Sebanyak 42 lintas profesi dan generasi berbaur dan mendaur ego komunitasnya untuk bersama menabuh genderang perang terhadap sampah pesisir Kota Bandarlampung (Balam).

Tanpa banyak babibu, meski baru bertemu, mereka langsung merumuskan program kerja di kedai kopi bergaya street art cafe, Kopi Pai, Jl Juanda 8, Rawalaut, Enggal, Kota Bandarlampung, Sabtu petang (15/02).

Dalam gerakan bertajuk Retorika Sampah, 42 komunitas menyatakan siap berkolaborasi untuk aksi bersama memerangi sampah kawasan pesisir Kota Tapis Berseri Bandarlampung.

Dipandu sang inisiator, jurnalis foto yang kini bekerja untuk AFP, Ferdiansyah atau tenar disapa Ferdy Awed, sratusan orang yang dua pertiganya kaum milenial sepakat membentuk empat divisi.

Para anak muda antusias melebur dan mendaur ego komunitas untun bersama memerangi sampah pesisir Kota Bandarlampung/Foto Muzzamil.

Keempat devisi, yaitu Divisi Aksi dikoordinir Komunitas Grafiti Lampung Street Art, Divisi Edukasi dipimpin founder Imkobal (Ikatan Muli Mekhanai Kota Bandarlampung) Indra Pradnya dan Ketua Seniman Lampung Peduli/SELPI dr Aldo Aprizo, Divisi Eksekusi serta Divisi Publikasi dipimpin jurnalis MetroTV, Imam Setiawan.

Masing-masing divisi merumuskan program dan agenda kegiatan berdasar masukan utusan hadirin komunitas. Sejurus, keempat divisi bergegas berbagi tugas.

Usai foto bareng, satu demi satu yang hadir pun meninggalkan lokasi, ringan nafas.

Selain itu, beberapa simpulan forum antara lain sepakat tetap menggunakan Retorika Sampah sebagai identitas gerakan, kesatuan gerak sosialisasi dan publikasi agenda di media massa dan media sosial, penyusunan program kerja divisi ber-timeline ketat dan kejelasan penanggung jawab per agenda.

sebanyak 42 komunitas bertemu dan sepakat membuat empat divisi perang terhadap sampai pesisir Bandarlampung/Foto Muzzamil

Yang menarik, gerakan ini juga tak luput menyasar segmen sampah rumah tangga, dengan sejurus solusi persoalan di tingkat hulu dengan rencana pelibatan aktif warga di setiap jejak penanggulangan nantinya.

Saat sesi diskusi, ketua komunitas Seniman Lampung Pedul/SELPI dr Aldo Aprizo misal, menyatakan semua komunitas hadir tentu punya program masing-masing yang sudah bagus.

“Sekarang tinggal bergerak, tentukan koordinator. Kami seniman, juga relawan kesehatan, saya sendiri dokter, siap,” ujarnya.

Stefani, pelajar SMA, lantang mengingatkan pentingnya isu lestari zero waste, kampanye kurangi penggunaan plastik kemasan dan gerakan antisampah plastik.

Sementara, founder Ikatan Muli Mekhanai Kota Bandarlampung/Imkobal, Indra menekankan kontribusi seluruh komunitas sekecil apapun bisa langsung dicurahkan dalam gerakan Retorika Sampah.

Para muli tak mau ketinggalan, mereka ikut berbaur dan melebur untuk memerangi sampah pesisir Kota Bandarlampung/Foto Muzzamil.

“Sesuai bidang masing-masing,” lugasnya.

Ditambahkannya, “Saya siap kerahkan model Imkobal untuk talent foto. Misal nanti teman muli (model perempuan, red) berfoto ironik, mengambi latar pantai kumuh dan penuh sampah, untuk edukasi kepada masyarakat.”

Menimpali satu peserta yang bicara bahwa gerakan juga perlu menekankan pentingnya budaya mendaur ulang sampah, peserta lain menyinggung sejauh mana penerapan Perda Kota Bandarlampung Nomor 6/2015 tentang Pengelolaan Sampah.

Terutama, soal perda tersebut, dalam hal peningkatan kesadaran warga masyarakat termasuk penduduk kawasan pesisir akan budaya sadar sampah.

Seorang lainnya, dari Almisbat Lampung memberi masukan soal kebutuhan kesatuan gerak program aksi, pendidikan, dan bacaan dalam lingkup gerakan ini.

“Poin saya, dalam melakukan penyadaran harus didukung upaya literasi,” kata wakil Almisbat kepada Muzzamil, kontributor Kantor Berita RMOLLampung.

Ke depan, dari simpulan tiga divisi, program gerakan Retorika Sampah itu akan menyasar banyak target capaian.

Seperti diungkapkan jurnalis Imam Setiawan, dalam amatannya sejauh ini baru Retorika Sampah ini yang berhasil menghimpun satu kekuatan besar terkait kepedulian sosial akan sampah.

Ferdy Awed, dalam pengantarnya merujuk gerakan Retorika Sampah merupakan satu interpretasi gerakan kepedulian persoalan sampah di kawasan pesisir Lampung yang karut marut, menumpuk tak terurus, juga tersingkirkan.

Ia pun menjelaskan kedalaman makna dari Berbaur, Berdaur, tajuk unik gerakan. “Slogan Berbaur, Berdaur sekaligus wujud upaya gerakan ini untuk bisa bersinergi dengan rekan-rekan lain,” terang Ferdy, mengimbukan pointers perwujudan visual dan motorik dari diskusi pertemuan pertama itu.

Berbaur, gerakan ini terbuka untuk siapa saja (dari latar belakang apapun) yang konsen terhadap masalah sampah/sanitasi/pesisir/lingkungan dan turunannya untuk bisa berkolaborasi dan menuangkan ide serta opininya di Retorika Sampah.

“Berdaur. Realisasi dari #pertemuanpertama Berbaur sebelumnya soal agenda kegiatan yang telah disepakati untuk membangun awareness terkait permasalahan yang dibahas, sesuai dengan ketertarikan atau minat atau passion-nya,” kata dia.

Pantauan, tak banyak yang menyadari atas kehadiran spontan Rektor IIB Darmajaya Firmansyah Yunialfi Alfian didampingi oleh Wakil Rektor IV Prof Dr Bustomi Rosyadi, yang hadir menyemangati anak didiknya dari UKM Mapala Artala IIB Darmajaya, satu dari komunitas tergabung.

Meski tak ada konferensi pers, pantauan sepanjang jalannya acara tersebut cukup menjelaskan keinginan, kemauan, dan gelora kepedulian mayoritas generasi milenial warga komunitas tergabung, untuk serius turut berpartisipasi dalam gerakan sosial penanggulangan sampah kawasan pesisir khususnya di wilayah Kota Bandarlampung.

Jika pembaca penasaran dengan pengantar dan komunitas gerakan ini, simak tautannya, https://rmollampung.id/berbaur-dan-berdaur-retorika-sampah-pesisir-balam.

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here