23.8 C
Bandar Lampung
Minggu 31 Mei, 2020 04:34 WIB
Beranda OPINI Selamat Datang Di Negeri "Ramah" Corona

Selamat Datang Di Negeri “Ramah” Corona

Oleh Dr. Andi Desfiandi, MA*

COVID-19 sepertinya bakal betah berlama lama bersemayam di negeri kita tercinta sejak pertama kali diumumkan secara resmi oleh pemerintah pada tanggal 2 maret 2020.

Warga terpapar virus corona berdasarkan data resmi yang dirilis oleh pemerintah hingga saat ini masih terus meningkat, walaupun landai, hari ini, Kamis (14/5), mencapai 16.006 kasus positif.

Rekor tertinggi warga yang positif per hari terjadi sebanyak 689 kasus kemarin dan hari ini menurun menjadi 568 kasus positif.

Mari kita terbang bersama Covid-19/Ist

Kalau melihat data yang ada patut diduga bahwa kasus Covid-19 belum mencapai puncaknya karena statistik kenaikan kasus positif masih landai dan entah kapan mencapai puncaknya dan kemudian grafiknya akan menurun dengan cepat (berdasarkan pengalaman di negara2 lain yang sudah mencapai puncaknya).

Sebagai tambahan informasi bahwa pasien yang dinyatakan positif Covid-19 adalah pasien yang sudah menjalani test swab melalui alat uji PCR dan bukan dari hasil rapid test.

Selama ini, Indonesia kekurangan lab PCR sehingga spesimen yang diuji mengalani antrean yang panjang dan bisa memakan waktu antara 5-7 hari untuk mendapatkan hasilnya, sehingga patut diduga kelandaian data yang positif akibat keterlambatan hasil tes PCR dan masih sedikitnya spesimen yang diuji.

Selamat datang di negeri “ramah” Covid-19/Ist

Pemerintah sudah menargetkan untuk menyiapkan alat tes PCR yang paling canggih dengan kemampuan menguji hingga sebanyak 1000 spesimen per hari per PCR dengan hasilnya keluar dalam 2 jam dan menargetkan untuk bisa menguji setidaknya 300.000 spesimen per bulan.

Sampai tanggal 4 Mei 2020, Indonesia baru melakukan uji swab dengan PCR sebanyak 86.000 pasien dengan rasio yang positif 13.5%.

Bayangkan apabila yang dites 300.000 orang maka ada kemungkinan yang positif melonjak menjadi 40.500 orang dengan asumsi rasionya sama.

Bagaimana kalau yang diuji 1 juta atau 10 juta orang ? Wallahualam.

Negeri “ramah” Covid-19/Ist

Pemerintah sudah melakukan berbagai cara untuk memutus mata rantai virus tersebut dengan mengeluarkan berbagai kebijakan seperti PSBB, refocusing anggaran, jaring pengaman sosial, ketahanan ekonomi domestik dan UMKM, relaksasi pajak, relaksasi kredit dll termasuk terakhir larangan mudik.

Namun sayangnya setelah Pakenhub sembuh dari Covid-19, beliau malah mengeluarkan kebijakan yang bertolak belakang dengan melonggarkan aturan mudik dan juga moda transportasi.

Kebijakan kontroversial tersebut tentunya sangat bertolak belakang dengan kebijakan yang dikeluarkan oleh Gugus Tugas Pencegahan Covid-19 yang melarang mudik termasuk moda transportasi khususnya di daerah PSBB.

Seperti biasa kebijakan tersebut ditanggapi beragam, ada yang pro dan kontra, karena setiap kebijakan apapun juga dan oleh siapapun juga selalu mengundang pro dan kontra.

Tapi, untuk kebijakan tersebut, sudah dipastikan akan membuat kehebohan dan kebingungan baik masyarakat yang memang ingin mudik maupun yang tidak termasuk juga petugas dan aparat di lapangan.

Maka tidak heran kalau kemudian bandara, dermaga/pelabuhan dan juga angkutan darat tiba-tiba dipenuhi oleh calon penumpang yang suka cita ingin mudik, dan kemudian membuat pengaturan penumpang menjadi kacau balau.

Walaupun ada persyaratan bahwa yang mudik harus menyertakan surat sehat hasil rapid test dan juga surat tugas atau surat PHK tapi tetap saja sangat mudah didapatkan dengan segala cara.

Bahkan, petugas yang melakukan verifikasi atas dokumen-dokumen tersebut akan kewalahan dan sulit untuk meyakinkan bahwa dokumen yang disodorkan asli atau palsu.

Saya mendapatkan beberapa foto dan video bagaimana suasana di bandara dan dermaga yang penuh sesak calon penumpang yg berdesakan tanpa mematuhi protokol kesehatan.

Tampak pula, bagaimana para petugas kewalahan mengatur dan juga melakukan pengecekan dokumen-dokumen yang harus ditunjukkan ke petugas.

Terus terang melihat hal tersebut membuat sebagian besar masyarakat menjadi takut dan juga marah.

Sementara kita selama ini patuh dan tetap di rumah, tidak pernah bepergian rumah apalagi keluar kota

Sementara, kita disajikan tontotan begitu banyaknya calon penumpang yang akan mendatangi daerah kita, tanpa tau apakah mereka sehat atau pembawa virus, ke lingkungan kita ?.

Kalau melihat fenomena-fonomena tersebut maka saya punya keyakinan bahwa apabila 20 PCR baru yang canggih sudah bisa digunakan secara optimal dan target pemerintah tercapai dengan memiliki 62 lab PCR di seluruh Indonesia  maka lonjakan pasien Covid-19 akan naik secara tajam dalam beberapa hari kedepan.

Pertanyaannya, apakah ini juga secara sengaja dilakukan agar Indonesia segera mencapai puncak pandemi atau juga untuk segera mengalami fase ” Herd Immunity ” ? Wallahulam.

Namun apapun dan bagaimanapun juga baik pemerintah maupun masyarakat harus memahami bahwa nyawa manusia lebih berharga dari apapun juga, dan jangan sampai kemudian terjadi “Survival of the Fittest” dimana hukum alam terjadi yang selamat dari wabah adalah calon2 pewaris peradaban baru.

Kita memang harus bersiap terhadap kemungkinan paling buruk dimana virus covid-19 ini masih berlangsung lama hingga obat maupun vaksinnya ditemukan, bahkan kemungkinan besar virus ini bermutasi kembali sehingga tidak akan ada vaksin atau obat yang ampuh untuk melenyapkan virus tsb.

Sama halnya dengan virus Flu sejak berabad yang lalu terus bermutasi menjadi beragam jenis flu termasuk juga covid-19 ini yang konon merupakan mutasi dari virus SARS COV-2.

Mau tidak mau kita semua harus disiplin dengan pola hidup baru tapi juga bersiap untuk berdaptasi berdamai dengan virus tsb dengan tetap disiplin menjalani protokol kesehatan, karena barangkali itu akan menjadi salah satu gaya hidup baru kita di era “Tatanan Dunia Baru” kelak…
Wallahualam.***

(*) Ketua Bidang Ekonomi DPP Pejuang Bravo Lima, Ketua Yayasan Alfian Husin, Ketua Lembaga Perekonomian NU Lampung

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

Baca Juga

Tujuh Jurus UMKM Lolos Dari Pusaran Pandemi Covid-19

Oleh Andi Desfiandi* HANYA ada dua skenario ekonomi Indonesia bahkan dunia saat prahara pandemi Covid-19 ini , yaitu skenario buruk dan sangat buruk bahkan kolaps. Sangat...

Empat Strategi Siapkan Ketahanan Pangan Dari Turbulensi Covid-19

Oleh Dr. Andi Desfiandi, MA* WALAU baru berjalan empat bulan melanda dunia dan baru dua bulan menyusup ke Indonesia, pandemi Covid-19 telah dan bakal terus...
Translate »