GM PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) atau IPC Panjang Drajat Sulistyo (kiri) bersama Ketua Ketua DPW ALFI/ILFA Provinsi Lampung Zamzani Yasin/RMOLLampung

Indonesia Port Corporation (IPC) Panjang terus berupaya mewujudkan Visi IPC untuk beralih menjadi dari operator terminal fasilitator perdagangan kelas dunia.

Hal itu disampaikan General Manajer PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) atau IPC Panjang Drajat Sulistyo dalam Konferensi Nasional Logistik yang diadakan Asosiasi Logistik dan Forwarder (ALFI/ILFA) Dewan Perwakilan Wilayah (DPW) Lampung di Hotel Novotel, Bandarlampung, Kamis (6/2).

Ia menyampaikan presentasi “Port of Panjang Toward Trade Facilitator”. Untuk mewujudkannya, Pelabuhan Panjang sudah menanamkan enam pilar transformasi digital pada pelabuhannya. Mulai dari pelacakan elektronik, pemesanan elektronik, pendaftaran, pembayaran elektronik, pembayaran elektronik, dan perawatan elektronik.

“IPC Panjang untuk peti kemasnya sudah menggunakan single tapping untuk kegiatan bongkar muat yang sudah secara online, sedangkan di Tanjung priok masih double tapping,” ujarnya.

Ia percaya IPC Panjang dan Lampung punya potensi besar untuk perekonomian Lampung. Untuk itu ia meminta pemerintah menepati janjinya membangun jalan tol ke pelabuhan.

“MSC Gianna, MSC, dan CMA CGM sebagai kapal terbesar se Sumatera, itu sudah eksis setiap minggu di Pelabuhan Panjang, harus dimanfaatkan, jangan sampai kita cuma ngumpanin Bakauheni,” ujarnya.

Ia melanjutkan, pihaknya terus berupaya agar di tahun 2020 ada BLB pusat logistik sehingg biaya logistik dapat dipangkas, khususnya di wilayah Sumatera bagian Selatan.

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here