Melawan Aksi #UnilaPHP, Petinggi Unila Membela Diri

Aksi mahasiswa di media dengan tagar #UnilaPHP, mendapat tanggapan Wakil Rektor Bidang Umum dan Keuangan Unila, Asep Sukohar.

Dia mengatakan, Unila memberikan kesempatan mengajukan banding penurunan UKT, kepada mahasiswa golongan UKT 4ÔÇô8 yang kesulitan membayar UKT karena terdampak Covid-19.

"Sejak awal dikeluarkan, per harinya ada 3 sampai 5 mahasiswa yang mengajukan banding UKT. Sudah ada juga sekitar 200-an mahasiswa yang mengajukan penundaan UKT. Jadi bukan PHP, tapi kita sedang mengkaji," kata Asep Sukohar, Kamis (21/5).

Menurutnya, saat ini Unila belum bisa memberikan pemotongan UKT dan pemberlakukan kebijakan penundaaan UKT secara merata ke seluruh mahasiswa.

Karena dikhawatirkan akan mengganggu operasional perguruan tinggi dan akan berimbas pada sistem pelaporan keuangan dan sistem pengaktifan di kemahasiswaan

"Jadi penyesuaian yang paling memungkinkan diberlakukan saat ini antara lain, penghapusan denda keterlambatan pembayaran UKT, penurunan grading pada kelompok 4ÔÇô8," ujarnya.

Sedangkan Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Prof Yulianto mengatakan bantuan berupa paket pulsa internet sebesar Rp150 ribu kepada 1.004 mahasiswa itu dilakukan secara bertahap selama tiga bulan ke depan.

"Jadi beda ya. PHP itu kalau sudah tidak diwujudkan. Tapi ini kan sedang proses, tidak bisa instan," kata Yulianto.

Menurutnya penyaluran bantuan daring kepada 1.004 mahasiswa terbagi atas 396 paket kuota Telkomsel, 233 Three, 145 XL, 34 Smartfren, 197 Indosat.

"Namun khusus provider Telkomsel belum didistribusikan karena menggunakan sistem dan mekanisme yang berbeda," jelasnya.