Sekdaprov Lampung Fahrizal Darminto “diam-diam” ikut  (fit end propertest)  calon direksi baru Bank Lampung, pekan lalu.

Dia dikabarkan akan menduduki posisi komisaris utama sebagai wakil pemerintah, pemegang saham terbesar di Bank Lampung.

Selain Fahrizal, OJK juga menerima lamaran empat calon direksi lainnya, yakni Amsir Ansori, Mahdi Yusuf, Muhammad Riza, dan Ahmad Zahri.

Mereka juga konon posisinya telah diplot, yakni Amsir Ansori dan Mahdi Yusuf bakal diposisi direktur kepatuhan.

Sedangkan dua calon lagi, Muhammad Riza dan Ahmad Zahri dikabarkan sebagai calon direktur operasional.

“Minggu ini sudah ada pengumuman,” kata seorang sumber Kantor Berita RMOLLampung, Selasa (25/2).

Pelaksanaan fit and proper test pada seleksi jajaran direksi Bank Lampung berlangsung hari mulai 19-20 Februari 2020

Para calon pengurus Bank Lampung itu, nantinya masih akan mengikuti tes lanjutan di kantor OJK Jakarta.

Sekurang-kurangnya 180 berikutnya, harus sudah dilakukan pengangkatan. “Karena kalau tidak nanti keputusan tersebut sama saja hangus,” imbuh sumber tadi.

Penunjukan Fahrizal Darminto sebagai calon Komisaris Utama tidak menyalahi aturan, karena saham terbesar di Bank Lampung merupakan Pemprov Lampung.

Fungsi Fahrizal sebagai pengawas dan mewakili pemegang saham terbesar.

Isu Bangkrut

Awal Januari 2020 lalu, Bank Lampung sempat terkena isu bangkrut, meskipun dibantah pihak Bank Lampung.

“Kinerja Bank Lampung justru menunjukkan pertumbuhan yang positif,” kata Eria Desamsoni, dirut Bank Lampung, Senin (10/2).

Pertumbuhan positif terjadi pada tahun 2019.

Laba bersih sebesar Rp 149.779.984.571 atau tumbuh 12 persen persen year on year (YOY).

Total aset yang dibukukan sebesar Rp 7.972.989.597.860 dari semula Rp 7.348.167.382.969 atau tumbuh 8,50 persen persen.

Demikian juga dana Pihak ketiga (DPK)–berhasil dihimpun sebesar Rp 5.765.034.042.083– mengalami pertumbuhan 24,49 persen YOY.

Ketua Panitia Khusus Bank Lampung dari DPRD Lampung Watoni Noerdin mengatakan penjelasan Bank Lampung harus dikonfrontasi dengan berbagai pihak.

BPK harus bersuara terkait hasil audit keuangan Bank Lampung, terutama kucuran kredit tanpa prinsip kehati-hatian, yang dikhawatirkan terjadi kredit macet.

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here