25.6 C
Bandar Lampung
Selasa 14 Juli, 2020 09:58 WIB
Beranda OPINI Orang Indonesia Paling Keren Hadapi Wabah Corona

Orang Indonesia Paling Keren Hadapi Wabah Corona

Oleh Herman Batin Mangku*

KETIKA virus itu masih di Wuhan, RRC, orang Indonesia meresponnya lucu-lucuan. Pejabat banyak yang menjadikan virus corona sebagai bahan guyonan.

Begitu korban pertama tewas akibat corona virus disease 2019 (Covid-19) di Depok, Jawa Barat, 2 Maret 2020, semua mulai tak berani menganggap lucu wabah ini.

Sebulan kemudian, di Provinsi Lampung, warga menolak korban tewas pertama corona yang akhirnya terpaksa disemayamkan semalam dan dikebumikan di lahan Pemprov Lampung, esoknya, Selasa (31/3).

Dalam hitungan pekan, Jabodetabek “mencekam” dengan begitu cepatnya pertambahan korban terinfeksi virus corona, ribuan jumlahnya.┬á Sejenak semua bengong, speechless.

Sahabat saya, Ir. Samsul Arifin, SH, MH, memboyong istri, anak-anaknya, hingga cucunya pulang kampung–bukan mudik–dari Jakarta ke Lampung.

Tak hanya sahabat saya itu, kita juga banyak yang diam-diam panik dan ketakutan. Tak sedikit yang malah tak mau ketemu orang.

Masker jadi susah dicari dan mahal, mendadak rajin cuci tangan, bapak-bapak yang biasa “beredar” langsung jinak mengurung diri bersama keluarga.

Tak begitu lama, dua-tiga bulan, bosan dan jenuh semedi di rumah, masyarakat ramai-ramai move on.

Masker pabrik mahal, langka, dan hanya sekali pakai, tanpa komando, para ibu-ibu berinisiatif mengatasinya dengan menjahit sendiri masker kain yang bisa dipakai ulang, stylis, dan murah.

Elemen masyarakat juga seakan-akan berlomba-lomba membagikan masker kain gratis kepada mayarakat, pedagang, pengemudi ojek online, petugas, dan lainnya.

Berhentinya banyak aktivitas wong cilik, tak sedikit yang kena PHK, dagangan anjlok, tanpa perlu dihimbau, mereka yang mampu ramai-ramai berbagi sembako dan nasi bungkus.

Warga hingga pelosok desa me-lockdown kampungnya dengan memalang dan menulis jalan masuk kampung: Maaf, kawasan ini sedang di-london, down load, slow down, dll.

Sekolah libur dan proses pembelajaran secara online dan virtual entah sampai kapan. Pilkada Serentak 2020 ikut molor dari 23 September jadi 9 Desember 2020, tak ada pertemuan massal, tak ada pesta.

Mereka yang kreatif, salah satunya keluarga Ir. Anshori Djausal, SH, MH menyiapkan teh berbahan daun sungkai untuk meningkatkan imunitas buat menangkal virus corona.

Banyak negara lain masih dirudung duka akibat banyaknya korban nyawa dan amburadulnya ekonomi, orang Indonesia kucing-kuncingan dengan petugas “berdamai” dengan corona.

Diminta jangan salat jamaah ke masjid, cuek aja, apalagi salat jumat dan Idul Fitri 1441 lalu, bawa sejadah sendiri, pakai masker, jarak salat jauh-jauhan dulu.

Emak-emak lebih selon lagi. Mereka tak bisa menahan diri tawaf berjam-jam jelang Lebaran Idul Fitri 1441 lalu di mal dan pasar-pasar.

Para pedagang, pengendara ojol, dan lainnya tak kuat merumahkan gerobok dagangan dan sepeda motornya. Mereka pakai masker tetap menjemput rezeki ke jalan-jalan.

Bapak-bapak gaul apa lagi, gak kuat hampir tiga bulan gak kongkow-kongkow, ngupi-ngupi, dengan kawan bisnis dan teman-teman yang bisa diajak “berhahahihi.”

Jiwa saling tolong-menolong dan toleransi telah menyelamatkan masyarakat itu sendiri sehingga tak semakin terpuruk secara mentalitas dan  ekonomi oleh serangan Covid-19.

Dan, hal itu semua, adanya di Indonesia. Kita tak lihat tolong-menolong dan toleransi khas Indonesia seperti itu di negara-negara lain.

Matrik pengelompokan negara-negara saat pandemi Covid-19

Hal itu diakui Ryan Heath dan Beatrice Jin dalam tulisan mereka di www.politico.com, pertengahan bulan lalu (21/5) berjudul: Rangking the Global Impact of the Coronavirus Pandemic, Country by Country.

Mereka mengamati cara 30 negara, warga dan kebijakan negaranya, yang berbeda-beda menyikapi, menghadapi, hingga upaya mengatasi dampak ekonomi dan penularan pandemi Covid-19.

Yang mencengangkan, lewat matrik yang mereka buat, Indonesia relatif “stabil”, berada di kelompok positif dari garis vertikal (dampak ekonomi) dan garis horizontal (dampak kesehatan).

Dari sekian puluh negara, hanya empat negara yang relatif tak terhempas secara ekonomi dan kesehatan warganya, yakni Indonesia, Banglades, China, dan paling oke Vietnam.

Sebagian besar negara, Amerika, Jerman dan belasan negara hebat lainnya malah terpuruk secara ekonomi dan kesehatan warganya akibat pembatasan perdagangan, interaksi sosialnya, serta individualistiknya.

Matriks tersebut mempertimbangkan garis dasar negara dalam hal infeksi, kematian, PDB, dan pengangguran, serta bagaimana intervensi pemerintah tertentu.

Jerman, misalnya, relatif buruk secara ekonomi dan kondisi kesehatan warganya seperti negara-negara tetangganya di Eropa, tetapi tingkat kematiannya lebih rendah.

Tingkat kematian beberapa negara yang terbuka terhadap informasi kondisi pandemi, antara lain Islandia dan Belgia justru cendrung malah jadi menurun dibandingkan dengan negara-negara yang kurang transparan (Rusia).

Selandia Baru dan Swedia mengambil pendekatan pembatasan pergerakan populasi warganya dan berpengaruh pada kesehatan warganya dan hampir resesi.

Beberapa negara memiliki angka PDB yang sama tetapi tingkat pengangguran yang sangat berbeda (AS dan Jepang).

India menutup penutup pintu yang pada gilirannya merobohkan ekonominya yang mengalami kontraksi 45 persen pada kuartal ini.

Taiwan tidak dapat melepaskan diri dari kenyataan bahwa 70 persen PDB-nya berasal dari sektor ekspor yang terpukul keras.

Negara-negara dalam kategori ini membatasi semua kecuali pergerakan penting di luar rumah dan mungkin memerlukan izin dan penutupan untuk kegiatan massal.

Sebagian besar bangunan komersial ditutup (kecuali untuk layanan makanan dan apotek), seperti halnya bar, restoran, sekolah, dan kantor.

Semua olahraga, keagamaan, dan pertemuan publik lainnya dilarang.

Hanya pekerja yang dianggap penting yang dapat bekerja di luar rumah, dan bepergian ke dalam dan ke luar negeri dibatasi.

Orang Indonesia ternyata punya cara sendiri mengatasi wabah corona dan ancaman “buntu” alias bokek dan itu ternyata hasilnya keren.

Bill Gates, pendiri Microsoft yang dikait-kaitkan berdasarkan teori konspirasi bertanggung jawab terhadap pandemi ini pasti geleng-geleng kepala. Hanya orang Indonesia yang tak “menghargai” virus corona.

Setelah Dr. dr. Siti Fadilah Supari, SpJP(K), mantan menteri Kesehatan Indonesia era 2004 hingga 2009, yang mencium keterlibatan Bill Gates dalam “bisnis” vaksin flu burung, masuk sel gara-gara anak buahnya korupsi, rakyat semesta Indonesia kini bergerilya melawan virus ini dengan caranya sendiri.

Mari beraktivitas dengan tetap memakai masker, jaga jarak, dan rajin cuci tangan.

Hasbunallah wanikmal wakil nikmal maulana waanikman nashir  (Allah sebaik-baiknya pelindung dan sebaik-baiknya penolong kami).

*Plt Ketua Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Provinsi Lampung dan Pimred RMOLLampung.

 

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

Baca Juga

Sarapan Politik Nasi Goreng

KETIKA masih kecil, emak saya selalu menggoreng sisa nasi kemarin yang sudah dingin dan mulai mengeras untuk sarapan pagi anak-anaknya. Maklum, tahun '80-an, belum ada...

Pilwalkot Bandarlampung, Tarung Ulang Herman HN vs Purwanti Lee?

Oleh Herman Batin Mangku SUHU politik jelang Pilwalkot 2020 Kota Bandarlampung sudah hangat-hangat kuku. Jauh-jauh hari, dua kandidat terlihat paling menonjol sudah pasang kuda-kuda. Mereka...
Translate »