23.9 C
Bandar Lampung
Kamis 16 Juli, 2020 07:05 WIB
Beranda OPINI New Normal Atau Norma Baru?

New Normal Atau Norma Baru?

Oleh Dr. Andi Desfiandi, SE,. MA

PEMERINTAH merencanakan penerapan new normal atau “kenormalan baru”, yakni “pelonggaran” daerah zona hijau dengan tetap menjalankan protokol kesehatan.

Secara bertahap aktifitas perekonomian, sekolah, tempat ibadah, pasar dan lain-lain kembali seperti sebelum adanya pandemi Covid-19.

Pemerintah tentunya berniat agar terjadi keseimbangan bagi rakyat untuk kembali beraktifitas sebelum pandemi Covid-19 benar-benar berakhir kelak.

WHO menetapkan enam kriteria dan pemerintah menetapkan tiga kriteria untuk bisa menerapkan new normal untuk daerah zona hijau atau daerah yang penyebaran Covid-19 sudah terkendali.

Beberapa negara maju sudah menerapkan new normal termasuk negara-negara yang sebelumnya menerapkan lock down karena penyebaran virus corona sudah terkendali dan menurun drastis.

Kebijakan tersebut dilakukan Korea Selatan, Jerman, Tiongkok dan lain-lain yang kemungkinan alasannya agar ekonomi negara dan rakyatnya tak semakin buruk dan bisa mengarah ke krisis ekonomi.

Namun, setelah penerapan new normal, penyebaran virus Covid-19 meningkat sangat tajam di negara-negara tersebut akibat msyarakatnya masih ada yang lalai menjalankan protokol kesehatan.

Akhirnya, Korea Selatan kembali menerapkan pembatasan dengan ketat protokol kesehatan Covid-19 terhadap masyarakat dan dunia usahanya.

Bagaimana dengan Indonesia?

Apakah akan berhasil atau nasibnya akan sama dengan Korea Selatan, Jerman, Tiongkok dan lain-lain yang sempat melonggarkan pembatasan penyebaran virus di negara-negara tersebut?

Apalagi, masyarakat Indonesia tidak semuanya memahami apa maksud dari new normal.

Kedisiplinan kita juga jauh di bawah negara-negara tersebut.

Jangan-jangan, ada masyarakat yang menganggap bahwa “kenormalan baru” itu maksudnya kembali ke kehidupan seperti sebelum pandemi.

Sehingga, semakin banyak masyarakat yang akhirnya mengabaikan protokol kesehatan dalam usaha mempercepat penanganan pandemi Covid-19.

Tak mudah menerapkan new normal.

Pemerintah dan elemen masyarakat, termasuk tokoh masyarakat dan agama, harus bersama-sama melakukan sosialisasi dan edukasi bahwa new normal itu sudah tidak “normal” lagi.

Kita semua harus memahami bahwa pandemi Covid-19 masih berlangsung dan belum diketahui kapan berakhirnya.

Apalagi ada kemungkinan virus tersebut terus bermutasi sehingga vaksin maupun obat yang nanti akan ditemukan tak bisa digunakan untuk virus yang sudah bermutasi.

Mereka yang disiplin terhadap kebiasaan baru atau tatanan baru agar dapat hidup berdamai agar menjadi pemenang melawan Covid-19.

Saya lebih cenderung menerjemahkan new normal atau norma baru sebagai tuntutan untuk berperilaku baru, tatanan baru, standar baru, atau aturan baru dalam menjalani seluruh aktifitas agar dunia benar-benar bebas dari virus corona.

Pada akhirnya, kebiasaan-kebiasaan baru tersebut menjadi “budaya baru”,

Menurut saya, istilah “norma baru” lebih mudah dipahami oleh masyarakat dibandingkan dengan new normal .

Selain istilah terebut asing bagi sebagian besar masyarakat, istilah “norma baru” lebih pas buat nenghindari salah persepsi bahwa hidup dan perilaku kita sudah tidak bisa normal lagi.

Pilihan untuk menjalankan “norma baru” memang pilihan yang juga akan menimbulkan pro dan kontra tapi pasti mayoritas akan setuju.

Alasanya , tidak akan ada satupun negara atau masyarakat yang sanggup bertahan hanya dengan berdiam diri saja.

Namun, kebijakan tersebut harus melalui kajian yang mendalam dan hati-hati serta harus juga mempersiapkan skenario terburuk.

Mari kita semua bersiap menyongsong era “norma baru” dengan beradaptasi dan merubah kebiasaan agar tetap mematuhi protokol kesehatan.

Selamat nemulai beraktifitas secara bertahap dan jangan lupa untuk selalu berdoa kepada Tuhan YME.
Wallahualam

Dr. Andi Desfiandi, SE,. MA
Ketua DPP Pejuang Bravo Lima Bidang Ekonomi
Ketua IKA Unpad Komda Lampung
Ketua Lembaga Perekonomian NU Lampung

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

Baca Juga

Yuhadi Merasa Tak Dihargai Hanya Diterima Office Boy

Pada pidato pembukaan Musda X Golkar Bandarlampung, sebagai petinggi partai, Yuhadi merasa tak dihargai hanya diterima office boy (OB) ketika memberikan bantuan APD di...

Erwin, Dosen Unila Dan Mantan Bupati, Meninggal Dunia

Bupati Lampung Timur periode 2011-2015, Erwin Arifin meninggal dunia di RS Urip Sumoharjo, Kota Bandarlampung, Rabu sore (15/7). Erwin yang meninggal karena sakit dalam usia...

Ini Kepengurusan Golkar Kota Bandarlampung

Selang beberapa jam terpilih kembali memimpin DPD II Partai Golkar Kota Bandarlampung, Yuhadi langsung menyusun "kabinet" kepengurusannya. Wajah-wajah kader senior partai ini masih mewarnai kepengurusan...

Baru Lamsel Dan Lamtim Realisasikan Anggaran Pilkada 100 Persen

 Hingga 15 Juli sebagai hari terakhir batas kelonggaran bagi pemerintah daerah untuk melakukan transfer anggaran pilkada 100 persen...
Translate »