23.2 C
Bandar Lampung
Selasa 14 Juli, 2020 04:45 WIB
Beranda OPINI Mengapa Gubernur Pusing?

Mengapa Gubernur Pusing?

BEBERAPA hari terakhir media online dan media sosial di Lampung kembali ramai oleh berita dan perbincangan tentang perilaku Gubernur Lampung terhadap jurnalis. Perilaku berulang yang menurut sebagian orang sudah menjadi karakter alias tabiat. Tabiat yg ditandai dengan sikap marah, kasar dan terkesan arogan.

Ada beberapa yang berkomentar bahwa itu adalah bawaan badan yang sudah mendarah daging, sebagian lagi bilang itu adalah Dunning-Krueger Effect, yaitu bias kognitif ketika seseorang yang tidak memiliki kemampuan mengalami superioritas ilusif, artinya ia merasa kemampuannya lebih hebat daripada orang lain. Bias ini diakibatkan oleh ketidakmampuan orang tersebut untuk mengetahui dan mengakui segala kekurangannya. Efek ini menyebabkan seseorang cenderung berlebihan menilai kemampuan dirinya sendiri dan cenderung merendahkan kemampuan orang lain.

Sebagian lagi bilang itu Waham Kebesaran atau grandiose, di mana seseorang merasa memiliki bakat, kemampuan, kekuasaan dan status yang membumbung tinggi, serta meyakini bahwa dirinya telah melakukan suatu pekerjaan amat penting dan hebat. Sehingga merasa bahwa hanya dirinyalah yg terpenting dari semua peristiwa yang terjadi disekitarnya, sementara orang lain hanyalah pelengkap yg tidak berarti.

Dalam konteks kepemimpinan, menurut Ashley Merryman di salah satu publikasi Washington Post, sikap marah, kasar, dan arogan seorang pemimpin yang terjadi berulang-ulang merupakan salah satu tanda bahwa dirinya tidak kompeten dalam memimpin.

Saya tidak akan memperpanjang bahasan yang terkait erat dengan studi psikologi ini apalagi menelusurinya sampai pada kemungkinan gangguan hormon dopamin dalam perspektif neurologi. Saya lebih tertarik untuk membahas kata-kata yg terucap ketika ucapan yg dianggap kasar oleh publik itu terlontar, ÔÇ£saya ini lagi pusingÔÇØ, kira-kira itulah kata-katanya.

Apakah gerangan yg telah membuat Gubernur Lampung menjadi begitu pusing sampai menyebabkan beliau kesulitan menguasai emosinya? Bagi saya ini jauh lebih menarik untuk ditelisik.

Ada yang berbeda dari kemarahan Gubernur Lampung dengan kemarahan ex Gubernur DKI Basuki Tjahaja atau Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo atau Walikota Surabaya Tri Risma. Dari arsip laman daring bisa kita lihat bahwa kemarahan Basuki, Ganjar dan Risma terjadi dengan spontan karena mereka melihat atau menemukan sesuatu yang buruk terkait langsung dengan pekerjaan dan kemarahan mereka pun langsung ditujukan kepada staf mereka yang kinerjanya mengecewakan.

Publik pun dengan mudah menjadi mafhum dan maklum, mengerti mengapa mereka marah dan memaklumi kemarahan itu. Jika saja kita bisa mengetahui apa penyebab kemarahan Gubernur Lampung mungkin saja kemudian kita juga bisa memaklumi kemarahan beliau walaupun akan tetap sulit dimengerti mengapa kemarahan itu malah ditumpahkan kepada awak media.

Penulis bukan cenayang yang memiliki kemampuan khusus bisa menerawang benak orang lain, penulis hanya bisa menduga-duga saja melalui rentetan peristiwa dan mencoba berempati menempatkan diri seolah-olah berada pada posisi beliau sebagai Gubernur Lampung agar dapat sedikit memahami kegundahan yg beliau rasakan.

Memang tidak semua orang mengetahuinya, tetapi tampaknya sebagian besar orang yg aktif terlibat atau mengamati dinamika politik dan pemerintahan di Lampung secara umum pernah mendengarnya, hubungan inter-personal antara Gubernur Arinal dengan Gubernur Lampung sebelumnya kurang baik. Hubungan buruk yang konon sudah terjadi sejak beliau masih menjadi Sekretaris Daerah Provinsi pada masa pemerintahan Gubernur Ridho. Kita tidak perlu masuk terlalu dalam terkait sebab musabab buruknya hubungan antar mereka, walaupun sebagian pembaca mungkin sudah mengetahuinya. Hubungan buruk tersebut secara subyektif menurut penulis sepertinya cukup membekas dalam benak Gubernur Arinal.

Secara langsung penulis pernah beberapa kali mendengarnya, tentu masih banyak lagi orang lain yang  juga pernah mendengarnya. Pada berbagai kesempatan khususnya di tengah-tengah lingkaran dalamnya, Gubernur Arinal seringkali menyatakan keyakinannya bahwa dirinya jauh lebih baik dan kompeten daripada pendahulunya dan ia sangat meyakini bahwa kinerjanya akan jauh lebih baik dalam memimpin Lampung daripada pendahulunya. Tidak ada yg salah dengan sikap itu karena seorang pemimpin yg baru tentu harus mampu menularkan optimisme kepada seluruh rakyat yang dipimpinnya dan itu dimulai dari lingkaran dalam (inner circle) dan tim kerja beliau sendiri. Mungkin satu dua kali beliau sedikit melampaui batas dalam mengemukakan keyakinannya itu, dengan membanding-bandingkan jarak usia dan pengalaman bekerja di bidang pemerintahan yg tentu sangat jauh berbeda. Beliau meyakini dirinya jauh lebih berpengalaman dari sisi kompetensi karena lebih matang dari sisi usia dibandingkan Gubernur Lampung sebelumnya.

Penulis khawatir perjalanan satu tahun pertama ini walaupun di permukaan tidak ditampakkan, bisa jadi dalam hati kecilnya Gubernur Arinal mengakui bahwa kinerja, output dan outcome nya belum sebaik yg selama ini beliau harapkan dan yakini. Dari angka-angka statistik yang dipublikasikan oleh BPS sepertinya beliau dengan pahit harus mengakui bahwa raport kinerja tahun pertamanya belum mampu melampaui capaian kinerja tahun pertama Gubernur Lampung sebelumnya yang selama ini dianggapnya kurang berpengalaman dan tidak sekompeten dirinya.

Beliau tidak pernah menduga Nilai Tukar Petani (NTP) di Lampung akan jatuh sampai begitu rendahnya ke angka 91,51. NTP paling rendah Provinsi Lampung selama 16 tahun terakhir. Padahal selama 12 tahun terakhir di Sumatera NTP Lampung selalu menempati Juara I, sempat menjadi runner up di tahun 2015. Hari ini posisi Lampung melorot jauh menjadi posisi kesembilan dari sepuluh provinsi di Sumatera, runner up terendah dari bawah dan jauh di bawah rata-rata NTP Nasional.

Dapat kita bayangkan betapa terpukulnya psikologis Gubernur Arinal, riwayat pendidikan dan pengalaman panjangnya di bidang pertanian seakan-akan menjadi tidak berarti apa-apa. Janji peningkatan kesejahteraan dalam kampanyenya kepada 2,2 jt rakyat Lampung yang bekerja di sektor pertanian masih jauh panggang dari api, kecuali angka BPS itu palsu maka hari ini kondisi petani Lampung justru semakin buruk dibandingkan setahun yg lalu dan dibandingkan dengan provinsi lainnya di Sumatera.

Angka Produksi Padi Provinsi Lampung juga menurun, jika pada tahun 2018 masih sebanyak 2,488 juta ton, maka pada tahun 2019 produksi padi hanya sebanyak 2,164 juta ton. Merosot sebesar 13,03% sebanyak 324 ribu ton. Angka Produksi Beras juga mengalami hal sama, jika pada tahun 2018 produksi beras masih sebanyak 1,423 juta ton, maka pada tahun 2019 produksi beras hanya sebanyak 1,237 juta ton. Merosot sebesar 13,01% sebanyak 185 ribu ton.

Tampaknya setelah setahun memimpin Lampung, di bidang pertanian Gubernur Arinal terpaksa harus menerima kenyataan tidak menyenangkan, ia belum mampu membuktikan keyakinan dirinya selama ini bahwa ia jauh lebih kompeten daripada gubernur sebelumnya.

Deretan angka-angka BPS sampai Mei kemarin masih bertentangan dengan keyakinan dan janji kampanyenya. Jurus pamungkas yg sudah lama digadang-gadangnya pun, Kartu Petani Berjaya (KPB), belum juga dapat digunakan dan dirasakan manfaatnya, baru tidak sampai 1% petani di Lampung yang sudah teregistrasi dalam program andalan ini.

Angka Pertumbuhan Ekonomi Lampung yg juga menurun tajam di bawah rata-rata Sumatera dan Nasional tampaknya turut membuat Gubernur Arinal semakin pusing. Melorotnya posisi angka pertumbuhan ekonomi Lampung ke posisi delapan dari sepuluh provinsi di Sumatera tentu menjadi noda yang mengotori mimpi indahnya.

Gubernur sebelumnya yg dianggap masih terlalu muda dan belum berpengalaman tidak pernah mengalami kejadian buruk seperti ini, biasanya Lampung menduduki papan atas di Sumatera, di posisi pertama, kedua atau paling rendah di posisi ketiga.

Besaran nilai ekspor pun belum bisa dibanggakan, masih di bawah Sumatera Selatan dan Kepulauan Riau apalagi jika dibandingkan dengan Sumatera Utara dan Riau yg nilai ekspornya tiga sampai lima kali lipat nilai ekspor Lampung.

Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Lampung dalam pengukuran BPS di rentang waktu Februari 2019 – Februari 2020 juga menunjukkan trend yg tidak menggembirakan. Ketika TPT di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau dan Sumatera Selatan grafiknya menurun, TPT di Lampung justru meningkat. Sejak Februari 2019 sampai Februari 2020 pengangguran di Lampung cenderung bertambah ketika di banyak provinsi lain di Sumatera justru berkurang. Upah Minimum Regional (UMR) Provinsi Lampung juga masih menjadi yg terendah kedua dari provinsi lainnya di Sumatera, bahkan Rata-rata Upah Buruh di Lampung masih menempati posisi juru kunci di Sumatera. Angka-angka ini juga tentu terasa tidak menyenangkan bagi Gubernur Arinal karena sekali lagi statistik menunjukkan bahwa dirinya belum bisa membawa kondisi ketenagakerjaan di Lampung menjadi lebih baik daripada gubernur sebelumnya.

Bagi seluruh gubernur di Indonesia, pandemi Corona memang menjadi ujian yg berat, tetapi sebagian gubernur dapat melaluinya dengan baik dan justru memetik simpati rakyat. Beberapa gubernur seperti mendapat momentum mendongkrak popularitas serta elektabilitas mereka karena rakyat mengakui dan menyukai respon mereka secara personal dan kebijakan mereka secara kelembagaan. Tetapi hal itu tampaknya tidak terjadi pada Gubernur Arinal, apalagi jika kita hanya mengukur sikap publik dari pemberitaan di media online dan percakapan di media sosial saja. Rekam jejak digital hanya mencatat pujian datang dari ketua fraksi Partai Golkar DPRD Provinsi, dua rektor perguruan tinggi negeri di Lampung dan dari seorang anggota DPR-RI Partai Golkar asal Daerah Pemilihan Sumatera Selatan. Kemenangan Pemerintah Provinsi Lampung pada Lomba Video Inovasi New Normal pun disambut publik biasa-biasa saja bahkan cenderung sinis, apalagi belakangan penyelenggara lombanya Kemendagri dibully habis-habisan oleh netizen dan tokoh-tokoh nasional.

Pembangunan infrastruktur sepertinya juga turut menjadi penyumbang kepusingan Gubernur Lampung. Penghentian proses pengadaan barang dan jasa dari Dana Alokasi Khusus (DAK) dan ancaman pengurangan Dana Alokasi Umum (DAU) akibat kelalaian dan keterlambatan melakukan realokasi dan refocusing tentu saja memaksa janji perbaikan dan peningkatan infrastruktur di Lampung menjadi tertunda. Pembuktian bahwa kemampuan dirinya lebih baik daripada gubernur sebelumnya pada pembangunan infrastruktur pun terpaksa harus ditunda, dari perspektif lain bisa jadi pandemi Corona justru menjadi penyelamat karena bisa dikambinghitamkan atas pembangunan infrastruktur yg belum bisa berjalan optimal. Desas-desus lain terkait pembangunan infrastruktur ini rasanya menjadi terlalu abstrak dan sumir untuk dibahas, walaupun sangat mungkin desas-desus itu juga menjadi salah satu penyebab pusingnya gubernur.

Kerjasama dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui skema B to B (business to business) yg dulu pernah dirintis pada masa pemerintahan sebelumnya, setelah setahun masih juga belum mengalami kemajuan. Karena restrukturisasi dan refocusing BUMD-BUMD milik Pemerintah Provinsi Lampung tidak juga kunjung selesai, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akhirnya melakukan kerjasama dengan Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur untuk memastikan kebutuhan pasokan 14 komoditi pangan untuk 152 pasar milik PD Pasar Jaya dapat terjamin mampu memenuhi kebutuhan masyarakat Jakarta. Kalaupun ada komoditi pangan yg mereka perlukan dari Lampung, BUMD DKI telah berhubungan bahkan berinvestasi langsung dengan produsennya di Lampung tanpa melalui BUMD atau Pemerintah Provinsi Lampung. Tampaknya untuk urusan inipun Gubernur Arinal belum mampu menuntaskan rencana kerjasama yg dulu dirintis dan dikancah oleh Gubernur Lampung sebelumnya.  Sesungguhnya penulis sudah pernah mendengar cerita di balik layar dari beberapa orang yg cukup dekat dengan Gubernur Anies terkait pembicaraan Lampung-Jakarta soal sumur minyak di perairan timur yg berada di perbatasan kedua provinsi dan pembicaraan tentang kerjasama dan investasi DKI di Lampung. Saya memilih tidak menceritakannya pada tulisan ini untuk menghindari kesan mempermalukan orang-orang tertentu.

Penulis juga pembaca mungkin juga sudah mendengar kabar burung tentang restrukturisasi dan deformasi jajaran birokrasi di lingkungan Pemprov Lampung yg prosesnya disinyalir masih jauh dari prinsip merit system. Proses yg masih belum memenuhi harapan para ASN dan masyarakat bahkan mengecewakan beberapa orang tokoh yg selama ini dikenal sangat dekat dengan Gubernur Arinal. Jika kabar burung itu benar maka masalah ini juga tampaknya menjadi salah satu penyebab pusingnya Gubernur Lampung.

Minggu lalu penulis mendapatkan informasi yg sangat menarik dari pimpinan salah satu lembaga survey nasional terkemuka, mereka telah melakukan survey di delapan daerah yg akan mengikuti Pilkada Serentak 2020. Ada daerah yg baru satu kali disurvey dan ada daerah yg sudah dua bahkan tiga kali mereka survey. Lembaga survey memang lazim menambah pertanyaan pada daftar kuesioner yg dibawa surveyor mereka ke lapangan walaupun pertanyaan tambahan itu tidak menjadi bagian dari laporan kepada klien dan tidak dipublikasikan. Dalam survey-survey di delapan daerah yg akan pilkada akhir tahun ini mereka menyisipkan pertanyaan terkait kepimpinan nasional dan Provinsi Lampung. Mereka bertanya apakah responden merasakan perubahan dan merasa puas dengan kinerja Gubernur Arinal, mereka juga bertanya jika pemilihan gubernur dilakukan hari ini siapa-siapa saja yg sudah dikenal dan akan dipilih.

Secara umum hasilnya tidak terlalu mengejutkan, lebih dari 50% responden tidak tahu atau tidak menjawab ketika ditanyakan tentang kinerja gubernur, ini tentu menjadi pekerjaan rumah bagi kehumasan pemerintah provinsi. Sikap tidak tahu dan tidak menjawab biasanya disebabkan oleh sosialisasi yg lemah atau tidak menarik. Dari 40% responden yg menjawab, hanya sepertiganya yg menganggap kinerja Gubernur Arinal sudah cukup baik, sementara dua pertiganya menyatakan belum baik dan tidak merasakan perubahan. Pada pertanyaan terbuka (top of mind) tentang calon gubernur yg dikenal dan dipilih jika pilgub dilakukan pada hari ini, hasilnya cukup mengejutkan. Wakil Gubernur Nunik menjadi yg paling populer dan paling tinggi elektabilitasnya baru kemudian Gubernur Arinal, Walikota Herman dan mantan Gubernur Ridho masih berada pada posisi ketiga dan keempat. Belum ada nama-nama baru yg cukup signifikan persentasenya di luar keempat nama tersebut. Pendekatan interpersonal Wagub Nunik melalui berbagai kunjungan langsung ke lapangan dan pengelolaan akun media sosialnya yg cukup aktif tampaknya memberi bonus elektoral tersendiri. Tentu saja hasil ini tidak dapat diyakini penuh 100% validitasnya karena survey-survey yg dilakukan hanya pada delapan daerah dan tidak dalam rentang waktu yg sama. Memang tidak ideal secara metodologi, tetapi mengabaikannya begitu saja juga terlalu sembrono karena walaupun hanya delapan dari 15 kabupaten/kota di Lampung, delapan daerah itu jumlah mata pilihnya sudah mendekati tiga per empat jumlah mata pilih di Lampung. Sebaiknya setelah setahun memimpin Gubernur Arinal melalui lembaga survey yg kredibel melakukan survey untuk mengukur tingkat penerimaan dan kepuasan publik terhadap kinerjanya.

Itulah beberapa masalah yg mungkin menjadi penyebab pusingnya Gubernur Arinal, masalah-masalah yg terkait program dan kebijakan beliau selama tahun pertama kepemimpinannya. Pada tulisan lain sepertinya akan menarik jika kita mencoba menelisik penyebab kepusingan lainnya di luar urusan pemerintahan, misalnya terkait posisi beliau sebagai Ketua Partai Golkar Provinsi Lampung. Bahwa ada hal-hal lain yg bersifat privat atau domestik tentu saja tidak boleh dibincangkan apalagi dituangkan dalam tulisan, karena sebagai rakyat kita tetap harus menghormati wilayah pribadi para pemimpin kecuali problem pribadi itu nyata-nyata sudah mengganggu jalannnya pemerintahan. Sebagai Ulun Lampung yang beradat, kita tetap harus menjaga adab dan sopan santun kita tanpa harus mengurangi ketajaman pandangan dalam kritik dan saran yg kita sampaikan. Tabik!

Penulis: Nizwar Affandi

Alumni FISIP Unila dan FISIP UI

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

Baca Juga

Setahun Arinal-Nunik, Akademisi Nilai 33 Janji Kerja Masih Cai Bucai

Oleh Syafarudin SIBUK berkemas-kemas menyambut era new normal dan siaga Covid-19, sebagian kita mungkin lupa bahwa 12 Juni setahun lalu di Istana Negara Jakarta dilantiklah...

Lancang Kuning Menentang Badai (2)

Oleh Nizwar Affandi* BANYAK yang bertanya kepada penulis, apakah tulisan kemarin merupakan lanjutan dari serangkaian tulisan sebelumnya, jawabannya tentu saja bukan. Rangkaian tulisan sebelumnya membahas tentang...

Lancang Kuning Angkat Sauh, Pasang Mata Dan Telinga Agar Tak Karam (1)

Oleh Nizwar Affandi SEBAGAI salah satu dari tiga kelompok induk organisasi (kino) pendiri Sekretariat Bersama Golongan Karya 56 tahun yang lalu, Ormas MKGR Provinsi Lampung...

Korban PHK Numpuk Di Bakauheni, Gubernur Lampung Surati Para Gubernur Se-Sumatera

Gubernur Lampung Arinal Djunaidi mengeluarkan surat edaran (SE) agar para gubernur se-Sumatera melarang warga KTP daerahnya atau provinsi lain mudik dari Sumatera ke Jawa. Alasannya...
Translate »