Direktur Utama PT Pelindo II (Persero) Elvyn G. Masassya/Net

PT Pelabuhan Indonesia II (Pelindo) menargetkan menjadi pelopor fasilitator perdagangan di Indonesia. Nantinya, pelabuhan tidak hanya berperan sebagai pelabuhan. Namun, mampu menopang perdagangan.

Demikian diungkapkan Direktur Utama (Dirut) Pelindo II (Persero) Elvyn G. Masassya, Sabtu (7/12). Menurut Elvyn, pelabuhan merupakan fungsi utama mendongkrak daya saing Indonesia di kancah global lewat pengiriman barang antar pelabuhan.

Namun, daya saing ini hanya bisa terdongkrak jika biaya logistik ditekan serendah mungkin. Oleh karena itu pelabuhan harus dijadikan sebagai fasilitator perdagangan (trade facilitator).

“Dengan enopang perdagangan melalui biaya yang murah, maka daya saing pasti bisa terdongkrak naik,” ujar Elvyn, di Jakarta.

Elvyn menjelaskan, prosesnya bisa terlihat jika pelabuhan terintegrasi dengan kawasan industri sehingga dari pelabuhan ke kawasan industri biaya logistik lebih murah, sebab sudah menyatu dengan pelayaran dan sistem logistik, transportasi maupun pergudangan (kawasan industri).

Menurutnya, ini hanya akan terjadi kalau pelabuhan itu dikonsepkan sebagai trade facilitator. Dimana pemilik barang, pengelola transportasi pelabuhan dan kapal itu ada dalam satu platform. Platform inilah yang kita sebagai trade facilitator atau market trade.

Cara ini lanjut Elvyn, diharapkan seluruh pengguna jasa, apakah itu eksportir, importir akan mendapatkan kebutuhannya secara cepat dengan lebih transparan. Seperti jika butuh kapal tersedia, untuk pergudangan juga ada termasuk transportasinya.

Dengan biaya logistik yang rendah produk Indonesia akan memiliki daya saing yang lebih tinggi karena ekspornya bisa lebih murah, lebih cepat sampai dan bisa dimonitor kapan saja sejak dikirimkan sampai tiba ke tujuan.

Konsep fasilitator perdagangan akan menjadi lebih relevan jika diterapkan kepada seluruh perusahaan pelat merah berlabel Pelindo.

Harapannya, seluruh Pelindo yang ada sekarang tidak lagi dipisahkan oleh karena sifatnya yang regional, tapi akan difungsikan berdasarkan bidang kerja atau sektor masing-masing.

“Hanya ada satu Pelindo kemudian disesuaikan dengan bidang, apakah itu peti kemas, non peti kemas, penyedia peralatan, IT dan sebagainya tapi dalam satu kepemilikan. Kalau dalam satu kepemilikan, maka pemilik atau holding ini bisa membuat strategi untuk seluruhnya bisa memiliki kekuatan keuangan yang memadai dan pada akhirnya ada standarisasi di seluruh pelabuhan Indonesia,” tutup Elvyn.

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here