Mantan Ketua DPRD Lampung Srie Atidah Berpulang

Ketua DPRD Lampung Perode 1999-2004 yang juga salah satu tokoh GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia), Hj. Srie Atidah, meninggal dunia Rabu (18/3/2020).


Ketua DPRD Lampung, Mingrum Gumay melepas langsung
jenazah yang sebelumnya disemayamkan dan mendapat penghormatan terakhir dari
rekan sejawatnya di kediamannya.

"Atas nama pimpinan DPRD, rekan-rekan anggota DPRD
Provinsi Lampung, seluruh jajaran Sekretariat DPRD Provinsi, serta atas nama
Ketua GMNI Lampung, kami mengucapkan turut berbela sungkawa yang mendalam atas
kepergian almarhumah Hj. Srie Atidah," kata Mingrum.

Kepada pihak keluarga, Mingrum juga berharap kekeluargaan
yang terjalin, kiranya akan tetap terus dapat dipelihara di masa datang.

"Kami semua ikut berdoa agar arwah beliau diterima di
sisi Allah SWT sesuai amal dan ibadahnya serta diampuni segala dosanya. Juga
tidak lupa kami mendoakan agar keluarga yang ditinggalkan dapat kiranya
diberikan Allah SWT keikhlasan, kekuatan dan ketabahan dalam melepas kepergian
almarhum," katanya menambahkan.

Sebagai catatan, Ny. Hj. Srie Atidah kelahiran Pekalongan,
Jawa Tengah, 3 Januari 1947. Dia kerap

menggaungkan perubahan ketika rezim kuat-kuatnya. Sebagai
pimpinan Partai Demokrasi Indonesia di Lampung (PDI, sebelum kemudian menjadi PDI-P),
Atidah menjadi sebongkah representasi perjuangan yang tidak kenal gentar.

Atidah bergerak yang riaknya ikut menimbulkan arus
perubahan sejak 1996ÔÇô1997, ketika Republik ini menjelang "persalinan".

Sebagai istri tokoh PDI Lampung, Matt Al Amin Kraying,
Atidah tidak sekadar "mendampingi suami" dalam masa-masa genting tersebut.
Wanita pemberani ini dikenal amat blakblakan. Jika dia menilai lawan diskusinya
tidak segaris dengan peraturan, bahkan partai, Atidah lantang bersuara, bahkan
"mengaum".

Tanpa tedeng aling-aling dia berargumen, meletakkan rasio di atas fakta lalu merajutnya dalam kata-kata keras. Alumnus GMNI ini sempat menjadi ketua DPC PDI-P Bandarlampung.

Bahkan, dia kemudian menjadi Ketua DPRD Lampung; dan
tercatat sebagai wanita pertama yang memimpin parlemen di tingkat provinsi.

Pengagum Bung Karno ini memang dididik dengan nilai-nilai
pergerakan oleh kedua orang tuanya, bahkan oleh kakek neneknya.

Atidah kecil biasa nimbrung jika orang tuanya berdiskusi
di rumah sembari bersandar di sisi kursi atau duduk santai di karpet atau
mengamati saat kakeknya berdiskusi, berorasi atau berpidato dengan tokoh-tokoh
nasional seperti Mr. Wilopo, Hadisubeno. Neneknya, tokoh Asyiyah, menanamkan
pendidikan agamis, senantiasa menanamkan soal iman dan takwa.