SETIAP orang punya kebebasan untuk mempercayai atau tidak terhadap hasil survei. Termasuk hasil survei yang dilakukan berbagai lembaga guna mengukur tingkat elektabiltas calon gubernur-wakil gubernur Lampung untuk pemilihan tanggal 27 Juni 2018 mendatang.

Kemudian sah-sah saja bila ada yang berpendapat, bahwa sosok kandidat yang unggul dalam survei belum tentu meraih kursi gubernur. Sebaliknya, begitu juga bagi sosok yang tak diunggulkan, belum tentu tidak akan meraih kursi kekuasan itu.

“Hasil survei bisa berbeda jauh dari kenyataan di lapangan…..kala itu diikuti Anies Baswedan yang memiliki elektabilitas rendah, ternyata justru keluar sebagai pemenang,” begitu kutipan singkat pernyataan salah satu paslon gubernur Lampung yang tersebar di media massa.

Pernyataan yang memperlihatkan ketidakakuratan. Terlihat lemahnya informasi, pengetahuan dan pemahamannya tentang hasil lembaga survei, terkait peluang Ahok-Djarot dan Anies-Sandi menjadi Gubernur DKI Jakarta.

Sekadar mengingatkan, beberapa data yang ditransmisikan media massa (bisa diperoleh dengan mudah oleh siapa saja), setidaknya oleh lima lembaga survei. Hanya satu lembaga survei yang menyebut elektabilitas Basuki Tjahaja Purnaa (Ahok)-Djarot unggul. Empat lainnya mengatakan elektabiilitas  Anis-Sandi unggul pada kontestasi meraih kursi Gubernur DKI Jakarta pada pemungutan suara tanggal 19 April 2017.

Rabu, 12 April 2017, Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) mengungkapkan hasil surveinya. Elektabilitas Ahok-Djarot  hanya sebesar 46,9 persen. Sementara elektabilitas Anies -Sandi sebesar 47,9 persen. Adapun 5,2 persen responden menyatakan tidak tahu dan tidak menjawab. Survei tersebut digelar pada 31 Maret-5 April 2017.

Metode penelitian menggunakan stratified systematic random sampling dengan margin of error 4,7 persen.

Kamis 13 April 2017, LSI Denny JA Lingkaran Survei Indonesia (LSI) membuka hasil surveynya. Pasangan Ahok-Djarot memiliki elektabilitas sebesar 42,7 persen dan pasangan Anies-Sandi elektabilitasnya sebesar 51,4 persen.
Responden dalam survei sebanyak 440 orang. Survei dilaksanakan pada 7-9 April 2017 dengan metode multistage random sampling dan margin of error kurang lebih 4,8 persen.

Sabtu 15 April  2017, Median Media Survei nasional (Median) membuka hasil survei terbarunya. Dalam survei yang digelar pada 13-14 April 2017, Ahok-Djarot memiliki elektabilitas 47,1 persen, sementara elektabilitas Anies-Sandi 49 persen.

Sisanya, 3,9 persen responden menyatakan belum menentukan pilihan. Survei dilakukan terhadap 550 responden warga DKI Jakarta yang memiliki hak pilih dengan metode multistage random sampling, dan margin of error sebesar lebih kurang 4,2 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Indikator Politik Indonesia membuka hasil survey. Ahok-Djarot meraih suara 47,4 persen responden. Sementara itu, Anies-Sandi dipilih oleh 48,2 persen responden. Survei Indikator dilaksanakan pada 12-14 April 2017 terhadap 495 responden di seluruh wilayah Jakarta.

Metode survei yang digunakan yakni stratified systematic sampling dengan margin of error kurang lebih 4,5 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Sabtu, 15 April 2017, Charta Politika melakukan survei terhadap 782 responden di seluruh wilayah DKI Jakarta. Tingkat elektabilitas Ahok-Djarot sebesar 47,3 persen dan Anies-Sandi 44,8 persen. Survei dilakukan dalam bentang waktu  7-12 April 2017.. Metode yang digunakan multistage random sampling dengan margin of error kurang lebih 3,5 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Sementara jumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT) Pilgub DKI yang ditetapkan KPU sebanyak  7.218.254 orang. Lembaga-lembaga survei diatas  mengambil responden dalam bentangan antara 440 orang –  800 orang.

Pada sisi metode, lembaga survei  diatas menggunakan pendekatan  multistage random sampling. Sementara margin of error-nya, berada antara 3,5 persen – 4,8 persen. 

Akuratkah hasil lembaga-lembaga survei tadi? Jawabannya muncul pada Minggu 30 April 2017 dini hari, KPU DKI Jakarta mengesahkan hasil rekapitulasi penghitungan suara tingkat provinsi. Perolehan suara Anies-Sandi  sebanyak  57,96 persen. Adapun Ahok-Djarot meraih 42,04 persen suara.

Bahkan tingkat raihan suara kemenangan Anies-Sandi melampaui perkiraan keunggulan yang dihasilkan lembaga-lembaga survei.

Jadi, nyata, terlepas dari aspek lain yang tidak diketahui publik, bahwa hasil survei yang dilakukan lembaga-lembaga survei, cukup signifikan sebagai gambaran akan hasil kontestasi dalam sebuah Pilkada.

Memang ada lembaga survei yang meleset melakukan perkiraan terhadap sosok kandidat yang akan unggul, tapi tidak banyak jumlahnya. Hanya faktanya lebih banyak lembaga survei yang benar dalam memperkirakan sosok kandidat yang akan unggul dalam pemilihan kepala daerah.[simak 2]

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here