Proyek penggantian Jembatan Way Kali Nuri di Tiyuh Gunung Katun, Kecamatan Tulang Bawang Udik, Kabupaten Tulang Bawang Barat (Tubaba), senilai Rp5,1 miliar, mendapat sorotan dari pihak konsultan pengawas.
Sorotan tersebut mencakup penggunaan material besi yang disebut tidak sesuai dengan material yang sebelumnya dinyatakan telah lulus uji laboratorium, serta progres pekerjaan yang dinilai lamban karena hingga kini pekerjaan belum memasuki tahap pengecoran.
Perwakilan konsultan pengawas, Agung, mengatakan hasil pengamatan di lapangan menunjukkan terdapat tiga merk besi yang digunakan dalam pekerjaan tersebut. Namun, menurut dia, material yang paling banyak terlihat di lokasi adalah merek MSI dan CBS.
Padahal, Agung menyebut material besi yang sebelumnya telah dinyatakan lulus uji laboratorium adalah merek LYS.
“Harusnya besi yang dipakai itu merk LYS karena yang sudah lulus uji laboratorium. Tetapi yang kami lihat di lapangan, besinya memakai tiga merek, kebanyakan MSI dan CBS,” kata Agung, Selasa, 22 September 2026.
Menurut Agung, persoalan tersebut tidak bisa dianggap sepele karena penggunaan material pada pekerjaan konstruksi harus mengacu pada spesifikasi teknis dan standar mutu yang telah ditetapkan dalam pekerjaan.
Terlebih, kata dia, pihak konsultan pengawas juga belum dapat melakukan pengujian beton karena pekerjaan pengecoran belum dilakukan.
“Kami mau uji beton saja belum bisa karena sampai sekarang belum ada pengecoran,” ujarnya.
Selain persoalan material, Agung juga menyoroti lambannya pekerjaan di lapangan. Ia mengatakan pihak pelaksana seharusnya segera melakukan pengecoran, terutama karena kondisi lubang pekerjaan terus dipenuhi air.
Menurutnya, penyedotan air dilakukan berulang kali, tetapi pekerjaan konstruksi yang ditunggu belum kunjung berjalan sebagaimana diharapkan.
“Yang ditakutkan kalau tidak secepatnya dicor, airnya akan naik terus. Kami lihat lubang cor itu naik terus, setiap hari dikuras, tetapi hasil pekerjaannya belum ada,” ungkapnya.
Agung mengaku telah menghubungi pihak pelaksana untuk mempertanyakan perkembangan pekerjaan. Namun, menurut dia, jawaban yang diterima masih sebatas janji bahwa pekerjaan akan dilakukan dalam waktu dekat.
“Saya sudah telepon. Jawabannya selalu minggu-minggu ini,” katanya.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena semakin lama pekerjaan tertunda, kondisi lapangan dapat semakin menyulitkan pelaksanaan konstruksi, khususnya apabila debit air terus meningkat.
Agung selanjutnya menjelaskan alasan pihaknya mempertanyakan penggunaan besi merk MSI dan CBS. Menurut dia, terdapat perbedaan hasil pengujian antara material besi yang digunakan dengan merk LYS yang sebelumnya disebut telah memenuhi pengujian.
Ia menyebut salah satu parameter yang menjadi perhatian adalah daya tarik hingga titik putus material.
“Perbedaan LYS dan MSI saat diuji laboratorium itu pada daya tarik putusnya. MSI tidak lulus uji laboratorium,” jelas Agung.
Selain hasil pengujian, Agung menyebut terdapat perbedaan kandungan material serta harga antara sejumlah merek besi tersebut.
Ia kemudian menduga pertimbangan harga menjadi salah satu alasan penggunaan material dengan merek berbeda.
“Perbedaannya pada kandungan bajanya dan selisih harga. Biasa pemborong mencari harga yang murah dan mencari untung banyak. Kalau mencari untung jangan terlalu besar,” ujarnya.
Namun, dugaan mengenai alasan penggunaan material tersebut masih merupakan pernyataan dari pihak konsultan pengawas dan perlu dikonfirmasi kepada penyedia jasa maupun instansi pemilik pekerjaan.
Kontrak Rp5,146 Miliar, Waktu Pelaksanaan 160 Hari proyek tersebut merupakan pekerjaan Penggantian Jembatan Way Kali Nuri di Kabupaten Tulang Bawang Barat yang berada di bawah Bina Marga dan Bina Konstruksi.
Berdasarkan data kontrak, pekerjaan tersebut memiliki nilai kontrak sebesar Rp5.146.682.000, dengan waktu pelaksanaan 160 hari dan menggunakan sumber dana APBD Tahun Anggaran 2026.
Penyedia jasa pekerjaan tercatat CV Krakatau Muda Mandiri. Dokumen pekerjaan mencantumkan nomor SPK 21/KTRIPPK-PGT-JBT/KALINURI/V.031/VI/2026, sementara tanggal yang tercantum dalam data kontrak adalah 21 Juli 2026.
Dengan nilai kontrak lebih dari Rp5 miliar, kesesuaian material dengan spesifikasi pekerjaan serta capaian progres menjadi bagian penting yang perlu dipastikan secara terbuka. Sebab, kualitas material dan ketepatan pelaksanaan pekerjaan berkaitan langsung dengan kualitas serta keamanan infrastruktur yang nantinya digunakan masyarakat.
Karena itu, pihak penyedia jasa maupun instansi terkait perlu memberikan penjelasan mengenai penggunaan beberapa merek besi di lapangan, dasar penerimaan material tersebut, hasil pengujian laboratorium, serta alasan pekerjaan pengecoran belum dapat dilaksanakan.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak CV Krakatau Muda Mandiri selaku penyedia jasa belum bisa dikonfirmasi karena belum pernah ada di lokasi pekerjaan. 
