23.8 C
Bandar Lampung
Minggu 31 Mei, 2020 03:18 WIB
Beranda OPINI Menebar Rapid Test, Kenapa Malah Menuai Kegaduhan

Menebar Rapid Test, Kenapa Malah Menuai Kegaduhan

Oleh Rakhmat Husein DC

SAHABAT saya yang selama ini dalam banyak hal dikenal keras mengkritik Wali Kota Herman HN mengirim chat ke saya kemarin.

Isi chat-nya:Makanya gw gak mau ngomongin Herman HN lagi. Kasian sudah kerja tapi masih jauh dari harapan karena keuangan terbatas.

Gaes, jika sahabat saya yang bertitel haji itu saja berani untuk jujur. Kenapa saya tidak berani jujur?

Begini, kesungguhan pemerintah melacak potensi penyebaran Covid-19 tentu dengan melakukan banyak cara.

Semangatnya jelas, bagaimana rakyatnya sehat dan badai corona ini segera berlalu.

Di Kota Bandarlampung, langkah terakhir, Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Bandarlampung, melalui Dinkes Kota Bandarlampung, memesan 5000 alat rapid test Covid-19.

Tentu saja, harga satuan pemeriksaan menggunakan alat ini lumayan mahal maka kemanfaatannya pun harus jelas.

Jangan sampai, dalam situasi ekonomi yang sedang sulit, pengadaan rapid test justru malah pemborosan belaka.

Saya setuju dengan ucapan Wali Kota Herman HN: Fokus kita adalah memutus mata rantai penyebaran Covid-19, menyelamatkan rakyat meski dalam keterbatasan, dan berjuang melindungi rakyat yang ekonominya terdampak pandemi ini.

Terlepas soal banyaknya pihak meragukan tingkat akurasi rapid test , sekali lagi, ini adalah salah satu upaya mengantisipasi penyebaran Covid-19.

Sudah seharusnya, Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandarlampung Edwin Rusli lebih teliti mencari dan membandingkan kualitas, akurasi dan harga alat rapid test Covid-19 ini, tidak sekadar berstatemen bahwa alat ini sudah ada izin edar.

Dalam suasana cemas karena virus corona ini, jangan sampai kita abai. Jahe merah yang belum jelas izin edar dan kemampuan medisnya terhadap Covid-19 saja bisa beredar luas karena banyak pihak meyakini mampu meningkatkan antibodi melawan virus.

Jadi, Kadiskes Kota Bandarlampung Edwin Rusli seharusnya jangam cuma berlindung pada persoalan izin edar tapi mampu menjawab kepercayaan Wali Kota Bandarlampung Herman HN yang sangat gigih mengajak pemerintah dan stakeholder melawan Covid-19.

Penulis juga meragukan pernyataan Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandarlampung Edwin Rusli sudah melakukan rapid test para tenaga medis 14 kecamatan yang masuk zona rawan Covid-19 di Kota Bandarlampung.

Pernyataan yang justru diam-diam di bantah oleh pejabat di Dinas Kesehatan sendiri.

Besar harapan saya, Kadiskes kota Bandarlampung Edwin Rusli jangan sampai memberikan informasi yang keliru sehingga hanya membuat gaduh, mengganggu rencana dan capaian kinerja Gugus Tugas Percepatanan Penanganan Covid-19.

Selain itu, pernyataan bohong ke publik itu sama saja melukai hati tim medis sebagai garda terdepan pejuang Covid-19 dan mengkhianati semangat dan perintah Wali Kota Bandarlampung yang selalu menyampaikan dengan keras agar aparaturnya untuk bekerja sungguh-sungguh melayani rakyat, kompak melawan Covid-19, dan mempertanggungjawabkan uang negara yang digunakan untuk Covid-19.

Pesan saya, jika sudah tak sejalan, mundur saja ketimbang harus sebohongan.

#Tetap tenang menghadapi Covid19 dan juga menghadapi lebaran, kalo kepepet keluar pakai masker, kalo pulang mandi dan cuci tangan. ***

(*) Stah ahli khusus Wali Kota Bandarlampung Herman HN

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

Baca Juga

“Kode Keras” Politik Gula dan Uang Di Pilwalkot Bandarlampung

Suhu politik kembali menghangat di Kota Bandarlampung. Jelang Pilwalkot 2020, muncul kekhawatiran terjadi lagi politik gula dan uang. Ketika Pilgub 2018, PT SGC dituding...
Translate »