Episode 14

MALAM tiba. Lampu-lampu kamar pun menyala terang. Mbak Pur memberi kode pada Juned agar menuju Balkon disisi Penthouse. Menarik nafas panjang, sembari menghembuskan asap cerutu (prilaku Juned yang kerab gonta-ganti rokok, bagi Mbak Pur merupakan cermin pendirian Juned yang penuh keraguan, hanya tergantung siapa yang bisa menyenangkan. Inilah sifat yang dimanfaatkan Mbak Pur).

Keduanya duduk di sofa, saling bersebelahan. Dalam moment kebersamaan seperti malam ini, Mbak Pur selalu mengambil posisi disebelah kanan Juned.

“Dik, bagaimana perkembangan lapangan?,” suara Mbak Pur menusuk tajam ke telinga Juned.

“Baik-baik saja Bunda. Berjalan sesuai dengan rencana. Hanya sedikit lelah,” balas Juned merajuk.

Mbak Pur menggamit lengan Juned masuk ke kamar, menuju meja besar ditengah Penthouse mereka.

Dimeja panjang yang customize dengan ruangan, tertumpuk berkas-berkas hasil kerja lembaga survei. Satu bundel hasil survei terkini Saifah Mujono dibuka Mbak Pur. Pada halaman bagian tengah, terlihat grafik tentang popularitas dan elektabilitas calon gubernur. Juned bertengger pada angka 7 persen. Sementara empat kontestan lainnya, berada diatas Juned. Bahkan ada kontestan yang digadang-gadang hanya sebagai cawagub, menclok diatas Juned dengan selisih 2,8 persen.

“Bunda, ini hasil bisa benar, bisa juga salah,” Juned berkomentar sembari menerangkan bahwa lembaga survei dimaksud bekerja atas perintah Partai Daun Itunya Pepaya.

Mbak Pur diam. Tubuhnya beringsut, menggeserkan kursi agar lebih dekat lagi dengan Juned. Tangannya menggamit bundel lain yang berada disisi kiri meja. Mbak Pur membuka halaman yang sudah diberi tanda, dilipat pada ujung bagian atas kertas.

Sebuah gambar grafik model Batang berwarna merah, biru, hijau muda, kuning, coklat, dan abu-abu berjejer rapi. Pada bagian atas grafik tertera angka-angka dalam persentase. Pada bagian bawah grafik, tertera nama-nama para kandidat, termasuk nama Juned.

Pada bagian atas jejeran grafik Batang, sebaris kalimat berbunyi: Bila Pilgub dilakukan hari ini (tanggal survei tertera 5 September 2017) siapa yang akan anda pilih? Nama Juned berada pada grafik Batang berwarna Kuning dengan angka 11,8 persen. Sementara yang berwarna Merah tertera angka 41,2 persen, Biru 32,,4 persen, Hijau muda 14,6 persen.

Buku hasil suvei kedua yang dibuka Mbak Pur merupakan karya 2 bulanan lembaga survei Lebih Seksi Indonesia. Mereka mendapat mandat dari pusat Partai Go-Kart untuk melakukan survei Pilgub di kawasan Pabrik Permen.

“Lembaga survei kan bisa dibayar Bun.. Musuh-musuh kita ingin menjatuhkan saya,” ujar Juned mengomentari.

“Masyarakat menyambut saya dengan antusias pada setiap event. Baik jalan sehat, wayangan, pengajian, ataupun operasi pasar. Mereka mengelu-elukan saya sebagai pemimpin masa depan,” terang Juned menggeser tubuhnya, menempelkan kepalanya di pundak Mbak Pur.

Mbak Pur tak menjawab (karena punya hasil lembaga survei khusus yang menampakkan hasil yang yang sama). Dipegangnya kedua belah pundak Juned. Keduanya saling berhadap-hadapan. Tatapan tajam mata Mbak Pur menghujam kedua mata Juned.

“Aku yakin dengan upaya yang kita lakukan. Tak perlu berkecil hati,” ujar Mbak Pur.

“Ini semua kerjaan kaki tangan Ronald. Dia sudah kepepet. Anak kecil itu tak bisa ikut kontestasi,” jawab Juned dengan cepat, sembari balas menatap Mbak Pur.

Sementara Mbak Pur dan Juned saling tatap menatap (seterusnya terkena sensor), nun jauh disana, di ruang rapat pusat Partai Go-Kart, terjadi perdebatan seru diantara sesama pembalap. Salah satu topik hangat adalah tidak diterimanya kompensasi sebesar 50 miliar yang diberikan oleh utusan Guntur untuk sang ketua yang kini berbaring segar bugar di ranjang rumah sakit.

“Untuk apa uang itu?” tanya Nurdiono Hasibuan.

“Sumbangan tiket untuk dicagubkan,” jawab Idris Marhaban.

“Bukannya untuk jadi ketua?” tanya Nurdiono.

“Kalau soal itu, Nusrizal Wahabi yang selesaikan,” jelas Idris.

“Ok, kita akan pertimbangkan lagi,” jawab Nurdiono.

Sementara dari balik jeruji, Fatharudin berteriak kencang. “Jangan pernah bermimpi untuk meloloskan Juned  maju Pilgub,” ujarnya dengan sorot mata yang tajam.

“Memang kenapa?” tanya Naswar yang menyambanginya di rumah tahanan.

“Nusrizal dan Idris pengkhianat. Kita sudah beri pelajaran. Kita ganti jagoaan mereka di Jawa Barat,” jelas Fatharudin.

“Bagaimana nasib Juned?” tanya Naswar.

“Akan kita Jawa Baratkan bila 50 Miliar tak sampai kesini” tegas Fatharudin.

Di bagian ruang rapat yang lain, masih di pusat Kartai Go-Kart, sebuah keputusan untuk mengganti sang ketua diambil. Panitia pesta pilih-pilih disiapkan secara cepat. Langkah menyiapkan pelaksana tugas (Plt) sudah tuntas. Beragam tahapan sudah disiapkan. Apakah Nurdiono Hasibuan atau Angga Harmain yang akan menjadi Plt, sedang didiskusikan dari hati ke hati. Tahapan awal, tampaknya sudah mengerucut, menggantikan tugas sang ketua di lembaga rakyat, peranya dilimpahkan ke Riswan Hasim.

Tokoh-tokoh senior partai tempat berhimpunnya para pembalap memang menghendaki adanya penggantian sang ketua. Mereka sangat khawatir, bila benah-benah tidak dilakukan, partai tak mampu lolos dari ambang batas lembaga rakyat.

Sementara di warung Kopi, Ronald dihadapkan hanya pada dua pilihan: Maju bersama untuk melawan kolonisasi, atau selamat tinggal. Semua tergantung keberanian. Bila tak punya nyali, lebih baik ambil selimut tebal. Tak ada yang perlu dipersalahkan. Pada langgam politik, bukan soal salah dan benar yang menjadi tujuan, tapi memenangkan sebuah peperangan, bukan sebatas pertempuran. Siap nggak perang? (d)

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here