23.8 C
Bandar Lampung
Minggu 31 Mei, 2020 03:48 WIB
Beranda OPINI Tiga Tahun, Luka Para Pedagang Pasar Griya Itu Masih Menganga

Tiga Tahun, Luka Para Pedagang Pasar Griya Itu Masih Menganga

Oleh Muhamad ilyas*

HIRUK pikuk konstelasi elite politik, bekas irisan-irisan bekas pertarungan politik, gesekan kepentingan penegakan hukum pasca-Pilgub Lampung 2018 masih tersisa pada saat itu.

Pada tahun itu, saya masih ingat bagaimana represifnya aparatur Kota Bandarlampung menggusur rakyatnya dengan dalih pembangunan Kantor Kejaksaan Negeri Kota Bandarlampung.

Yang menurut sebagian akademisi, penggiat hukum dan teman-teman pejuang civil society sangat naif. Tapi tetap saja, cakar kekuasaan itu terlalu kuat bagi wong cilik.

Belum lagi, alih fungsi pasar menjadi Kantor Kejaksaan Negeri Kota Bandarlampung disinyalir mengangkangi perda tata ruang dan wilayah dan peraturan lain.

Kawasan Pasar Griya Sukarame yang belasan tahun lalu sepi, “tempat jin buang anak”, berubah jadi kawasan pemukiman dan lokasi pendidikan (Kampus UIN Raden Inten II ).

Hingga akhirnya, Pemkot Bandarlampung yang dipimpin Herman HN mau mengalihfungsikannya jadi Kantor Kejaksaan Negeri Kota Bandarlampung.

Pasar yang telah dihuni 28 KK dan 155 jiwa warga sejak 1996 distigmanisasi pejabat sublokal, pejabat tingkat kecamatan, merupakan pemukiman kumuh, sarang maksiat dan narkoba.

Dengan bumbu-bumbu kasar, stigmanisasi itu terlihat untuk memuluskan pembenaran publik bahwa pasar tersebut harus dihancurkan dan dialihfungsikan buat perkantoran.

Kurang berkembangnya pasar, para pedagang yang sudah mengantongi kartu tanda penduduk (KTP) setempat terpaksa beralih profesi menjadi pengais barang bekas (tukang rongsok).

Setiap kontestasi politik, suara tukang rongsok yang kumuh, dekil dan kurus tersebut pun tetap menjadi rebutan para elite politik dan partai pada saat pilpres, pilkada, ataupun pileg.

Hasan, salah seorang tukang rongsok yang tinggal di pasar tersebut, berjuang mempertahankan hak-hak dasarnya sebagai warga negara indonesia bersama warga lainnya.

Bapak tiga anak itu berkoordinasi dengan teman-teman mahasiswa, civil society, penggiat hukum dan HAM sampai terbentuknya skema advokasi nonlitigasi/penyelesaian di luar pengadilan.

Diskusi-diskusi publik, aksi massa, heaing bersama wakil rakyat dan kampanye media dengan harapan Wali Kota Herman HN mengurungkan niatnya memggusur pasar.

Namun, perjuangan panjang tersebut tidak sama sekali digubris eksekutif maupun legeslatif.

Sampai pada saat pagi yang cerah, drap sepatu laras personel TNI, Polri, dan Pol PP menggiring alat berat berlengan kokoh menuju Pasar Griya Sukarame.

Warga bersama penggiat hukum dan HAM berusaha menghentikan langkah penggusuran. Namun, mesin penghancur terus melaju hingga terjadilah cheos.

Warga yang mungkin baru saja sarapan nasi uduk tumbang oleh para personel yang digaji rakyat.

Para anak-anak mereka menagis dan perempuan menumpahkan sumpah serapah kepada para personel yang mengawal penggusuran yang hanya dalam sekejap pasar jadi rata dengan tanah.

Dengan kondisi morat-marit dan terseok-seok, warga melakukan upaya hukum litigasi untuk memeroleh hak dasarnya atas kehidupan yang layak, hak atas perumahan, hak atas pendidikan.

Apa daya, potret buram hukum yang masih mengakomodir penguasa kembali terbukti tajam ke bawah tumpul ke atas.

Warga kalah dan nasib mereka semakin terseok-seok.

Tiga tahun telah berlalu, kasasi menjadi harapan baru para wong cilik bekas penghuni Pasar Griya Sukarame.

Semoga, para wong cilik tersebut memeroleh setetes harapan atas hak-haknya yang terhempas oleh kekuasaan tiga tahun lalu lewat kasasi. Semoga.

(*)Advokat,  mantan Kadivsipol LBH Bandarlampung, penanggung jawab nonligitasi perkara Pasar Griya Sukarame.

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

Baca Juga

LBH Bandarlampung Kawal Pedagang Pasar Griya Kasasi Ke MA

Para pedagang Pasar Griya Sukarame melanjutkan gugatan atas penggusuran terhadap mereka oleh Pemkot Bandarlampung ke Mahkamah Agung (MA). Kodri Ubaidillah, penasihat hukum para pedagang Pasar...
Translate »