29.9 C
Bandar Lampung
Sabtu 6 Juni, 2020 15:31 WIB
Beranda OPINI VAN JOENED Melalui Juned, Mbak Pur Ciptakan Kleptokrasi

Melalui Juned, Mbak Pur Ciptakan Kleptokrasi

Episode 7

BEGITU banyak sajian yang tampil di layar kaca, sebut saja berbagai quiz. Walau jawaban salah, mereka tetap bertepuk tangan. Bertepuk untuk kedunguan diri sendiri. Dilain tempat, dalam diskusi-diskusi, kerap terdengar pengantar yang menyebut orang sebagai pakar, lantas merekapun bertepuk tangan untuk diri sendiri. Padahal, publik mempunyai kesimpulan sendiri.
 
Dalam kekinian, kian banyak cara menurunkan martabat diri, termasuk profesi yang digeluti. Sebut saja pemborong jalan. Seharusnya mengerjakan jalan agar mulus dan tahan, terkadang malah membuat jalan jadi berlubang-lubang. Mestinya tebal, dibuat tipis, seharusnya tidak bergelombang dibuat bergelombang. Dan mereka bertepuk tangan, manakala dilakukan acara gunting pita. Bertepuk tangan untuk diri sendiri atas sesuatu yang secara sadar salah.

Pada bagian lain, juga terjadi salah kaprah yang mencengangkan. Pemain sepakbola kerap menjadi petinju di lapangan hijau. Sementara para petinju lebih banyak menghabiskan waktu dengan menari-nari diatas ring, ketimbang saling pukul. Begitu juga di dunia jurnalisitik. Wartawan, ketika bertanya kerab melebihi jaksa atau polisi.

Nah, Mbak Pur menyadari adanya perspektif yang demikian. Beragam cara menjahit tali kelambu dilakukan, dan berhasil. Gairah pengusaha Pabrik Permen ini kian menggila dan terus berkembang, bak kecambah di musim hujan.
Ronald menyadari, Tentakel Mbak Pur kian merambah dan melekat kemana-mana. Bagi Ronald, melalui kekuasaan yang dipegangnya, tentu tak bisa dibiarkan begitu saja. Ada tanggungjawab moral yang besar untuk mengedepankan kepentingan rakyat banyak.

Bermula dari langkah yang demikian, maka timbul ketidaksukaan Mbak Pur terhadap Ronald. Melalui berbagai jaringan kacung yang ada, Handi, Harto, Juned, aliran informasi terkini masuk ketelinganya.

Ditengah situasi Mbak Pur merancang pelengseran, apesnya, Ronald membuat blunder. Bertambah apes, blunder ini tidak terkait dengan kebijakan, tapi terkait ilmu bergaul dan menggauli. Ini menjadi momentum yang tepat bagi Mbak Pur.
 
Melalui Juned, gelontoran dana dikucurkan keberbagai pihak, termasuk beberapa media massa dan kelompok masyarakat, untuk  mengangkat kasus ini tinggi-tinggi. Ronald terpojok.
 
Informasi dan fakta deras mengalir. Point penting yang terekam, Mbak Pur akan meng-kolonisasi kawasan Pabrik Permen secara total. Tidak cukup hanya sebagian. Dimata Mbak Pur, Ronald dan Juned hanya sebatas satu titik simpul pada rangkaian jaringan. Kacung! Semua dibayar sesuai dengan bentuk penugasan. Kelebihan Juned, bila dibanding Ronald, adanya hubungan bathin. Dan Juned mendapat momentum, sehingga Mbak Pur dan Guntur hampir tak ada alternatif. Lebih dekat, sekaligus menancap.

T: Terus?

Mbak Pur: Juned lebih dewasa. Selian hampir tak ada yang dilakukannya, tanpa sepengetahuan kita.

T: Itu yang membuat anda memilih Juned?

Mbak Pur: Hingga saat ini Juned yang bisa memuluskan rencana kita. Penurut dan pemberani.

T: Maksudnya?

Mbak Pur:Dia berani. Ini sudah melalui uji coba, hingga ke soal-soal pribadi.

T: Berani?

Mbak Pur: Ya, Juned pemberani. Dia berani meninggalkan keluarga, hanya untuk mendampingi saya dalam perjalanan bisnis.

T: Perjalanan bisnis?

Mbak Pur: Betul, tapi yang berbisnis kan saya. Dia sebagai pendamping diskusi. Generasi milenial bilang, curhat.

T: Juned tidak populer di masyarakat?

Mbak Pur: Popularitas bisa diciptakan.
 
T: Jadi  support ke Juned all-out?

Mbak Pur: Tentu. Ini terkait dengan rencana besar.
 
T: Maksudnya?

Mbak Pur: Kawasan Pabrik harus kami kuasai total. Jika Ronald tidak melawan, seharusnya sudah terlaksana.
 
T: Sudah siap untuk itu?

Mbak Pur: Tentu.
 
USAI menjahit rangkaian fragmen diatas, teringat sebuah narasi yang dibuat Prof.Dr.T,Jacob  tentang Kleptokrasi pada tahun 2004: Inikah yang sedang terjadi di kawasan Pabrik Permen?

Inti dari kleptokrasi adalah memindahkan kekayaan nasional dari rakyat kepada lapisan atas yang berkuasa: politikus dan birokrasi, pengusaha dan pemilik modal—-Jumlah pengutan yang ditarik dari rakyat, terutama produsen primer (petani), dan ditahan oleh elit sangat besar, sedangkan yang diredistribusikan kepada rakyat sangat kecil.

Mengapa rakyat sampai begitu lama toleran terhadap kleptokrasi? Pertama, hak-hak rakyat telah dilucuti dan monopoli mutlak kekuasaan melalui pendekatan keamanan, segera meredam embrio kerusuhan dengan cara-cara yang menimbulkan ketakutan massal. Ideologi dan agama, takhyul dan kepercayaan pra-relegius dimanfaatkan untuk membenarkan penguasa.

*** Sekarang penyakit yang diderita sudah mencapai taraf lanjut, bahkan mungkin sudah terminal. Badan kita sudah merasa tidak sakit lagi, tidak dapat menangkap gejala atas pukulan-pukulan lingkungan. Kuman masuk dengan masif, trauma bertubi-tubi datang dengan intensitas yang meningkat, polutan mengepung, padahal gizi kurang, tetapi badan tidak merasa apa-apa—Badan membisu, tidak mengeluh, apalagi berteriak. Kita menderita penyakit tak dapat jatuh sakit”.—-Rasa keadilan sudah terusir dari kehidupan. Mengembalikan unsur pokok ini adalah terapi yang sangat dibutuhkan.(d)

Sumber : Yusuf Yazid

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

Baca Juga

Mbak Pur dan Hati Yang Luka

Episode 13 HARI cepat berlalu, seperti desingan peluru. Tibalah hari Rabu, bercuaca cerah. Mbak Pur, Guntur dan...

Ketika Guntur Borong Partai

Episode 12 GUNTUR bergerak cepat. Bermodal kekuatan uang yang dimiliki, tingkat percaya dirinya sangat tinggi. Setelah menghambat laju...

Ketika Mbak Pur Gairah Kawin Paksa

Episode 11 RENCANA awal Guntur dan Mbak Pur yang sudah dikubur, tampaknya kembali. Ronald dan Juned tetap...

Ketika Mbak Pur Birahi Gembosi Dangsus

Episode 10 TAMPAKNYA skenario Mbak Pur menciptakan dan menggalangkan para pengkhianat disekitar Ronald, kian berhasil. Sebagian dari...
Translate »