Di desa dan kota, sama saja. Sehari jelang Lebaran Idul Fitri 1441 H, Sabtu (23/5), pasar ramai. Kendaraan juga terus memadati jalan-jalam protokol Kota Bandarlampung.

Para kaum duafa juga masih menunggu zakat sepanjang jalan protokol ditemani gerobal atau karung untuk memulung sampah yang masih bisa dijual.

Sejak sepekan lalu, warga Kota Bandarlampung mulai kembali hidup “normal”. Mal-mal, butik, dan pasar kembali padat. Kantor juga mulai kembali beraktivitas.

Kendaraan ramai di Pasar Tanjungkarang sehari jelang Lebaran Idul Fitri 1441 H/RMOLLampung.

H-1, Sabtu (23/5), pasar tradisional masih diserbu masyarakat yang hendak berbelanja kebutuhan Hari Raya Idul Fitri 1441 H.

Mereka tampak cuek berkerumun mengabailan social distancing . Bahkan, tak sedikit masker pedagang diturunkan atau digantung di bawah dagu.

“Pengap,” ujar seorang pedagang di Pasar Smep, Tanjungkarang.

Pertokoan simpang Jl.Pemuda, Kota Bandarlampung/RMOLLampung.

Salah seorang pengunjung pasar, Yanti, mengatakan membeli kebutuhan buat memeriahkan hari besar yang hanya setahun sekali.

Ia  mengaku sadar bahaya corona mengintai namun dengan kehati-hatian semoga bisa menghindarinya.

Banyak toko di Pasar Tanjungkarang yang menyediakan fasilitas cuci tangan. Tapi, di pasar-pasar tradisional tidak ada pedagang yang menyiapkannya seperti pedagang di Pasar Tugu, Wayhalim, Pasar Koga, Pasar Kangkung, Pasar Kemiling.

“Takut sih, tapi mau gimana jika tak dagang,” ujar Rohim, pedagang di Pasar Tugu.