23.8 C
Bandar Lampung
Minggu 31 Mei, 2020 04:36 WIB
Beranda EKONOMI Siasat Dimsum Lia-Ha Takendul-kendul Lidah Saat Pangebluk

Siasat Dimsum Lia-Ha Takendul-kendul Lidah Saat Pangebluk

Staf Khusus Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, Riza Damanik mengatakan usaha mikro kecil menengah (UMKM) berkontribusi pada 60 persen PDB Indonesia dan menyerap 97 persen tenaga kerja dalam negeri.

Hal itu diungkapkan Riza Damanik dalam satu temu wicara daring di Jakarta, bulan lalu (19/4)

Berbagai inovasi penjualan pun masif dilakukan pelaku usaha ultramikro dan UMKM seantero negeri demi sekadar kuat bertahan dari gempuran dahsyat imbas ekonomi pandemi corona.

Di Bandarlampung misalnya, inovasi agar dapur tetap ngebul dan doa agar rezeki Lebaran terkabul, juga ditempuh Amalia Fitriani, pemilik gerai kuliner daring Dimsum Lia-Ha, Langkapura Baru, Kecamatan Langkapura, Kota Bandarlampung.

Lia, demikian ibu dua anak ini disapa, mencoba peruntungan bisnis kuliner rumahannya, dengan menjajakan paket penjualan kudapan asal negeri ginseng itu, memanfaatkan momen Ramadan jelang Hari Raya Iedul Fitri 1441 Hijriah di tengah kahar situasi pandemi.

Bukan sekadar latah membunuh sepi, ia menolak takluk sergapan pagebluk.

Saban hari, di sela waktu sejak lepas sahur hingga usai jam Tarawih, ia aktif berpromosi produk usaha rintisannya sejak 2015 silam itu.

Dihubungi Jumat pagi (8/5), ia bercerita kegigihannya menawarkan varian produk homemade –ia kerjakan dengan tangan sendiri.

“Bismillahirrahmannirrahiim. Aku nawarin paket promo dimsum bikinan aku sendiri. Suasana gini kan, produk frozen food tetaplah diminati ibu sama remaja putri. Boleh coba, Inshaallah gak kecewa,” ia sadar promosi.

Dari sejumlah varian menu yang telah ia kuasai cara membuatnya, Lia khusus menawarkan paket dimsum frozen. Yakni, varian dimsum siomay daging ayam, siomay udang, dan siomay ikan.

“Itu favorit, paling sering dipesan. Diluar ongkos kirim, aku nawarin paket Rp100 ribu untuk 33 porsi, Rp150 ribu untuk 50 porsi, Rp200 ribu untuk 66 porsi, dan Rp300 ribu untuk 100 porsi,” terang ibu hijabers ini.

Harga? “Dari pertama kali buka gak naik turun tetap Rp3 ribu satu porsi. Sambal buatanku tetap aja nendang di lidah, kena di hati,” ia merinci, bocoran cita rasa unik produknya pun ia beri.

Pemesan juga bisa memilih beberapa paket sekaligus, imbuhnya. “Buat stok Lebaran juga bisa. Praktis kok, tinggal masuk freezer, pas sahur, buka puasa lapar perut lapar mata tinggal kukus 12 menit kelar,” ia berbagi tips pula.

Menggeluti bisnis hampir lima tahun, pelanggan setia dimsumnya lumayan. Bukan saja para ‘dimsumania’ dari luar Bandarlampung, seperti Semarang, Palembang, Jakarta, dan Bandung, pelanggan korporasi pun ada juga.

“Inshaallah pesan lagi, dan lagi. Prinsip jualanku simpel aja. Higienis, halal, dan maknyus rasanya. Pokoknya, duh gusti endul takendul-kendul deh hahaha,” ia renyah tertawa. Ngakak.

“Heboh corona, saya jualan masker nonmedis juga lho,” sarjana S1 Sistem Informasi Fakultas Komputer (Fikom) Universitas Bandar Lampung angkatan 2001 ini, tak bisa dipancing rupanya.

Penasaran? “Langsung kepoin aja di Instagram @dimsumliaha, Facebook Messenger saya Amalia Fitriani, atau chat WhatsApp saya 1 kali 24 jam di nomor 082116335183. Met berpuasa bagi semua yang menjalankannya. Ditunggu ya orderannya,” pungkas Lia. [Muzzamil] (R)

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

Baca Juga

Organisasi Pers Desak Kapekon Sukaraja Minta Maaf, Atau Mundur!

 Dugaan pelecehan terhadap media online oleh Boymin selaku Kepala Pekon (Kapekon) Sukaraja Kecamatan Semaka, menuai kecaman beberapa organisasi...

“Garang” Di Medsos, Abu Janda Tak Muncul Dipanggil Bareskrim

Permadi Arya atau Abu Janda mungkin hanya kelihatan garang di sosial media. Dipanggil Bareskrim Polri terkait ujaran kebencian dan penistaan agama, batang hidungnya tak...

Rumah Ibadah Boleh Dibuka Di Masa New Normal Versi Kemenag

 Rencana pemerintah pusat untuk mengembalikan aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat kembali normal dalam bingkai tatanan kehidupan baru atau...

New Normal Atau Norma Baru?

Oleh Dr. Andi Desfiandi, SE,. MA PEMERINTAH merencanakan penerapan new normal atau "kenormalan baru", yakni "pelonggaran" daerah zona hijau dengan tetap menjalankan protokol kesehatan. Secara bertahap...
Translate »