Nilai tukar Rupiah kembali tertekan terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) pada awal perdagangan November 2026. Kondisi ini terjadi meski harga minyak dunia mulai mengalami koreksi di tengah munculnya harapan meredanya konflik geopolitik di Timur Tengah.
Berdasarkan data Bloomberg, Senin 2 November 2026, Rupiah melemah 8 poin atau 0,04 persen ke level Rp18.155 per Dolar AS.
Di sisi lain, harga minyak mentah dunia justru bergerak turun lebih dari 1 persen pada awal pekan ini. Namun, koreksi tersebut belum mampu mengembalikan harga minyak ke bawah 100 Dolar AS per barel.
Mengutip data Reuters, minyak mentah Brent terkoreksi 1,59 Dolar AS atau 1,40 persen menjadi 111,84 Dolar AS per barel.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat turun 1,56 Dolar AS atau 1,50 persen ke level 102,56 Dolar AS per barel.
Koreksi harga minyak dipicu optimisme pasar terhadap peluang penyelesaian konflik Iran yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel.
Harapan tersebut muncul setelah adanya perkembangan pembicaraan diplomatik antara Iran dan Qatar yang dinilai berpotensi membuka jalan bagi penghentian perang.
Meski demikian, pelemahan Rupiah di tengah penurunan harga minyak menunjukkan bahwa sentimen pasar valuta asing masih menghadapi tekanan tersendiri di awal perdagangan November. 
