Prof Anna Gustina Ingin Unila Mendunia Tanpa Kehilangan Identitas Budaya

•KAMPUS
externalexternalexternalexternal
Prof Anna Gustina Ingin Unila Mendunia Tanpa Kehilangan Identitas Budaya
Bakal calon Rektor Universitas Lampung (Unila) periode 2027-2031, Prof. Dr. Anna Gustina Zainal, S.Sos., M.Si.,/dok

Article Header Image Bakal calon Rektor Universitas Lampung (Unila) periode 2027-2031, Prof. Dr. Anna Gustina Zainal, S.Sos., M.Si., menawarkan penguatan tata kelola, hilirisasi riset, serta peningkatan daya saing global sebagai strategi membawa Unila menjadi perguruan tinggi berkelas dunia.

Dalam sosialisasi bakal calon rektor di Gedung Serba Guna (GSG) Unila, Rabu, 28 Oktober 2026, Anna mengusung visi menjadikan Unila sebagai ekosistem hilirisasi inovasi yang berdaya saing dunia, tetapi tetap berakar pada budaya dan kemandirian bangsa.

Ia menjelaskan, periode kepemimpinan 2027-2031 menjadi fase penting karena berada pada masa peralihan tahap pertama menuju tahap kedua Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Unila 2025-2045.

Menurut Anna, rektor terpilih nantinya tidak hanya bertugas menuntaskan target tahap pertama, tetapi juga mempersiapkan penguatan riset dan inovasi pada tahap berikutnya.

Untuk mewujudkan visi tersebut, Anna merumuskan empat misi utama, yakni penguatan tata kelola, pengembangan inovasi berdampak dan hilirisasi riset, perluasan jejaring serta rekognisi global, dan penguatan kepemimpinan berbasis nilai budaya.

Keempat misi itu diterjemahkan ke dalam strategi dan program unggulan yang mencakup tata kelola transparan, penguatan sumber daya manusia (SDM), peningkatan kinerja penelitian, pengembangan pusat riset, hilirisasi hasil tridarma perguruan tinggi, hingga penciptaan lingkungan kampus yang nyaman dan inklusif.

Dalam aspek tata kelola, Anna menekankan pentingnya transparansi pengelolaan anggaran dan perencanaan keuangan. Sistem penerimaan mahasiswa baru juga harus menjunjung prinsip transparansi, akuntabilitas, responsivitas, dan independensi.

Di bidang SDM, ia menyoroti perlunya percepatan peningkatan kualifikasi akademik dan jabatan fungsional dosen. Anna menyebut, target Rencana Strategis Unila pada 2029 adalah 50 persen dosen bergelar doktor dan sekitar 15-20 persen menduduki jabatan akademik guru besar.

Namun, berdasarkan data yang disampaikannya, jumlah guru besar di Unila saat ini sekitar 169 orang atau 11,7 persen, sedangkan dosen bergelar doktor baru mencapai 36 persen.

Karena itu, ia menawarkan program pendampingan kenaikan jabatan fungsional dosen, pemenuhan tunjangan kinerja dosen, serta peningkatan dana penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

Anna juga mengusulkan skema pendanaan penelitian bagi setiap dosen berdasarkan jabatan fungsionalnya. Menurutnya, penelitian tidak boleh berhenti pada laporan dan publikasi ilmiah, tetapi harus menghasilkan inovasi yang dapat dimanfaatkan pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat.

“Riset dosen tidak boleh hanya berhenti pada laporan penelitian dan artikel publikasi, tetapi harus dapat dihilirisasi,” ujarnya.

Selain itu, peningkatan kompetensi dosen melalui kesempatan melanjutkan studi dan pelatihan sertifikasi yang relevan juga menjadi bagian dari program yang ditawarkannya.

Pada bidang kemahasiswaan, Anna mengusulkan alokasi anggaran minimal 10 persen dari total anggaran universitas. Ia menilai dukungan anggaran yang memadai diperlukan untuk memperkuat pengembangan mahasiswa dan meningkatkan kualitas layanan pendidikan.

Pengembangan pusat penelitian berbasis bidang unggulan juga menjadi perhatian. Menurutnya, pusat riset perlu dibangun dengan mengoptimalkan kerja sama nasional dan internasional, merevitalisasi laboratorium, serta mendorong peningkatan pendapatan mandiri universitas.

Anna turut menekankan bahwa hilirisasi harus mencakup seluruh hasil tridarma perguruan tinggi, tidak terbatas pada penelitian, tetapi juga karya dosen di bidang pendidikan dan pengabdian kepada masyarakat.

Sementara itu, untuk membangun identitas dan budaya kampus, ia mengusulkan penamaan gedung serta jalan di lingkungan Unila dengan nama tokoh-tokoh universitas dan tokoh dari Provinsi Lampung.

Penerapan prinsip pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), penguatan konsep kampus hijau, serta penyediaan akses yang ramah bagi penyandang disabilitas juga masuk dalam agenda yang ditawarkannya.

Anna turut menyoroti pentingnya layanan konseling bagi dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa. Menurutnya, layanan tersebut tidak hanya ditujukan bagi korban kekerasan, tetapi juga harus berorientasi pada pencegahan berbagai bentuk kekerasan di lingkungan kampus.

Ia berharap seluruh elemen kampus, mulai dari mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, alumni, hingga pemerintah daerah dan pusat, dapat berkolaborasi dalam membangun Unila yang unggul dan berdaya saing global.

“Unila tidak bisa berdiri kokoh tanpa satu orang saja. Unila harus maju bersama-sama, bergandengan tangan, baik mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan maupun alumni,” tandasnya. Article Image

Editor : Tuti Nur Khomariyah

Kata Kunci


Berita Terkait