Lolok, sudah berbulan-bulan gula langka dan harganya meroket, ada perusahaan nimbun gula hingga ribuan ton dibilang hanya miss komunikasi, kata Rakhmat Husein DC.

Penggiat demokrasi tersebut menanggapi pernyataan Kadis Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Lampung Satria Alam bahwa penimbunan gula hanya miss komunikasi.

Kalo make gaya bahasa penceramah KH. Heriyudin Yusuf, itu namanya lolok,” tandas penggiat demokrasi tersebut kepada Kantor Berita RMOLLampung, Sabtu (21/3).

Jelas-jelas, kata dia, sudah berbulan-bulan gula langka dan harga meroket, ada perusahaan gula besar digerebek Satgas Pangan Bareskrim Mabes Polri menimbun Rp75-100 ribu ton.

“Eh, si dia malah bilang ini miss komunikasi,” ujar Koordinator Koalisi Masyarakat Lampung Untuk Pemilu Bersih (KRLUPB) itu.

Ditambahkannya, kemarin, Jumat (20/3), di Pasar Tunggu, harga gula Rp17 ribu per kilogram.

”Bapak sadar gak kalo tinggal dan jadi kepala dinas di Lampung. Nah, kami warga Lampung ini tiba-tiba susah mencari gula dan mahal juga harganya,” ujarnya.

Dilanjutkannya,”Kami juga baca Pak, yang digrebek itu gula milik perusahaan gula di Lampung. Dikasih amanah mimpin rakyat kok ini malah nyusahin.”

Sebelumnya, Satria Alam mengatakan adanya dua perusahaan yang melakukan penimbunan gula itu hanya miskomunikasi saja.

Seperti humas kedua perusahaan, Kadis bilang mereka punya kesepakatan memasarkan gula melalui asosiasi ke sesuai bulan pemasarannya setiap bulannya.

Jadi, jika ada gula stok gula di gudang, bukan penimbunan, tapi akan dijual untuk memenuhi kebutuhan bulan Maret, April, Mei, Juni, kata dia.

Bulan Juli nanti, mulai giling kembali.

Alasan ditambahkannya,  tanam tebu bergeser akibat musim kemarau panjang pada tahun 2019 dan musim giling juga bergeser dan menggeser juga musin giling tahun 2020.

 

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here