Produksi beras di Provinsi Lampung diperkirakan mengalami penurunan cukup signifikan sepanjang 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) Lampung memproyeksikan produksi beras tahun ini hanya mencapai 1,78 juta ton atau berkurang 91,44 ribu ton dibandingkan tahun sebelumnya.
Penurunan sebesar 4,89 persen tersebut sejalan dengan menyusutnya produksi padi dan luas panen di Lampung.
Kepala BPS Provinsi Lampung, Ahmadriswan Nasution mengatakan, produksi padi Lampung pada 2026 diperkirakan mencapai 3,09 juta ton Gabah Kering Giling (GKG). Jumlah itu turun 159,06 ribu ton atau 4,89 persen dibandingkan produksi 2025 yang mencapai 3,25 juta ton GKG.
"Seiring dengan penurunan luas panen, total produksi padi di Lampung pada tahun 2026 diperkirakan sebanyak 3,09 juta ton Gabah Kering Giling (GKG)," ujar Ahmadriswan dalam keterangan resminya.
Dari sisi luas lahan, BPS memperkirakan panen padi tahun ini hanya mencapai 578,69 ribu hektare. Angka tersebut menyusut 17,33 ribu hektare atau 2,91 persen dibandingkan 2025 yang tercatat 596,02 ribu hektare.
Meski demikian, realisasi luas panen sepanjang Januari-September 2026 tercatat mencapai 514,46 ribu hektare. Jumlah tersebut masih tumbuh 1,34 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara potensi luas panen pada Oktober-Desember 2026 diperkirakan mencapai 64,22 ribu hektare.
Ahmadriswan menjelaskan, puncak panen padi di Lampung tahun ini terjadi pada April dengan luas panen mencapai 127,19 ribu hektare. Pada periode tersebut, produksi gabah kering giling tercatat sebesar 711,88 ribu ton.
Secara kewilayahan, produksi padi tertinggi masih terkonsentrasi di tiga daerah, yakni Kabupaten Lampung Tengah, Lampung Timur, dan Lampung Selatan.
BPS mencatat sebagian besar wilayah mengalami penurunan produksi. Namun, sejumlah daerah justru mencatatkan peningkatan, di antaranya Kabupaten Lampung Barat, Mesuji, dan Kota Bandar Lampung.
Data tersebut merupakan angka sementara berdasarkan pengamatan Kerangka Sampel Area (KSA) hingga September 2026. Dengan demikian, proyeksi produksi masih dapat mengalami penyesuaian mengikuti perkembangan realisasi panen hingga akhir tahun. 
