Direktur Teknik dan Lingkungan Mineral dan Batubara Sri Raharjo, M.Eng.Sc

Sudah sepekan, Direktur Teknik dan Lingkungan Mineral dan Batubara Sri Raharjo, M.Eng.Sc belum memeroleh report tewasnya pekerja di PT Bukit Asam (PTBA), Sumatera Selatan.

“Saya belum dilapori hasil investigasinya,” tandas direktur di Dirjen Minerba Kementrian ESDM tersebut kepada Kantor Berita RMOLLampung, Sabtu (1/2).

Dia meminta Kantor Berita RMOLLampung untuk memeroleh informasi perkembangan kasus kecelakaan kerja tersebut kepada Kepala Teknik Tambang (KTT) PT Bukit Asam Suhedi.

“Bisa langsung ke Bapak Suhedi, KTT Bukit Asam,” ujarnya sambil menjelaskan bahwa posisinya masih ada di luar kota.

Senin lalu (27/1), seorang pekerja tewas dan dua luka akibat kecelakaan kerja tambang batu bara di PT Bukit Asam (Persero) Tbk, Tanjungenim, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan.

Tepatnya, ketiga korban perusahaan PT Permata Enim Lestari (PEL) itu mengalami kecelakaan kerja di Area Belt Conveyor TLS 3 Tambang IUP Bangko Barat PT Bukit Asam.

Kepala Teknik Tambang (KTT) PT Bukit Asam Suhedi membenarkan terjadinya kecelakaan kerja tiga hari lalu, Senin, 27 Januari 2020, pukul 11.30 WIB.

“Benar telah terjadi kecelakaan tambang yang menewaskan Hartono, 39 tahun, tanggal 27 Januari 2020, pukul 11.30 WIB,” ujarnya kepada Kantor Berita RMOLLampung, Rabu (29/1).

Dia mengatakan peristiwa tersebut telah dilaporkan kepada Kepala Inspektur Tambang ESDM. “Saat ini sedang dilakukan investigasi,” ujarnya.

General Manager PT PEL Isparudin tak menjawab ketika dikonfirmasi Kantor Berita RMOLLampung tentang kecelakaan kerja tersebut.

Tiga tahun lalu, kecelakaan kerja menimpa karyawan outsorching PT Bukit Asam Haryadi (40) saat membersihkan vibrating feeder dumphopper atau mesin penghancur batubara di TLS 3 Banko Barat.

Awal tahun 2015, Alimin, pemandu bucket wheel excavator (BWE) tewas tertimbun curahan batubara saat sedang memandunya di Muara Tiga Besar Utama (MTBU) PT Bukit Asam.

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here