RMOLLampung. Bedah Buku ‘Bumi Manusia’ Karya Pramoedya Ananta Toer yang diselenggarakan oleh HMI Komisariat Tarbiyah IAIN Metro Bidang Penelitian Pengembangan dan Pembinaan Anggota berlangsung Sabtu (26/10) pukul 13.30 WIB di Caffe Mama, Kota Metro.
 
Peserta berasal dari anggota HMI serta Mahasiswa pegiat literasi. Bedah buku ini menghadirkan Dyan Ahmad Saputra sekaligus beliau menjabat sebagai Pengurus Besar HMI. Sebagai pemandu acara Agung Wiratama yang juga selaku Ketua Bidang Penelitian Pengembangan dan Pembinaan Anggota.

Buku ini memiliki tebal 535 halaman dan berisi tentang perjalanan seorang tokoh bernama Minke. Minke adalah salah satu anak pribumi yang sekolah di HBS.

Minke digambarkan sebagai seorang revolusioner dibuku ini. Ia berani melawan ketidakadilan yang terjadi pada bangsanya. Ia juga berani memberontak terhadap kebudayaan Jawa, yang membuatnya selalu di bawah.

Selain tokoh Minke, buku ini juga menggambarkan seorang Nyai” yang bernama Nyai Ontosoroh yang dianggap sebagai perempuan yang tidak mempunyai norma kesusilaan karena setatusnya sebagai seorang istri simpanan.

Dyan Ahmad Saputra mengatakan bahwa pesan yang ingin disampaikan oleh penulis adalah dimana kisah Romansa Minke dan Annelies hanyalah perahu pengantar saja.

“Kisah Minke & Annelies ini hanya perahu pengantar saja, sisanya bagaimana penjabaran Pram tentang feodalisme,feminisme, kolonialisme, percintaan dan kemanusiaan,i sinya kompleks dan paket komplit ini buku,” ujarnya.

Agung Wiratama juga menambahkan, suatu hal yang menarik memang Pram berhasil membalut naskah sejarah kemudian di sajikan dalam bentuk novel seperti ini.

Bagaimana tidak paket komplit? Dalam buku ini kita belajar banyak hal, Pram berhasil membalut naskah sejarah yang mungkin anak muda zaman sekarang sudah enggan membaca karena berkesan membosankan, kemudian disajikan dalam bentuk novel. Tentu ini layak di jadikan formula sebagai pembangkit gairah membaca,” tambahnya.

Windo Tarnando, Ketua Umum Komisariat Tarbiyah IAIN Metro mengatakan dengan banyak berdiskusi maka kita sama saja memupuk wawasan.

Tidak ada alasan untuk tidak ikut berdiskusi,dalam waktu saya yang sibuk saja, saya sempat kan menghadiri acara diskusi ini. Maka untuk teman-teman yang belum tergerak hatinya mari kita perbanyak diskusi karena itu bisa memupuk wawasan kita,’ ujarnya.

Windo Tarnando berharap dDengan adanya kajian rutin seperti ini kader ataupun mahasiswa memiliki gairah baca buku kembali. Tujuannya supaya mahasiswa memiliki budaya literasi dan wadah untuk berdiskusi.

Dyan Ahmad Saputra menyimpulkan bahwa peran manusia itu sejatinya sangatlah penting dalam perubahan sosial yang kian mundur, seperti yang diterangkan oleh Nyai Ontosoroh salah satu karakter kuat.

Nyai Ontosoroh mengatakan jangan anggap remeh si manusia yang kelihatan nya juga begitu sederhana, biar penglihatan mu setajam elang; pikiranmu setajam pisau cukur, perabaanmu sepeka dewa pengetahuan mu tentang manusia tidak akan pernah kemput.

Di akhir acara yang sangat antusias Dimas salah seorang kader HMI Komisariat FKIP menutup acara dengan penggalan puisi dengan tajuk feodalisme. [adp]

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here