29.4 C
Bandar Lampung
Selasa 14 Juli, 2020 11:04 WIB
Beranda OPINI Pojok Syafarudin Pancasila Di Era 4.0, Provokasi Konflik , Dan Agen 3G

Pancasila Di Era 4.0, Provokasi Konflik , Dan Agen 3G

Dialog Imajiner dengan Soekarno-Hatta (18):

Oleh Syafarudin Rahman

KAMI bertiga (Bung Karno, Bung Hatta dan Syafarudin) duduk manis sambil memperhatikan persiapan presentasi mahasiswa milineal peretas ini di Room Dialog Imajiner.

Pemuda usia dua puluhan tahun itu lalu menyalakan dua laptop yang salah satunya terkoneksi dengan monitor smart tv 70 inch yang nempel di dinding.

Sudah seminggu ini, mahasiswa strata satu ini mencari informasi di deep web yang bisa menjelaskan penyebab fenomena berita di surface web.

Mahasiswa “Kampus Hijau” ini menjelaskan bahwa informasi yang kita baca melalui mesin pencari Google, Yahoo, dan Bing, lalu menyebar ke grup sosial media semisal WA, Telegram, Line, FB itu baru level info surface web dan ini hanya memuat 5% informasi.

Sedangkan sisanya, 95% terkait pihak yang order atau penyebab munculnya fenomena berita tersebut dan itu harus dicari di deep web dan mariana web.

Informasi permukaan (surface web) masih dipagari regulasi tiap-tiap negara, lebih sopan, dan rata-rata gratis.

Sedangkan informasi di deep web, tanpa ada regulasi negara, lebih bebas, transparan, tidak gratis, tapi konsekuensinya informasi ada harganya di sana alias harus dibayar dengan bitcoin.

Untuk menyelami informasi deep web, tidaklah mudah, banyak ranjau virus.

Wajar milineal peretas ini mesti membawa banyak bekal. Komputer dengan setingan khusus, web browser yang digunakan TOR, bukan explorer biasa, bisa memahami beberapa bahasa dan aksara Lingua Franca, mengerti bahasa programmer, membawa uang cukup dalam bentuk bitcoin.

Lalu, dia harus memastikan koneksi internet, UPS, genset, listrik senantiasa terjaga. Lalu secarik kertas pertanyaan pesanan dan kata kunci yang mesti dicari.

Hampir 60 menit lebih milineal peretas ini presentasi, menunjukan sejumlah nama-nama agen, gambar tokoh, kaitan dengan tokoh atau agen lain di dalam maupun luar negeri, apa misi-misi tiap-tiap tokoh, agen, elite politik, elite ekonomi, dan elite pemuka agama.

Dijelaskan detil dari masa kolonial sampai hari ini. Tampak terlihat foto Alm Jenderal LBM, guru prajurit yang mendalami operasi intelijen.

Foto kader-kader pensiunal jenderal yang jadi pengusaha dan masih mewarisi misinya.

Milineal peretas secara berimbang menyebutkan beberapa nama yang sejatinya berdiri pada posisi protagonis dan posisi antagonis.

Tipe-tipe peran mereka ada kembarannya tersebar di belahan dunia barat dan timur, di bagian utara dan selatan bumi.

Sumber informasi disebutkan semua detil dibeli dan diretas dari mana atau dari sumber lembaga mana, baik CCTV, link, bank, perusahaan, parpol, organisasi agama, dan grup konglomerasi.

Cara kerja milineal ini rapih dan detil sekali mirip Edward Joseph Snowden.

Setelah kami dialog pendalaman sekitar tiga puluh menit dengan milineal gondrong ini, dia lalu permisi sebentar ke belakang.

Sambil menunjukan di monitor 70 inch emoticon wajah senyum dan dua tangan (sebagai tanda permisi dan mohon maaf) dan muncul lima hurup besar tertulis CMIIW (bermakna correct me if IÔÇÖm wrong).

Syafarudin: izin Pak Proklamator. Alhamdulillah, kita sudah mendengar paparan panjang lebar milineal tadi tentang tujuan dan siapa yang memelihara dan memadamkan benih konflik SARA (suku, agama, ras dan antar golongan) serta konflik menghadapi Covid-19 di Nusantara hari ini dan dari masa kolonial.

Lalu trennya yang hampir sama terjadi di Timur Tengah, Afrika, Amerika selatan, dan Asia Tenggara. Lalu dalam rangka apa atau misi apa yang mereka bawa. Sudah jelas dipaparkan. Bagaimana Proklamator melihat semua hal ini?

Bung Hatta : Milineal sekarang kritis ÔÇôkritis ya, pandai membaca sejarah dan jejak digital. Milineal putra yang ini lebih kritis dibandingkan dengan milineal putri influencer yang sempat viral usai tampil di ILC TV One tahun lalu. Aku setuju dengan yang disampaikan mahasiswa milineal peretas ini tadi bahwa ada kepentingan abadi dan ada agen 3G, dan khusus case Nusantara memang perlu revitalisasi penghayatan dan pengamalan nilai-nilai Pancasila yang dia sebut etika Pancasila 4.0.

Bung Karno: Aku pun merasakan adanya upaya terstruktur dan sistematis sejumlah agen menciptakan konflik horisontal dan vertikal demi kepentingan gold (emas, ekonomi), glory (kekuasaan, politik) dan gospel (agenda tua penyebaran agama).

Mereka mahir membenturkan antarsuku, agama, ras, dan antargolongan.

Sekarang, mereka benturkan kepala desa dengan presiden, gubernur dengan menteri, sesame menteri.

Mereka juga mahir membenturkan perlahan aparat penegak hukum dengan habaib, mantan menteri perempuan tua yang sepuh dan aparat hukum dibenturkan dengan golongan tertentu.

Hal tersebut kasat mata terlihat dalam serial pemberitaan paparan milenial.

Syafarudin: Proklamator izin, pas peringatan Har ÔÇ£Lahirnya Pancasila, 1 Juni, mohon Milenial bacakan sejarah singkatnya.

Milenial : Pada sidang pembahasan dasar negara yang dilaksanakan BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan indonesia), dari 28 Mei 1945 hingga 1 Juni 1945, Soekarno pidato tanpa teks tertulis, murni keluar dari pikiran dan lisannya menjelaskan konsep dan rumusan awal Pancasila sebagai dasar negara yang beliau gali dari kultur masyarakat Nusantara.

Pidato berilian pada tanggal 1 Juni 1945 tersebut diterima secara aklamasi oleh segenap anggota BPUPKI.

Dan, sejak 2017, tanggal 1 Juni, pemerinta resmi menjadikannya sebagai hari libur nasional.

Syafarudin: Izin Proklamator, sekarang orang mulai ramai membicarakan urgensi nilai-nilai Pancasila yang mesti diamalkan dan juga mulai menuding nama atau lembaga yang mengurusi Pancasila BPIP, MPR, dan sekolah serta kampus. Bagaimana Proklamator melihat ini?

Bung Hatta : Sesuatu yang alami, ketika terjadi kegaduhan sepanjang saat di sosial media, maka orang akan bertanya kok bisa gaduh terus, siapa yang bertanggung jawab mencegah, mengelola dan mengatasi kegaduhan sosial ini?

Dan, kita bisa urai satu persatu.

Tapi ini pertanyaan buat Milenial dulu, apakah zaman kalian sekarang sudah buat regulasi dan sistem terkait kegaduhan sosial media yang bisa mengakibatkan konflik.

Milenial: Alhamdulillah. Soal regulasi bangsa ini jagonya. Sudah dibuat UU nomor 7 tahun 2012 tentang Penanganan Konflik Sosial.

UU tersebut berusaha mengintegrasikan dan menyempurnakan regulasi UU 23/1959 tentang keadaan Bahaya yang terbit era orde lama dan UU 27/1997 tentang Mobilisasi dan Demobilisasi yang terbit era Orde Baru.

Bung Karno: Milenial , apa saja isi regulasi penanganan konflik sosial tersebut?

Milenial : Enam puluh dua pasal UU tersebut sudah lengkap mengatur cara, sistem, dan organisasi.

Regulasi tersebut mengatur soal pemetaan wilayah potensial konflik, peringatan dini sebelum konflik, upaya pencegahan konflik, upaya mengatasi konflik, penanganan pasca konflik, laporan berjenjang dari bawah sampai pusat baik di matra sipil, matra polisi, dan matra TNI. Lalu mengatur kelembagaan dan mekanisme penyelesaian konflik.

Bung Karno: Bagaimana implementasi dan dampak regulasi tersebut menurut Bung Syafar?

Syafarudin: Not bad, but not good too. Masih sebatas proyek mendadak, kurang menjadi perhatian rutin. Laporan riset serius pemetaan wilayah potensial konflik berbasis desa atau kecamatan, sulit dicari dokumennya.

Sistem peringatan dini konflik yang setara sistem peringatan dini Tsunami belum muncul dan parahnya oknum aparat di lapangan malah diduga ada yang terlibat bentrok berujung damai dengan habaib.

Bung Hatta : Apa zaman kalian sekarang tidak diajarkan pendidikan kewarganegaraan dan pengamalan Pancasila?

Syafarudin: Bila di zaman Orde Lama, Bung Karno ada pelajaran civic education di sekolah dan kampus, maka di zaman Orde Baru lebih kompleks di sekolah ada Pendidikan Moral Pancasila, di kampus ada mata kuliah kewiraan dan Pancasila, di masyarakat ada penataran P4.

Era sekarang tetap ada, di sekolah sampai kampus ada pelajaran PPKN (Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan).

Bung Hatta: Apa nilai-nilai Pancasila yang diajarkan dan diamalkan di era sekarang, Bung?

Syafarudin: Proklamator, inilah yang jadi persoalan sekarang, dimana kurikulum, buku, guru, dan dosen yang mengajarkan Pancasila tidak lagi fokus Pancasila sebagai etika, tapi meluas Pancasila dalam tataran sejarah, Pancasila sebagai ideologi bangsa, Pancasila sebagai falsafah bangsa, Pancasila sebagai modal persatuan dan lain-lain.

Terlepas dari soal kritik pelajaran Pancasila dijadikan bahan indoktrinasi Orde Baru, harus diakui Orde Baru mampu menterjemahkan penghayatan dan pengamalan Pancasila dalam Eka Prasetyapanca Karsa atau tiga puluh enam butir nilai penghayatan dan pengamalan Pancasila.

Zaman sekarang ini tidak diajarkan lagi padahal isinya baik.

Bung Hatta: Bila nilai penghayatan dan pengamalan Pancasila dalam Eka Prasetya Pancakarsa itu baik, mohon Bung bacakan dua saja contoh nilai baik dari tiap-tiap sila Pancasila tersebut.

Syafarudin:

Sila Ketuhanan Yang Maha Esa
(1) Hormat menghormati dan bekerjasama antar pemeluk agama dan penganut-penganut kepercayaan yang berbeda-beda sehingga terbina kerukunan hidup;

(2) Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan kepada orang lain.

Sila Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab (1) Mengakui persamaan derajat persamaan hak dan persamaan kewajiban antara sesama manusia.
(2) Saling mencintai sesama manusia.

Sila Persatuan Indonesia

(1) Menempatkan kesatuan, persatuan, kepentingan, dan keselamatan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi atau golongan.

(2) Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa yang ber-Bhinneka Tunggal Ika.

Sila Kerakyatan Yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan / Perwakilan.

(1) Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi semangat kekeluargaan;

(2) dengan itikad baik dan rasa tanggung jawab menerima dan melaksanakan hasil musyawarah.

Sila Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia:.

(1) Menghormati hak-hak orang lain;

(2) Suka memberi pertolongan kepada orang lain.

Bung Hatta: Aku setuju, baik sekali contoh nilai penghayatan dan pengamalan pancasila dalam Eka Prasetya Pancakarsa itu.

Bagaimana etika Pancasila di Era 4.0 yang dimaksud mahasiswa milineal yang tadi permisi ada kuliah daring.

Syafarudin: mahasiswa milineal peretas tadi dengan santun sudah mengamalkannya, bila seseorang sudah presentasi atau argumentasi panjang lebar maka tutuplah dengan humble, katakan CMIIW (correct me if iÔÇÖm wrong).

Dia siap terima masukan kritik, dan saran.

Permisi proklamator, mentari sudah meninggi saya harus pulang salat duha. Minggu depan insha Alloh dialog lagi.

Terima kasih. Wassalamualaikum, warrahmatulohi wabarakatuh.

(*) Peneliti Labpolotda dan Dosen Ilmu Pemerintahan FISIP Universitas Lampung

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

Baca Juga

Preman Dari Provinsi Pabrik Permen

Dialog Imajiner dengan Sukarno-Hatta (22): Oleh Syafarudin Rahman PAGI masih gelap dan sepi usai salat subuh, kami berempat seperti biasa berbincang sambil menghirup segarnya oksigen yang...

Koruptor, Antara Diberantas Dan Dirawat

Oleh Syafarudin Rahman KOMISI Pemberantasan Korupsi (KPK) merilis 10 daerah provinsi dengan angka korupsi tertinggi sejak lima tahun terakhir, 2014 hingga 2019. Provinsi Lampung menempati...

RUU HIP Ditunda, Penunggang Kandas, Lovers Gagal

Dialog Imajiner dengan Sukarno-Hatta (21): Oleh Syafarudin Rahman  PAGI masih gelap dan berembun usai salat subuh, kami berempat (Bung Karno, Bung Hatta, Syafarudin dan mahasiswa milenial),...

Iklan Lebay Milad Dan Jilat Pejabat

Opini Syafarudin Rahman, GUBERNUR Lampung Arinal Djunaidi, Presiden Soekarno dan Presiden Joko Widodo sama-sama lahir di bulan Juni. Mereka cuma beda tanggal dan tahun. Soekarno lahir...
Translate »