Tanah dan daun-daun basah serta matahari masih berselimut awan ketika kami menjelajah kawasan Gunung Betung, Kabupaten Pesawaran, awal tahun 2020.

Meski beranjak siang, mendung menyejukan perjalanan para mantan mahasiswa Faperta 84 Unila merayap jalan tanah basah dan menembus pepohonan pegunungan berketinggian 1250 DPL.

Usia yang tak muda lagi, walau dalam cuaca musim hujan, jalan setapak dari shelter/pos pengawas pendakian kira-kira sejauh empat kilometer yang lumayan membakar toksin dan lemak.

Lelahnya perjalanan tak terasa oleh pemandangan alam yang indah: puncak Gunung Sukmahilang yang berkabut, tebing, jurang, dan sungai dari mata air kawasan Register 19.

Otot-otot kaki yang mulai menegang terasa merenggang kembali saat telinga mendengar deru air sungai yang terjun dari ketinggilan sekitar 30-an meter dalam kawasan yang masih sangat alami.

Mandi sambil refleksi air terjun di Gunung Betung dari Wiyono, Gedongtataan, Kabupaten Pesawaran/RMOLLampung

Awalnya, kaki-kaki kami saja yang masuk ke dalam air sungai yang langsung mendinginkan otot-otot yang mulai hangat setelah menyelusuri jalan setapak Register 19 Wan Abdurachman itu.

Hanya sebentar, kami tak bisa menahan diri untuk tidak membuka kaos. Kawan-kawan tak kuat ingin merasakan sensasi tumpuhan air terjun menimpa kepala dan punggung.

Luar biasa, kepala dan punggung terasa direfleksi ditimpa air terjun dari ketinggian 30 meter, terasa sangat nyaman dan adem sambil bersender di tebing air terjun.

Ah, luar biasa, tubuh jadi sangat rilek,  sangat bugar. “Mumpung masih kuat mendaki gunung,” kata Budi, suami Ambar, mantan pecinta alam.

Emma mengaku suaminya, Saldi, meski baru datang dari luar kota, “memaksakan” diri berpetualang kecil ke Gunung Betung.

Dialah “kompor” kami “sok jago” berdingin ria di bawah air terjun.

Seorang sahabat, Ir. Hapris Jawodo yang beristrikan dokter meyakinkan teman-temannya untuk meneguk air terjun.

Dia yakin airnya dari mata air dan dijaminnya higienis.

Hanya istri teman yang berpofesi advokat, Nung Samsul, yang kecewa, tak ada Joko Tarub yang mengambil selendang yang sengaja dibawanya dari rumah ke air terjun tersebut.

Air terjun yang kami tuju disebut masyarakat setempat air terjun bawah dan masih ada satu air terjun lagi di atasnya. Namun, tak setinggi air terjun bawah.

Untuk menuju lokasi tak sulit, dari simpang Pasar Wiyono , Kecamatan Gedongtataan, Kabupaten Pesawaran, sepeda motor dan mobil masuk jalan pedesaan yang telah beraspal sejauh 3 km.

rekreasi gratis sambil olahraga dan refleksi air terjun di Gunung Betung /RMOLLampung

Di perbatasan kawasan Register 19 Wan Abdurachman, kendaraan masih bisa melanjutkan perjalanan jalan tanah berbatu sekitar 2 kilometer hingga Pos Pengawasan Pendakian (shelter).

Di pos tersebut, dua wartawan senior, Erlan Sopandi dan Zeprisman, mendedikasikan diri menjadikannya lebih nyaman bagi para pengunjung yang berniat ke air terjun atau kawasan campinground.

Para pengunjung bisa memarkirkan kendaraannya, istirahat, MCK, sholat, ngopi, duduk-duduk istirahat atau bersiap untuk penjelajahan, bahkan bermalam sekalipun.

Selain menata kawasan Pos Pengawasan Pendakian, kedua wartawan pencinta lingkungan hidup itu juga menanam ribuan pohon aneka buah-buahan untuk menjaga kawasan sebagai daerah resapan sekaligus bermanfaat bagi masyarakat sekitar.

Di pos tersebut yang dikelola Komunitas Peduli Gunung Betung Lintang Tahura tersebut, kami berhenti lama untuk selfi dengan viuw Kecamatan Gedongtataan, hutan, dan puncak Gunung Sukmahilang.

Masyarakat sekitar kawasan melintas dengan membawa hasil tanaman kawasan hutan seperti pete, durian, kelapa, dan lainnya.

Kami pun menikmati durian, kelapa muda, dan kopi pahit.

Gunung Sukmahilang terlihat jelas dari Posko pegawasan pendakian Gunung Betung di Wiyono/RMOLLampung

Apa lagi yang hendak kau dustai, rekreasi sambil refleksi menghirup udara segar gratis di Register 19 Wiyono.

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here