23.8 C
Bandar Lampung
Jumat 7 Agustus, 2020 04:23 WIB
Beranda PERISTIWA Sastrawan Dan Budayawan Ajib Rosidi Meninggal Dunia

Sastrawan Dan Budayawan Ajib Rosidi Meninggal Dunia

Kabar duka kembali datang dari dunia sastra Indonesia. Kali ini, sastrawan dan budayawan Ajip Rosidi (82), Rabu (29/7), pukul 22.20 WIB.

Sastrawan yang lahir di Jatiwangi, Cirebon,  31 Januari 1938 menghempuskan napas terakhirnya di RSUD Tidar, Magelang sejak 23 Juli 2020.Dia dirawat di RSUD Tidar karena sakit akibat terjatuh di rumah anaknya di Pabelan, Kabupaten Magelang.

Berita duka ini diunggah Hawe Setiawan, dosen serta redaktur Majalah Sunda Cupumanik melalui Instagram pribadinya @hw_setiawan.

Magister Seni Rupa Institut Teknologi Bandung itu pun memberikan kabar duka soal kepergian sastrawan asal Jawa Barat itu.

“Warta sungkawa, telah wafat: sastrawan, budayawan, Kang Ajip Rosidi, malam ini Rabu, 29 Juli 2020 sekitar pukul 22.20 WIB di Rumah Sakit TIDAR, Magelang. Inna lillahi wa inna ilahi rojiun,” tulis @hw_setiawan.

Ajip Rosidi adalah sastrawan, budayawan, dosen, dan redaktur penerbit serta pendiri dan Ketua Yayasan Kebudayaan Rancage.

Ketika usia Ajip Rosidi dua tahun, kedua orang tuanya berpisah sehingga diasuh oleh neneknya (dari pihak ibu), kemudian oleh pamannya (dari pihak bapak) yang bermukim di Jakarta.

Pada saat itu, kehidupannya sangat sederhana, bahkan boleh dibilang kurang. Namun, hal itu merupakan cambuk bagi dirinya untuk memperbaiki kehidupan.

Ia berhasil mengembangkan kariernya di bidang sastra, baik sastra Indonesia maupun sastra Sunda, di bidang penerbitan, dan di bidang pengetahuan Bahasa Indonesia. 

Ketika berusia tujuh belas tahun, ia menikah dengan Patimah. Dari pernikahan itu, mereka dikaruniai enam orang anak.

Ajip Rosidi mengawali pendidikan dasarnya di Jatiwangi, kemudian melanjutkan pendidikannya ke SMP di Majalengka, Bandung, dan Jakarta.

Selanjutnya, ia menempuh pendidikan SMA di Jakarta yang berpindah-pindah dari SMA Jalan Batu bagian B (waktu belajarnya pagi hari) ke SMA Budi Utomo (waktu belajarnya sore hari), kemudian pindah ke Taman Siswa.

Namun, ia tidak mengikuti ujian akhir SMA. Hal itu sengaja dilakukannya karena ia ingin membuktikan bahwa tanpa ijazah pun orang dapat hidup.

Kariernya di bidang sastra dimulai sejak ia bersekolah di sekolah dasar. Kelas enam SD dia sudah menulis dan tulisannya dimuat dalam Surat Kabar Indonesia Raya.

Ketika ia berusia empat belas tahun, karyanya dimuat dalam Majalah Mimbar Indonesia, Siasat, Gelanggang, dan Keboedajaan Indonesia.

Ajip Rosidi menulis puisi, cerita pendek, novel, drama, terjemahan, saduran, kritik, esai, dan buku yang erat kaitannya dengan bidang ilmu yang dikuasainya, baik dalam bahasa daerah maupun Bahasa Indonesia.

Karya kreatifnya ditulis terutama pada periode 1953—1960. H.B. Jassin menggolongkannya ke dalam kelompok Angkatan 66.

Pada usia  15 tahun (SMP) Ajip Rosidi menjadi pengasuh Majalah Soeloleh Peladja,  kemudian  usia 17 tahun dia menjadi redaktur Majalah Prosa.

Tahun 1964—1970, dia menjadi  redaktur penerbit Tjupumanik. Tahun 1968—1979 ia menjadi redaktur Budaya Jawa  dan tahun      1966—1975 menjabat Ketua Paguyuban Pengarang Sastra Sunda dan memimpin penelitian pantun dan folklore Sunda.

Tahun 1967, ia menjadi dosen di Universitas Padjajaran dan tahun   1965—1968 menjabat direktur Penerbit Duta Rakyat. Pada tahun 1971—1981 ia memimpin Penerbit Dunia Pustaka Jaya.

Selain itu, tahun 1973—1979 ia juga memimpin Ikatan Penerbit Indonesia. Tahun 1973—1981 ia juga terpilih sebagai Ketua Dewan Kesenian Jakarta, bahkan pernah mendapat kesempatan sebagai anggota staf ahli Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tahun 1978—1980.

Setelah berkecimpung dalam dunia seni dan penerbitan di Indonesia,  Ajip mengembangkan  ilmu pengetahuannya di Jepang (1980).

Di Jepang, ia diangkat sebagai guru besar tamu di Osaka Gaikokugo Daigaku (Universitas Bahasa-Bahasa Asing Osaka), guru besar luar biasa di Kyoto Sangyo Daigaku (Universitas Industri Kyoto), di Tenri Daigaku (Universitas Tenri), dan di Osaka Gaidai (Osaka university of Foreign Studies).

Sejak tahun 1989, Ajip memberikan Hadiah Sastra Rancage kepada sastrawan atau budayawan daerah yang berjasa dalam bidang sastra dan budaya daerah, khususnya Sunda dan Jawa.

Hal itu menunjukkan bahwa ia mampu mengembangkan kreativitasnya tanpa berhenti. Bersama beberapa sastrawan dan budayawan Sunda Ajip berhasil menyusun Ensiklopedi Kebudayaan Sunda yang diterbitkan 2001.

Diolah dari sumber Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. © Badan Bahasa, Kemdikbud.

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

Baca Juga

Tokoh Pemekaran Tuba, Rukhyat Kesumayuda Tutup Usia

Kabar duka cita datang dari keluarga besar salah satu tokoh adat/masyarakat adat Lampung, terutama di wilayah hukum adat tiga kabupaten: Tulangbawang (Tuba), Tuba Barat...

Komedian Betawi Omas Meninggal Dunia

Kabar duka kembali menyelimuti dunia hiburan khususnya komedi. Komedian Betawi Omas meninggal dunia di rumah sakit di Jakarta, Kamis (16/7). Omas meninggal dalam usia 54...

Adik Ipar SBY, Jenderal (Purn) Pramono Edhie Wibowo Meninggal

Mantan Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal (Purn) Pramono Edhie Wibowo dinyatakan wafat usai mengidap penyakit yang dideritanya. Adik Ipar dari mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono...

Obituari Syafrin Romas: Kebenaran Tak Bisa Divoting

Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Rajiun. Lagi, kabar duka cita datang dari salah satu tokoh Lampung. Jumat (12/6) petang, 11 hari jelang memasuki usianya yang...
Translate »