Rektor Institut Teknologi Sumatera (Itera), Prof. Dr. apt. Elfahmi, S.Si., M.Si., meraih penghargaan Applied Research and Industrial Impact Award dalam ajang Inovator Award yang diberikan Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Indonesia.
Penghargaan tersebut diberikan atas keberhasilannya mengembangkan riset terapan hingga menghasilkan produk bernilai ekonomi tinggi dan dapat dimanfaatkan industri.
Penghargaan diserahkan pada penutupan Danantara Technology Innovation Investment Forum (TIIF) 2026 di Jakarta, Rabu (28/10/2026). Penyerahan dilakukan oleh Chief Technology Officer (CTO) BPI Danantara, Ir. Sigit Puji Santosa, bersama Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Dr. Fauzan Adziman.
Capaian tersebut tidak terlepas dari kiprah Elfahmi dalam mengembangkan riset berbasis keanekaragaman hayati melalui Pusat Unggulan Iptek (PUI) Nutraceutical Institut Teknologi Bandung (ITB).
Penelitian yang dipimpinnya berfokus pada pengolahan bahan alam agar memiliki nilai tambah lebih tinggi. Sebab, sejumlah komoditas Indonesia selama ini masih dipasarkan dalam bentuk bahan mentah dengan harga relatif rendah, meskipun berpotensi diolah menjadi produk bernilai ekonomi besar.
Elfahmi mencontohkan, daun tanaman kering yang dijual untuk kebutuhan ekspor seharga 4 dolar AS per kilogram dapat diolah menjadi senyawa murni dengan nilai mencapai 2.500 dolar AS per kilogram.
Menurutnya, penguasaan teknologi pengolahan dan pemurnian berpotensi meningkatkan nilai ekonomi bahan alam hingga 500–1.000 kali lipat, bergantung pada jenis produk yang dihasilkan.
“Melalui penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, potensi tersebut dapat ditransformasikan menjadi produk inovatif yang memiliki daya saing dan nilai jual jauh lebih tinggi,” ujar Elfahmi.
Riset yang dikembangkan bersama timnya juga menghasilkan senyawa biomarker yang sebelumnya banyak diimpor untuk kebutuhan penelitian dan industri. Produk tersebut kini dapat diproduksi di dalam negeri melalui perusahaan rintisan berbasis teknologi hasil riset ITB, dengan Elfahmi sebagai peneliti utama.
“Keberhasilan ini menunjukkan bahwa riset perguruan tinggi tidak hanya dapat menghasilkan publikasi ilmiah, tetapi juga produk yang memiliki nilai komersial, memperkuat kemandirian teknologi, dan mengurangi ketergantungan terhadap impor,” katanya.
Bidik Hilirisasi Komoditas Unggulan Lampung
Pengalaman membawa hasil penelitian hingga tahap komersialisasi menjadi modal Elfahmi untuk memperkuat ekosistem inovasi di Itera. Ia mendorong penelitian kampus agar lebih dekat dengan kebutuhan industri dan mampu meningkatkan nilai tambah komoditas unggulan daerah.
Sejumlah komoditas yang menjadi perhatian antara lain singkong, nanas, dan tebu yang memiliki potensi untuk dikembangkan melalui penerapan teknologi.
Elfahmi juga mengajak para peneliti Itera agar tidak berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi menghasilkan inovasi yang dapat diterapkan serta memberikan manfaat bagi masyarakat dan dunia usaha.
“Itera memiliki peluang besar untuk mengambil peran strategis dalam transformasi kekayaan sumber daya alam menjadi produk bernilai tambah tinggi. Para peneliti harus terus meningkatkan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi agar hasil riset benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat dan perekonomian,” ujarnya.
Untuk mempercepat upaya tersebut, Itera didorong memperkuat kolaborasi riset dengan perguruan tinggi lain di Lampung, seperti Universitas Lampung (Unila), Politeknik Negeri Lampung (Polinela), UIN Raden Intan Lampung, Poltekkes, serta perguruan tinggi swasta.
Sinergi antarkampus diharapkan dapat mempercepat pengembangan teknologi berbasis potensi daerah sekaligus membuka peluang kerja sama yang lebih luas dengan industri.
“Transformasi sumber daya alam melalui riset dan inovasi membutuhkan kerja bersama. Itera siap berkolaborasi dengan perguruan tinggi, industri, dan berbagai pemangku kepentingan agar kekayaan hayati Indonesia dapat memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi bangsa,” kata Elfahmi.
Selain menerima penghargaan, Elfahmi juga menjadi pembicara dalam sesi paralel TIIF 2026 bersama perwakilan PT Indofarma dan guru besar Institut Pertanian Bogor (IPB).
Forum yang berlangsung pada 26–28 Oktober 2026 tersebut mempertemukan akademisi, peneliti, pelaku industri, BUMN, dan pakar internasional, termasuk penerima Hadiah Nobel, untuk membahas pengembangan teknologi dan inovasi. 
