Episode 16

KEKUATAN uang yang dimiliki Mbak Pur, tampak kurang sakti. Hingga cerita ini ditayangkan, syahwat untuk membeli seluruh partai-partai, menjadikan Juned calon tunggal gagal total.

Hanya tiga partai yang berhasil dijerat. Itupun posisi koalisi dengan Partai Go-Kart, seperti yang disuarakan media-media partisan yang dikuasai Mbak Pur, masih bersifat sementara. Belum permanen. Misalnya Partai Kutu Busuk, Partai Gergaji. Hanya Partai Anak Nakal yang dipimpin sosok munafik kebelet mendeklarasikan diri.

Walau demikian, target Mbak Pur menistakan Ronald sejauh ini berhasil. Ronald terancam tak bisa tampil dalam kontestasi. Hanya saja, posisi Ronald yang demikian, tak lepas dari peran Mustajab yang berhasil mengambil hati Partai Kutu Sapi dan Partai Hati Yang Luka. Dua partai ini sudah cukup bagi Mustajab untuk melaju dalam kontestasi bersama Partai Nasi Goreng Adem yang dipimpinnya. Bahkan Mustajab berhasil menentukan cawagubnya. Siapakah? Kabar yang bertiup dari Bujung Tenok menghembuskan kabar, sosoknya berasal dari kader Partai Kutu Sapi dan Partai Hati Yang Luka, bukan adik tokoh munafik yang partainya berkoalisi dengan Juned.

Bila sedikit ingin berlagak sebagai pengamat, keberhasilan Mustajab menggalang Partai Kutu Sapi dan Partai Hati Yang Luka, selain keberhasilan menekuk Mbak Pur, lebih disebabkan bangkitnya semangat perlawanan warga di Kawasan Pabrik Permen terhadap Mbak Pur. Sebab, bila dinilai dengan uang, ongkos yang dikeluarkan Mustajab, rata-rata hanya 500 juta perkursi. Sementara dana yang digelontorkan Mbak Pur, persatu kursi menyentuh angka 4 miliar.

Mengapa warga melakukan perlawanan? Pertama, selain sosok Juned yang tak memiliki daya tawar dan nilai jual, juga merupakan boneka. Juned hanya bisa menang kontestasi bila membeli suara. Kedua, kesombongan Mbak Pur yang menganggap semua tokoh partai bisa dibeli. Ketiga, langkah Mbak Pur ketika mengakuisisi Partai Kutu Busuk dan Partai Anak Nakal merupakan strategi adu domba. Memecah belah persatuan dan kerukunan tokoh-tokoh masyarakat dan politik di kawasan Pabrik Permen.

Tiga hal diatas memicu kemarahan warga karena merupakan bentuk kesewenang-wenangan dan keserakahan Mbak Pur. Belakangan, melalui mulut Juned niat ingin menguasai seluruh kawasan Pabrik Permen terkuak.

Niatan Mbak Pur ini, terkonfirmasi dengan pernyataan Juned dihadapan para pemimpin lembaga rakyat yang kini membentuk Dangsus Permen. Tanpa disadari, manakala Juned berupaya meyakinkan para petinggi lembaga rakyat agar tidak membentuk Dangsus Permen, rangkaian kalimat Juned yang telah menganggap dirinya menjadi gubernur, meluncur secara sistematis dan sempurna.

Juned memulai dengan bait-bait kalimat yang menistakan Ronald. Tidak punya kemampuan untuk mengembangkan kawasan Pabrik Permen. Program gubernur sebelumnya yang menset-up pindahnya komplek perkantoran tata praja ke wilayah lain, seharusnya dilaksanakan Ronald. Alasan adanya larangan tidak diperkenankan untuk membangun perkantoran baru, seharusnya bisa disiati. Dicarikan jalan keluar, tanpa harus menggunakan anggaran resmi.

ÔÇ£Kalau Ronald pintar, harusnya ada jalan kelaur. Tidak diam,ÔÇØ ungkap Juned (Sekadar tahu, pada masa itu, Juned sudah jadi boneka Mbak Pur dan memegang posisi strategis dibawah Ronald).

Pidato berapi-api Juned terus membuai. Niatannya, tentu Juned ingin menunjukkan bahwa dirinya sangat layak jadi gubernur. Tanpa disadari, saking semangat, Juned yang merasa sudah menjadi gubernur, dari alam bawah sadarnya meluncur kalimat:

ÔÇ£Saya akan teruskan program perpindahan kompleks tata praja. Saya panggil pihak swasta untuk menilai aset seluruh lokasi kompleks yang ada sekarang. Kemudian buat kesekapatan agar mereka membangun lokasi perkantoran baru, sesuai hasil penilaian dan dengan luasan dan kebutuhan tata praja. Setelah selesai, baru pindah. Aset yang lama kita serahkan kepada mereka. Mau mereka bangun mall, hotel lantai 30, saya izinkan,ÔÇØ kata Juned.

Tak cukup hanya sebatas itu, Juned pun memaparkan argumentasi kajian yang dipahaminya. Langkah memindahkan kompleks tata praja, merupakan solusi untuk mengurangi kepadatan ibukota. ÔÇ£Mau dibangun 10 flyover pun, ibukota kawasan tetap akan sumpek dan macet. Kita harus tarik keluar dengan cara mengembangkan kawasan baru,ÔÇØkata Juned dihadapan para petinggi lembaga rakyat yang  terbengong-bengong, terkagum-kagum, mungkin? Tapi Juned lupa, bahwa posisi strategis perkantoran lama, nila tanahnya sangat mahal bila dibanding nilai tukar guling bangunan di kawasan baru. Disinilah celah kongkalikong mafia tukar guling aset dengan penguasa.

Apa makna dari pidato Juned? Sangat mudah dipahami. Agenda Juned masuk dalam kontestasi gubernur, merupakan pembawa misi kepentingan konglomerasi bisnis. Mbak Pur ingin menancapkan kuku kian dalam di kawasan Pabrik Permen. Sebuah ancaman neokoloniasme.

Publik mengerti betul, neokolonialisme merupakan wajah baru dalam tatanan ekonomi politik. Menciptakan lilitan saling ketegantungan antara pengusaha dan penguasa merupakan kunci memperluas neokolonialisme. Sehingga para pemimpin tata praja di seluruh kawasan Pabrik Permen sulit untuk mengembangkan perekonomian warga.

Memang, penjajahan dalam bidang ekonomi terjadi tatkala sistem kapitalisme diterapkan. Secara perlahan penjajah masuk. Ini terjadi karena metode penyebaran ideologi kapitalisme memang melalui Imperialism. Keadaan seperti ini kerap disebut hegemoni kapitalisme.

Ternyata hegemoni kapitalisme yang melanda seluruh kawasan Pabrik Permen sudah cukup dalam. Melingkupi segenap kehidupan bermasyarakat. Mbak Pur mencengkram aspek politik, ekonomi, sosial, dan juga kesehatan hingga HAM, masuk dalam jeratan kapitalismenya. Dan ini semua menunjukkkan bahwa hadirnya bentuk penjajahan gaya baru.

Menjadi menarik, bahwa hegemoni kapitalisme mempunyai struktur secara global dan juga lokal. Menurut Bradley R. Simpson dalam Economists with Guns, struktur kapitlisme lokal terangkai dan berjenjang: Elit penguasa lokal – Birokrat dan teknokrat – Perusahaan multinasional – Kaum ÔÇ£borjuisÔÇØ lokal, erzats capitalism.

Sementara pakar ekonomi Dwi Condro Triono, M.Ag., Ph.D meringkaskan  bahwa hegemoni kapitalisme terjadi dengan beberapa jurus-jurus jitu, antara lain: Memakan perusahan kecil, The Law of Capital Accumulation –  Penguasaan bahan baku lokal, proses konglomerasi dari sektor hulu ke hilir – Mematikan perusahaan lokal – Penguasaan tenaga kerja lokal murah ÔÇôdan menempatkan penguasa boneka melalui bantuan dana kampanye Pilkada.

ÔÇ£Kamu merokok ya?ÔÇØ ujar Mbak Pur.

ÔÇ£Enggak. Sudah berhenti,ÔÇØ jawab Juned.

ÔÇ£Ah, kamu mulai berbohong,ÔÇØ balas Mbak Pur dengan wajah mengkerut.

ÔÇ£Sungguh, aku tidak merokok. Lebih sehat Bunda yang merokok,ÔÇØ balas Juned.

Juned lupa, bahwa keahlian Mbak Pur, selain pandai merokok, Mbak Pur sangat tajam penciumannya bila tamu-tamunya seorang perokok. Bahkan, kacung-kacung dekat Mbak Pur yang perokok, bila ingin berjumpa dengannya, perlu ganti baju baru dan memakai minyak wangi terlebih dahulu.

Yang jelas, Mbak Pur memang ahlinya, tancap menancap. Apalagi untuk menancapkan Hegemoni Kapitalisme, memang dia ahlinya. (d)

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here