga menyangkut kehidupan masyarakat yang menggantungkan mata pencaharian pada sektor tersebut.

"Namanya transisi, tidak tiba-tiba mengubah dari energi fosil ke energi terbarukan, tetapi secara perlahan. Kita tahu kelistrikan kita mayoritas masih dipasok dari batu bara," kata Surono pada kegiatan Sosialisasi Kebijakan Energi Nasional di Universitas Lampung, Jumat, 6 November 2026.

Meski demikian, Indonesia memiliki potensi energi terbarukan yang besar untuk dikembangkan. Salah satunya energi panas bumi dengan potensi mencapai sekitar 24 gigawatt (GW).

Lampung, kata dia, menjadi salah satu daerah yang memiliki potensi panas bumi cukup besar dan dapat menjadi kekuatan dalam memperkuat ketahanan energi daerah.

Selain panas bumi, pengembangan bioenergi melalui program biodiesel B50 juga menjadi bagian dari upaya transisi energi nasional.

Surono menjelaskan, transisi energi tidak hanya bertujuan mengurangi dampak perubahan iklim akibat penggunaan bahan bakar fosil, tetapi juga memperkuat ketahanan, kemandirian, dan kedaulatan energi Indonesia.

"Transisi energi memiliki dua tujuan. Pertama, mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim. Kedua, kita menuju ketahanan, kemandirian, dan kedaulatan energi," jelasnya.

Terkait pengembangan panas bumi di Lampung, Surono menyebut percepatan pengembangan energi tersebut menjadi salah satu agenda strategis. Selain wilayah Ulubelu yang telah beroperasi, Lampung juga memiliki potensi di Suoh dan Rajabasa.

Dia menilai panas bumi merupakan sumber energi bersih yang dapat diandalkan karena tidak bergantung pada kondisi cuaca seperti energi surya maupun angin.

Surono juga menepis anggapan bahwa pengembangan panas bumi harus merusak kawasan hutan dan lingkungan. Menurutnya, meskipun wilayah perizinan dapat mencapai ratusan hektare, lahan yang digunakan untuk kegiatan operasional hanya sebagian kecil.

"Walaupun izinnya mungkin ratusan hektare, tetapi yang digunakan paling hanya 2 persen. Selebihnya untuk konservasi agar ada kesinambungan panas bumi," ujarnya.

Dia menjelaskan, keberlanjutan energi panas bumi sangat bergantung pada ketersediaan air dan kelestarian lingkungan. Karena itu, kawasan resapan air dan lingkungan sekitar harus tetap dijaga agar sumber panas bumi dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.

Sementara itu, Rektor Universitas Lampung (Unila), Prof Lusmeilia Afriani, mengatakan Fakultas Teknik Unila menggelar sosialisasi isu strategis energi untuk memberikan pemahaman kepada mahasiswa mengenai persiapan dan tantangan energi masa depan.

Kegiatan tersebut menghadirkan dua pakar dari Dewan Energi Nasional yang memberikan materi mengenai pengembangan energi terbarukan, khususnya kepada mahasiswa Fakultas Teknik Unila.

Prof Lusmeilia mengatakan, Unila juga terus mengembangkan berbagai penelitian yang berpotensi mendukung swasembada energi di Lampung.

Sejumlah bidang yang menjadi perhatian di antaranya pemanfaatan energi matahari, panas bumi, hingga pengolahan sampah menjadi sumber energi.

"Banyak hal, terutama salah satunya kita memanfaatkan energi matahari, kemudian ada juga dari panas bumi, dan energi dari sampah, baik sampah rumah tangga maupun kotoran yang bisa diolah menghasilkan gas untuk memasak dan sebagainya," pungkasnya. Article Image

Editor : Tuti Nur Khomariyah

Kata Kunci


Berita Terkait