Oleh Syafarudin, SSos, MA*

ISTILAH yang dilontarkan elite politisi Provinsi Lampung yang duduk di kursi eksekutif senantiasa menarik perhatian publik. Belakangan ini, ada elite yang memperkenalkan istilah “Raja Olah”.

Dalam komunikasi politik yang blak-blakan, dia mengatakan kepada media minggu lalu ”Awas hati-hati ada ‘Raja Olah’ dalam Pilkada”.

Sontak, orang tertegun mendengarnya, senyum geli, diam sejenak, otak berputar menafsirkan dan menduga maksud serta tujuan lontaran tuduhan atau sindiran tersebut.

Selanjutnya ada juga yang bertanya kritis retoris dan menjawab sendiri ”Siapakah raja olah (RO) terbesar di Sai Bumi Ruwa jurai? Jangan-jangan, dia yang melontarkan istilah itu sendiri.”

Bila dirunut dua dasawarsa ke belakang, jagad politisi dan birokrat di Lampung pernah dikejutkan pula munculnya istilah MEOK (makan enak lalu omong kosong).

Dalam pidato berapi-api, politisi senior itu mengingatkan birokrat yang merupakan bawahannya dengan kalimat,”Kalian sebagai pemimpin birokrasi (baca: kepala badan, kepala dinas termasuk yang minta jabatan jubir) kurangilah MEOK di depan rakyat! Kurangilah makan enak lalu omong kosong!”

Sontak audien kecut. Wow. Amazing. Speechless.

Jauh sebelum juga, di pintu gerbang Pulau Sumatera, ada elite politisi yang juga kepala daerah yang secara tak sengaja dijululi warganya dengan istilah unik: KGB.

Istilah tersebut bukan KGB Rusia (Komitet Gosudartsvennoy Bezopasnosti/Badan Intelijen Uni Sovyet) yang terkenal angker dan berdiri 13 maret 1954, kemudian runtuh pada 6 November 1991.

KGB yang dimaksud elite politisi lokal ini adalah ” Setuju, tapi kagek bae dulu alias nanti saja”.

Dia bergitu sering mengatakan kagak bae setiap menutup komunikasinya sehingga muncul istilah KGB.

Istilah yang dipakai sebagai penutup kalimat yang cendrung bersifat siasat menghindar dari keinginan lawan bicaranya.

Muncul joke di jajaran birokrasinya kala itu, ketika ada perintah dari sang pemimpin segera menyelesaikan semua proyek sebelum tutup tahun.

Di belakang sang pemimpin, mereka serempak bergumam sambil senyum kecut: kagek bae dulu ya alias KGB”.

Dunia Politisi Lampung Biasa “Cai Bucai”

Lama, saya mencari penjelasan ini. Akhirnya, ketemu titik terang setelah membaca wawancara mendalam Hermansyah, pimpinan redaksi  RMOL Lampung, dengan tokoh daerah ayahanda Arief Mahya dalam artikel yang diberi judul Demokrasi Cai Bucai.

Hermansyah, penulis buku Jejak Perjalanan Zainal Abidin Pagar Alam berhasil menyusun diksi lokal sederhana masyarakat Lampung Pepadun (cai bucai).

Dia merangkum penjelasan panjang lebar yang dipaparkan Arief Mahya tentang sikap kontestasi, slengean, guyon, sarkas, dan ugal-ugalan elite lokal dalam upaya aktualisasi diri mereka dalam diksi singkat: cai bucai.

Meski demikian, antarsesama elite lokal sejatinya mereka yang sesama ”fraksi malam” tetap bersahabat atau bersaudara dalam kenakalan dan candaan sarkas. Absurd memang.

Implikasi ”Incompetent Men”

Bila penulis ikut melabeli elite kocak sebagai “politisi cai bucai”, maka
Thomas Chamorro, dosen Hardvard University melabeli kelompok elite “slengean-tengil’ jenis ini dengan istilah serius “incompetent men”.

Implikasi yang ditimbulkan mereka yang kurang kompeten ini bisa cukup serius yakni umumnya menabrak regulasi karena bagi mereka regulasi harus tunduk dengan keinginan elite, bukan elite tunduk kepada regulasi.

Lebih detil bisa dibaca dalam buku Thomas Chamorro,” Why Do So Many Incompetent Men Become Leaders? (and How to fix it), Hardvard Press, Boston, 2019.

Pantas saja wilayah ini sempat kocak dan penuh dagelan.

Dulu, pernah terjadi seorang dokter hewan ditunjuk sebagai kepala rumah sakit umum daerah dan sarjana hukum menjadi kepala dinas peternakan.

Kepada media sang politisi cai bucai beralasan: dokter hewan itu lebih jago daripada dokter manusia. karena hewan yang tidak bisa bicara menyampaikan keluhan sakitnya aja bisa disembuhkan. Apatah lagi manusia yang diperiksa tentu lebih mudah baginya untuk disembuhkan.

“Soal SH, bukankah itu bisa juga bisa dimaknai kepanjangan dari sarjana hewan”, ujarnya sambil terkekeh panjang bersama para jurnalis.

Semoga, pada usia ke-56 Provinsi Lampung,  politisi lokal mulai serius bekerja dan mengurangi sikap cai bucai. Lampung maju dan Jayalah. Tabik pun.

(*) Peneliti Labpolotda, anggota Lampung Heritage Society dan Dosen Ilmu Pemerintahan FISIP Unila

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here