Desa Tegalrejo, tempat korban domisili. (nov/RMOLLampung)

Penyebab tewasnya pekerja outsourching PT Bukit Asam Tbk, terkuak. Hartono (39) tewas akibat terseret mesin belt conveyor  yang tiba-tiba nyala.

Dalam leflet atau brosur yang diterbitkan Direktorat Jenderal Minerba, saat Hartono melepas carrying idler pada frame 71 tiba-tiba mesin belt conveyor berjalan.

Akibatnya, korban tertarik ke atas, terseret dan kemudian, terbentur frame carrying idler dan terjepit antara belt dan frame Nomor 69.

Korban meninggal di lokasi peristiwa dengan robek perut, patah (fracture ) lengan kanan bagian atas, fracture lengan kanan bagian bawah, kepala kanan juga terluka.

Kronologi peristiwa tragis yang dialami Hartono menjadi bahan materi di leflet para pekerja tambang, Rabu (11/3).

Leflet  atau brosur yang diterbitkan Direktorat Jenderal Minerba tersebut berisi kronologis tewasnya Hartono (39) yang terjadi pada 27 Januari lalu.

Leflet itu dibahas dalam pembekalan materi tadi pagi,” kata Mukhlas, salah satu enginering muda di tambang Sawah Lunto yang meng-update status di akun WA-nya dengan foto buletin Health and Safety Alert Direktorat Teknik dan Lingkungan Minerba tersebut.

Leflate yang berisi materi kecelakaan Hartono (ist)

Terdapat poin penting dalam kronologis penyebab terjadinya kecelakaan karena peralatan safety device pada belt conveyor CV-05 CHF3 tidak befungsi dengan baik.

Memastikan hal itu, rmollampung.id mencoba menghubungi Ketua Perhimpunan Kepala Teknik Tambang (KTT) di Sumatera Selatan, Anton Sujarwo.

Penulis buku “Dari Titik Nol; Menembus Batas” yang menjadi autobiografi KTT termuda di Indonesia itu, terkesan melindungi anggotanya, KTT di PTBA, Suhedi.

KTT PTBA yang dinilai banyak kalangan, berusaha menutup-nutupi kecelakaan tambang di wilayah yang jadi tanggungjawabnya.

Anton yang baru terpilih secara aklamasi pada akhir tahun 2019 dan jadi Ketua Perhimpunan Bos Tambang di Sumatera Selatan pada Musyawarah Besar KTT, PTL dan PJO, dilantik untuk periode 2020-2023 itu, enggan berkomentar soal kecelakaan kerja di luar perusahaannya.

Senada dengan Anton Sujarwo, perpanjangan tangan dari Kepala Instruktur Tambang (KAIT) yang menjadi pusat penyelesaian K3, di Sumatera Selatan dijabat oleh Kepala Dinas ESDM. Juga mengaku, belum tahu adanya kecelakaan di areal PTBA.

“Saya belum tahu, baru dengar ini malah,” ujar Kepala Dinas ESDM Sumatera Selatan, Robert Heri ketika dikonfirmasi melalui telepon, Rabu, 11 Maret 2020.

Pihaknya juga mengakui, tidak tahu kalau ada kecelakaan di PTBA khususnya di UPTE meski selang 14 hari kemudian, diberi piagam penghargaan sebagai perusahaan dengan K3 terbaik se-Sumatera Selatan.

Wah, maaf ya, saya tidak tahu, Dinas ESDM (Sumatera Selatan) tidak terlibat itu,” jelas Robert Heri.

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here