23.8 C
Bandar Lampung
Minggu 31 Mei, 2020 04:52 WIB
Beranda KAMPUS OAIL Itera Berhasil Abadikan Kemunculan Komet Swan

OAIL Itera Berhasil Abadikan Kemunculan Komet Swan

 Observatorium Astronomi Itera Lampung (OAIL) berhasil mengabadikan kemunculan Komet C/2020 F8 (Swan)  menggunakan teleskop Lunt Engineering 80 ED, jenis refraktor doublet akromatik Rabu, 6 Mei 2020 pukul 04.55 WIB.

Komet tersebut diperkirakan akan semakin cerah dalam beberapa hari mendatang dan dapat diamati oleh masyarakat.

Pengamat OAIL, Aditya Abdillah Yusuf, S.Si., menyebut komet Swan oleh para astronom disebut sebagai komet terbaik yang bisa dilihat tahun ini.

“Bahkan hingga akhir Mei, komet Swan akan menjadi target untuk pengamatan, baik dengan alat ataupun dengan mata telanjang,” katanya, Jumat (8/5).

Komet Swan diperkirakan melewati Bumi paling dekat pada 13 Mei dan paling dekat dengan matahari pada 27 Mei 2020.

Namun perlu diingat, komet adalah benda langit yang sangat mudah berubah-ubah. Komet bisa berubah sangat cerah dan mudah diamati dengan mata telanjang, akan tetapi juga mungkin tiba-tiba memecah dan pudar sehingga sulit teramati.

Berdasarkan data, Komet swan melesat dengan kecepatan 48.996 kilometer per detik akan melintasi Bumi dalam perjalanannya mengorbit Matahari.

Komet ini kemungkinan berasal dari Oort Cloud, sebuah lokasi sekitar 100 ribu unit astronomi atau 100 ribu kali jarak Bumi dan Matahari.

Adit menambahkan, kebanyakan orang kerap menyebut komet sebagai bintang berekor. Namun sebenarnya Komet Swan bukanlah bintang. Secara keseluruhan ada miliaran komet yang mengorbit matahari.

Benda langit tersebut akan masuk ke dalam orbit karena gaya gravitasi Matahari. Setiap komet memiliki kesamaan yaitu batuan beku di intinya yang disebut nukleus. Bagian itu terukur berdiameter beberapa kilometer saja. Bagian ini berisi es, gas beku dan sedikit debu.

Sebuah komet akan menghangat dan mengembang menciptakan atmosfer atau coma seiring mendekat ke Matahari. Panas Matahari lalu akan membuat inti es pada komet berubah menjadi gas sehingga coma semakin besar atau berkembang hingga ratusan ribu kilometer.

Tekanan dari sinar dan angin matahari yang berkecepatan tinggi. Debu dan gas dalam coma yang tertiup menjauhi matahari itu bisa sangat panjang dan terang terdiri dari gas dan ion yang pada akhirnya masyarakat menjuluki sebagai bintang berekor.

Secara terpisah, Kepala UPT OAIL Dr. Hakim L. Malasan, M.Sc. menyebut selain melakukan pengamatan komet Swan, OAIL Itera juga selalu eksis menghadirkan citra obyek langit dan menyuguhkan edukasi astronomi bagi masyarakat luas.

Bagi masyarakat yang ingin mengetahui seputar hasil pengamatan OAIL juga dapat mengaksesnya melalui media sosial dan website OAIL.

EDITOR : Adi

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

Baca Juga

Prodi DKV Itera Gelar Pameran Secara Virtual

 Program Studi (Prodi) Desain Komunikasi Visual (DKV) Institut Teknologi Sumatera (Itera) untuk pertama kalinya menggelar pameran karya secara...

Mahasiswa Farmasi Itera Salurkan Donasi Untuk Terdampak Covid-19

 Mahasiswa Institut Teknologi Sumatera (Itera) yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Farmasi (Himafa) Itera menyerahkan bantuan hasil dari pengalangan...

Pertama Di Sumatera, ITERA Resmi Buka Prodi Sains Data

Institut Teknologi Sumatera (ITERA) resmi membuka Program Studi (Prodi) Sains Data. Hal tersebut berdasarkan Surat Keputusan Menteri...

2.075 Peserta Lolos SNMPTN Itera

 Sebanyak 2.075 pendaftar lolos Seleksi Nasional Masuk Peguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) di Institut Teknologi Sumatera (Itera) yang diumumkan Rabu (8/4/2020)....
Translate »