RMOL- Majelis sinau bersama yang rutin digelar setiap bulan pada Minggu kedua, terletak di pedalaman Lampung, membahas term Cancut Taliwondo.

Majelis yang menamakan diri Maiyah Dusun Ambengan itu sebagai simpul kajian Maiyah yang didirikan Emha Ainun Nadjib. Hadir membersamai jamaah di Dusun IV Desa Margototo, Kecamatan Metro Kibang, Lampung Timur, Sabtu, 24 Maret 2018 malam ini, KH. Muzammil dari Yogyakarta.

Berbeda dengan pengajian umumnya yang ada di Provinsi Lampung, majelis ilmu Maiyah Dusun Ambengan konsen mengulas seputar kehidupan dan berbagai khasanah masyarakat perdesaan. Tema Cancut Taliwondo, merupakan edisi ke-31.

“Sudah tiga tahun berjalan dan telah memiliki beberapa amal ikutan untuk mengabdi pada masyarakat desa,” jelas Cak Sul, sapaan akrab Syamsul Arifien pada RMOLLampung.com.

Sebelum acara, selalu ada sesi bedah tema yang digawangi para penggiat. Seperti laporan Sekolah Sepak Bola (SSB) Astama, Komunitas Pendonor Darah Gratis (Monitor Artis), serta laporan sumbangan dari para jamaah terkait kudapan yang dihidangkan di majelis.

“Semua amal usaha di bawah Maiyah Dusun Ambengan itu, sifatnya pengabdian sosial dan benar-benar energi cinta pada desa yang menggerakkan,” jelas Cak Sul.

Termasuk, ketika masuk sesi bedah tema, puluhan jamaah yang terdiri dari anak-anak muda dari berbagai pelosok di Provinsi Lampung dibuat berkelompok, menuliskan defenisi atas Cancut Taliwondo.

Hampir rata-rata anak muda di bawah usia 30 tahun, tidak mengerti makna dari istilah yang menurut Mas Suli, salah satu penggiat Ambengan, berarti semangat untuk terbebas dari belenggu kemalasan hidup.

“Cancut Taliwondo itu bergegas untuk bangkit, semangat untuk terbebas dari belenggu dan kungkungan hidup yang mulai terkikis di kehidupan masyarakat kita,” kata Mas Suli.

Menariknya majelis ini, ada group musik gamelan Jamus Kalimasada yang piawai membawakan lagu-lagu modern dan termasuk menggubah lagu dolanan yang sudah hampir tak pernah didengar anak-anak desa lagi. Setiap jeda dan sela-sela pembicara utama selalu diiringi alunan musik Jamus Kalimasada.

Sementara itu, KH. Muzammil berpesan, pentingnya menguri-uri budaya dan kearifan lokal. Termasuk konsisten menjaga amal ibadah. “Istikomah menggelar pengajian ini merupakan sebuah pertanda, dimana Allah menyukai amal yang dikerjakan meski sedikit asal rutin, dari pengajianlah, berkah ilmu dan keberkahan-keberkahan lain bisa menyertainya,” kata dia.[dre]

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here