Tewasnya Hartono (39) terseret mesin belt conveyor  PT Bukit Asam yang tiba-tiba nyala masih menyisakan tanya tanya.

Kenapa alat tersebut menyala saat sang tenaga outsourching yang diduga berstatus sopir PT PEL–subkon PTBA–itu tengah melepas carrying idler pada frame 71.

Pasti, sesuai alasan Kepala Teknik Tambang (KTT) Suhedi kepada Kantor Berita RMOLLampung (13/3), tak ada unsur kesengajaan peristiwa tragis tersebut.

Tetapi, masih ada sisa tanda tanya kenapa belt conveyor bisa menyala tiba-tiba. Siapa yang diduga telah teledor menyalakan mesin belt conveyor tersebut?

Pernyataan Suhedi yang juga menjabat general manajer Unit Pertambangan Tanjung Enim terkesan sebagai usahanya menghindar dari tanggungjawab.

Hal itu dinyatakan seorang manajer anak perusahaan PTBA dan dua warga ketika ditemui dua wartawan RMOLLampung di Rumah Makan Kartika, Tanjungenim, pekan lalu (7/3).

Mereka bertiga memperkirakan tewasnya Hartono akibat buruknya manajemen PTBA, termasuk seleksi subkontraktor.

Iskandar (53), warga Desa Tegal Rejo dan Hasan (37), pemuda dari Talang Jawa, menduga kecelakaan tersebut diduga kuat akibat kecerobohan KTT.

“Jangan-jangan bos tambang itu sedang di Jakarta, tidak di sekitar kantor,” kata Iskandar.

PTBA sebagai induk perusahaan, saat ini banyak memiliki anak perusahaan yang diperkirakan sebagai cara agar menguntungkan pejabat di lingkaran perusahaan.

“Anak perusahaan PTBA yang bernama Bukit Asam Kreatif dapat proyek mengurus katering, bayangkan keuntungan bisnis rangsum makanan itu, ada 4 ribu orang di dalam PTBA,” kata Iskandar.

Pensiunan yang sering jadi imam masjid itu menjelaskan tugas PT PEL melakukan perbaikan atas kelaikan sebuah mesin.

“Misalnya belt ini perlu diganti, alat ini kurang berfungsi, mesin ini harus dicek, pokoknya bengkel yang periksa-periksa itu,” ujar dia.

RMOLLampung masih sulit memeroleh konfirmasi kepada PT PEL tempat Hartono bekerja.

Dua reporter RMOLLampung sempat mendatangi kantor PT PEL di Muara Enim, berdasarkan petunjuk dari google map.

PT PEL yang dimaksud ternyata pabrik kertas dan tidak ada hubungan dengan tambang di PTBA

RMOLLampung kemudian mendatangi tempat yang diduga kantor PT PEL di sekitar Hotel Raflesia, Kelurahan Pasar Tanjungenim.

Informasi dari beberapa warga, direktur atau yang dianggap bos PT PEL adalah Isparudin. “Yo kalo idak salah, Pak Isparudin,” kata Mahfud, warga sekitar kantor perusahaan tersebut.

Mahfud tidak tahu banyak tentang aktifitas PT PEL.

Setahunya, banyak pensiunan karyawan PTBA yang bekerja di perusahaan subkon bagian inspeksi teknik tersebut.

Kabar yang beredar, PEL merupakan jasa inspeksi teknik yang mengerjakan proyek perawatan dan pemeliharaan mesin di Unit Pertambangan Tanjungenim..

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here