23.8 C
Bandar Lampung
Minggu 31 Mei, 2020 04:54 WIB
Beranda OPINI Saat Pasukan Tengah Bertempur Di Medan Covid-19, Sang Presiden Ngajak Damai

Saat Pasukan Tengah Bertempur Di Medan Covid-19, Sang Presiden Ngajak Damai

Oleh Hersubeno Arief

PRESIDEN Jokowi mengajak rakyat Indonesia hidup berdamai dengan corona. Realitas itu harus kita terima sampai vaksin virus “made in China” itu ditemukan.

“Ada kemungkinan masih bisa naik lagi, atau turun lagi, naik sedikit lagi, dan turun lagi, dan seterusnya. Artinya, sampai ditemukannya vaksin yang efektif, kita harus hidup berdamai dengan Covid-19 untuk beberapa waktu ke depan,” ujar Jokowi lewat saluran YouTube Setpres, Minggu (7/5).

Ajakan Jokowi membuat banyak orang terperangah. Apa maksudnya. Apakah pemerintah sudah mengibarkan bendera putih?

Membuat deklarasi menyerah kalah dan menyadari tak akan mampu “mengalahkan” corona?

Pernyataan Jokowi ini jelas memberi pesan negatif. Sebagai presiden yang mengaku memimpin langsung perang melawan corona, pernyataan itu bisa menimbulkan demoralisasi.

Pasukan bisa kocar-kacir. Rakyat hanya bisa pasrah. Lha kalau panglima perangnya sudah mengajak damai, apalagi yang bisa dilakukan. Tinggal ramai-ramai kibarkan bendera putih. Pasrah pada nasib.

Dunia juga menangkap pesan yang sama. Indonesia sudah menyerah. Padahal ketika bicara dalam KTT para pemimpin negara anggota G-20, Jokowi menyampaikan pidato yang sangat gagah perkasa.

Dia mengajak para pemimpin negara G-20 memerangi Corona dan pelemahan ekonomi dunia.

Rasa frustrasi

Ajakan Jokowi berdamai itu sangat bertentangan dengan berbagai optimisme yang selama ini ditebar pemerintah.

Akhir April lalu Kepala Gugus Tugas Covid-19 Doni Monardo menyampaikan kabar baik.

Khusus wilayah Jakarta yang menjadi episentrum dan awal penyebaran Corona, kasus positif sudah menurun sangat pesat. Bahkan sudah flat.

Doni menyebut pelaksanaan PSBB menjadi kunci keberhasilan menekan penyebaran Corona di Jakarta.

Dengan data itu, kata Doni, Presiden Jokowi berharap rakyat lebih patuh. Sehingga pada awal Juli kehidupan sudah bisa normal lagi.

Optimisme juga disampaikan sejumlah pejabat pemerintah. Menko Maritim Luhut Panjaitan berharap pada hari raya tempat hiburan seperti Ancol sudah dapat dibuka.

Sejumlah langkah diambil pemerintah. Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyarankan adanya pelonggaran aturan mudik lebaran.

Menhub Budi Karya Sumadi kemudian mengumumkan pelonggaran berbagai moda transportasi publik. Pengumuman itu diartikan warga bisa menggunakan transportasi publik untuk mudik.

Tapi pengumuman itu segera diluruskan oleh Doni Monardo. Staf Anggota KSP Donny Gahrial Adian juga ikut-ikutan meluruskan. Mudik tetap dilarang.

Rupanya situasi sesungguhnya tidak seindah yang digambarkan. Signal itu dapat ditangkap dari permintaan Presiden kepada para pembantunya. Mulai bulan Mei kurva corona harus diturunkan.

“Target kita di bulan Mei ini harus betul-betul tercapai sesuai dengan target yang kita berikan, yaitu kurvanya sudah harus turun. Dan masuk pada posisi sedang di Juni, di bulan Juli harus masuk posisi ringan. Dengan cara apa pun,” ujarnya dalam sidang kabinet.

Dari cara Presiden menyampaikan, terkesan ada nada frustrasi. Kalimat “dengan cara apapun,” mengingatkan kita pada kosa kata yang sering digunakan Jokowi, “pokoknya!”

Hanya saja nada dan maknanya berbeda. Kata “pokoknya” menunjukkan Jokowi punya power, dan perintahnya harus dilaksanakan.

“Dengan cara apapun” menunjukkan dia frustrasi dan tidak tahu bagaimana caranya.

Tak lama setelah itu muncul lah ajakan Jokowi untuk “Hidup berdamai dengan corona.”

Istana kemudian terburu-buru memberi penjelasan. “Artinya jangan kita menyerah. Hidup berdamai itu penyesuaian baru dalam kehidupan,” kata Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden Bey Machmudin.

Penjelasan Istana tampaknya tak mampu mengubah kesan yang ditangkap publik. Persepsi telah terbentuk.

Sejak awal rakyat sudah menyadari pemerintah kedodoran dan tak mampu menangani Covid-19. Mereka telah lebih dulu berdamai dengan realitas itu.

Secara psikologis, berubahnya sikap Jokowi dari semula menantang perang dan kemudian berubah mengajak damai, bisa didekati dengan teori “Five Stages of Grief” yang dikembangkan Elisabeth Kubler-Ross.

Dalam bukunya berjudul On Death and Dying (1969) Kubler-Ros, ada lima tahapan ketika seseorang mengalami duka nestapa.

Penolakan ( denial) dan menarik diri, marah (anger ), penawaran (bergaining), depresi (depression), dan penerimaan (acceptance).

Coba perhatikan ketika wabah corona merebak, Jokowi dan para pejabat tinggi lainnya mati-matian menolak dan meremehkan. Mereka yakin Indonesia tidak akan terjangkit.

Tahap berikutnya marah, mengajak perang, minta kurva diturunkan apa pun caranya. Setelah itu menerima realita dan mengajak berdamai.

Sebagai Presiden, Jokowi juga manusia biasa. Dia juga bisa mengalami tekanan psikologis seperti itu.

Tapi karena Jokowi seorang Presiden dia tentu tetap punya strategi.

Dia tampaknya mencoba menerapkan sebuah peribahasa yang sangat terkenal: If you can’t beat them, join them.

Kalau kamu tidak bisa mengalahkannya, bergabunglah dengan musuhmu!

Masalahnya kan, kita tidak mungkin bergabung dengan corona? Satu-satunya cara ya berdamai.

Bagaimana caranya?

Pokoknya dengan cara apapun. Itu bukan urusan saya! end

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

Baca Juga

Organisasi Pers Desak Kapekon Sukaraja Minta Maaf, Atau Mundur!

 Dugaan pelecehan terhadap media online oleh Boymin selaku Kepala Pekon (Kapekon) Sukaraja Kecamatan Semaka, menuai kecaman beberapa organisasi...

“Garang” Di Medsos, Abu Janda Tak Muncul Dipanggil Bareskrim

Permadi Arya atau Abu Janda mungkin hanya kelihatan garang di sosial media. Dipanggil Bareskrim Polri terkait ujaran kebencian dan penistaan agama, batang hidungnya tak...

Rumah Ibadah Boleh Dibuka Di Masa New Normal Versi Kemenag

 Rencana pemerintah pusat untuk mengembalikan aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat kembali normal dalam bingkai tatanan kehidupan baru atau...

New Normal Atau Norma Baru?

Oleh Dr. Andi Desfiandi, SE,. MA PEMERINTAH merencanakan penerapan new normal atau "kenormalan baru", yakni "pelonggaran" daerah zona hijau dengan tetap menjalankan protokol kesehatan. Secara bertahap...
Translate »