Masyarakat Butuh Kecerdasan Pemimpinnya Agar Lolos Dari Badai Covid-19


VIRUS corona tak hanya membuat infeksi saluran pernapasan, tapi juga ikut menyumbat saluran pendapatan, periuk nasi mulai ikut tengkurap.

Provinsi Lampung ikut terimbas oleh wabah ini. Banyak aktivitas masyarakat mendadak stop demi mematuhi upaya pemerintah memutus mata rantai virus.

Hingga Selasa (14/4), di Kota Bandarlampung saja, sudah 33 perusahaan terpaksa merumahkan 1427 karyawannya karena usahanya ikut terhempas badai corono.

Sudah ribuan tenaga kerja yang mengais rezeki di kota-kota, utamanya Jabotabek, terpaksa pulang kampung ke berbagai kabupaten/kota di Provinsi Lampung.

Dalam hitungan kurang dari tiga bulan, ekonomi sebagian warga jadi porak-poranda. Entah apa yang terjadi jika wabah ini masih berlangsung beberapa bulan lagi.

Seperti kata seorang ibu yang terpaksa tetap berjualan demi keluarganya. Jualan berpotensi mati kena corona, tak keluar rumah bisa mati kelaparan, katanya.

Masyarakat pedesaan yang masih sebagian besar tergantung hasil bumi ikut terhempas oleh anjloknya harga berbagai komoditas pertanian dan perkebunan.

Seorang pedagang besar pengumpul ikan di TPI Lempasing, Kota Bandarlampung yang bisa mendapatkan Rp2 juta/hari anjlok jadi Rp200 ribu/hari.

Bagaimana dengan para nelayannya?

Malam minggu lalu, seorang pedagang sekoteng bersama isterinya yang biasa mangkal di Tugu Adipura, Kota Bandarlampung, terpaksa pulang lebih awal karena sepinya pembeli.

Hotel-hotel dan mal-mal sepi tamu. Mereka banyak yang terpaksa merumahkan karyawannya bahkan mematikan banyak lampu buat menghemat pengeluarannya.

Ada bagusnya juga, Pemilihan Kepala Daerah Serentak 2020 hanya dimajukan dari 23 September menjadi 9 Desember 2020.

Sehingga, para calon kepala daerah "bergairah" kembali tebar pesona lewat sembako dan berbagai hal yang dibutuhkan warga saat Pademi Covid-19 ini.

Wali Kota Bandarlampung Herman HN yang istrinya akan ikut kontestasi Pilwalkot Bandarlampung bagi-bagi beras kepada ribuan keluarga di kotanya.

Dalam situasi seperti ini, muncul banyak elemen masyarakat seperti berebut saling membantu saudaranya yang lagi susah, mulai dari alat perlindungan diri (APK) hingga sembako.

Terlihat, naluri sesungguhnya bangsa ini: gotongroyong.

Bisa jadi, jiwa gotongroyong itu yang akan menyelamatkan bangsa ini agar tak semakin "luka dalam", terpuruk, oleh badai Covid-19.

Masalahnya, belum ada yang bisa memprediksi akurat berakhirnya wabah ini.' Pemerintah menargetkan tanggap darurat pademi Covid-19 berakhir awal Juni 2020.

Namun, China yang katanya mulai bisa bernapas lega dari wabah corona kembali harus waspada karena warganya mulai ada lagi yang terkena infeksi virus kembali.

Dalam tiga bulan terakhir ini saja, korban sudah bergelimpangan, termasuk periuk nasi, bagaimana dengan jika pademi Covid-19 ini akan berlangsung lebih dari tiga bulan lagi?

Mereka yang kini masih bisa bergotongroyong membantu, seperti pengusaha, elemen masyarakat, bisa jadi satu per satu ikut mengibarkan bendera putih.

Mereka juga harus menyelamatkan usahanya, karyawannya, keluarganya.

Dan, pada saat-saat kemungkinan skenario terburuk seperti itu, pemerintah sangat ditunggu kehadirannya, kepiawaiannya, tak cuma himbauan dan pengalihan anggaran.

Masyarakat membutuhkan kecerdasan para pemangku kepentingan, termasuk di Lampung, untuk menemukan solusi paling tepat, jurus paling pas, agar rakyatnya lolos dari badai ini.

Semoga badai ini cepat berlalu, Insya-Alloh. Amin.

(*) Plt Ketua Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Lampung