23.2 C
Bandar Lampung
Selasa 14 Juli, 2020 05:11 WIB
Beranda OPINI Pojok Syafarudin Kutu-Kutu Rezim Otak-atik Sayap Burung Garuda

Kutu-Kutu Rezim Otak-atik Sayap Burung Garuda

Dialog Imajiner dengan Sukarno-Hatta (20):
Oleh Syafarudin Rahman

PAGI masih berembun dan gelap usai salat subuh, kami berempat (Bung Karno, Bung Hatta, Syafarudin dan mahasiswa milenial), duduk di sofa panjang di teras Gedung Pancasila, Jalan Pejambon, Jakarta.

Mata kami berdelapan tertuju ke monitor laptop di atas meja dan menyimak suara yang keluar lewat mini speaker yang dinyalakan milenial.

Muncul gambar bendera warna merah putih dan Burung Garuda berperisai Pancasila.

Mata kami tertuju ke sana dan telinga kami mendengar jelas ada alunan musik dengan intro pembuka harmonika melengking, mendayu, melandai diiringi gitar.

Lalu sederet teks muncul berjalan mengikuti suara sang penyanyi, Iwan Fals: Bangunlah Putra Putri Ibu Pertiwi.

Sinar matamu tajam namun ragu
Kokoh sayapmu semua tahu
Tegap tubuhmu takkan tergoyahkan
Kuat jarimu kala mencengkram
Bermacam suku yang berbeda
Bersatu dalam cengkrammu

Angin genit mengelus merah putihku
Yang berkibar sedikit malu-malu

Merah membara tertanam wibawa
Putihmu suci penuh kharisma
Pulau pulau yang berpencar
Bersatu dalam kibarmu
Terbanglah garudaku
Singkirkan kutu-kutu di sayapmu
oh…

Berkibarlah benderaku
Singkirkan benalu di tiangmu
Hei jangan ragu dan jangan malu
Tunjukan kepada dunia
Bahwa sebenarnya kita mampu

Mentari pagi sudah membumbung tinggi
Bangunlah putra putri ibu pertiwi
Mari mandi dan gosok gigi
Setelah itu kita berjanji

Tadi pagi esok hari atau lusa nanti
Garuda bukan burung perkutut
Sang saka bukan sandang pembalut

Dan coba kau dengarkan
Pancasila itu bukanlah rumus kode buntut

Yang hanya berisi harapan
Yang Hanya berisi khayalan

Milenial : izin Proklamator dan Pak Syafarudin, silakan diminum jahe merah plus kayu manis kiriman keluarga pembaca dialog kita ini mumpung hangat. Khasiatnya menambah imunitas tubuh di era new normal bulan Juni ini.

Syafarudin: Milenial, apa topik yang mau dibahas pekan ini? Lagu pembuka dialog kali ini yang bawakan Iwan Fals dahsyat, merinding kita.

Milenial : izin Proklamator dan Pak Syafarudin. Topik klasik saja pekan ini. Pancasila sebagai proyek otak-atik para dayang rezim.

Sengaja saya bawa dialog ke teras gedung yang dulu bernama gedung Tyuuoo Sang-In. karena di sini Bung Karno berpidato tentang 5 sila pada tanggal 1 Juni 1945. Yang selanjutnya aklamasi disetujui BPUPKI dan diberi nama Pancasila bukan Panca Dharma.

Syafarudin: Wow, topik klasik tapi berat ini Milenial. Supaya jelas berilah prolog yang lebih detil. Apa yang anda maksud proyek otak-atik. Apa juga itu dayang-dayang rezim.

Milenial : Diam-diam di tengah pandemik Covid-19, di kantor senayan DPR sedang membahas usul inisiatif mereka tentang RUU HIP (info versi surface web). Sedangkan versi deep web menginfokan inisiatif usul sebenarnya dari Jalan Teuku Umar. Rancangan Undang Undang Haluan Idelogi Pancasila.

RUU HIP ini terasa aneh karena seperti menurunkan derajat Pancasila dari letaknya di pembukaan konstitusi turun derajat ke undang-undang.

Proyek artinya pekerjaan dalam waktu tertentu dan tujuan tertentu, biasanya ada kepentingan polik dan ekonomi rezim yang tengah manggung.

Dayang-dayang rezim itu mereka barisan staf pemikir, pembantu dan parpol pendukung rezim. Iwan Fals memberikan metafora mereka kutu-kutu yang hinggap disayap burung Garuda.

Bung Karno : Waduh segerombolan kutu. Nampol ini anak muda. Tapi ada yang perlu saya luruskan Milenial bahwa di era 1945-1965, Pancasila tidak saya otak-atik jadikan proyek. Catat itu. Bahkan Pancasila tidak saya jadikan Pancha Darma, Tri Dharma, atau Eka Dharma. Pancasila saya selamatkan dengan dekrit Presiden 5 Juli 1959. Sejarah mencatat.

Bung Hatta : Tapi sejarah juga mencatat demokrasi terpimpin itu merupakan benih menumbuhkan kediktatoran baru dalam alam demokrasi Indonesia. Dan itu ditiru rezim-rezim penguasa setelah kita. Warisan buruk dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Semoga milenial atau generasi z bisa mengambil yang jernih dan membuang yang keruh.

Syafarudin: Izin Proklamator. Jangan berdebat keras begini. Santuy aja dong kata netizen. Kita rehat sejenak. Nikmati lagu dan lirik Iwan Fals di atas sekali lagi sambil seruput jahe hangat.

Bung Hatta : Bung syafar bisa dijelaskan RUU HIP tersebut?

Syafarudin: Proklamator cukup milenial yang bacakan draf RUU HIP. Saya mau katakan bahwa rumusan Pancasila itu sudah berkali-kali dibahas dan dirumuskan. Berbagai versi yang ada itu merupakan satu kesatuan. Versi 1 Juni 1945, versi 22 Juni 1945 Piagam Jakarta. Versi 18 Agustus 1945.

Empat kali amandemen (1999, 2000, 2001, 2002), pembukaan yang berisi Pancasila tidak ada yang berani otak-atik susunan dan urutannya. Jadi jelas Bangsa ini Berketuhanan Yang Maha Esa dan seterusnya. Ayo kita saling memaafkan dan berangkulan kembali. Nah gitu dong berangkulan dan salaman.

Milenial: Proklamator dan Pak Syafar izin. Draf RUU Haluan Ideologi Pancasila banyak beredar di grup sosial media pekan lalu, berikut naskah akademiknya. Terdiri dari 60 Pasal. Naskah baleg yang bisa kita baca versi 26 April 2020.

Bagian Menimbang berisi. Bahwa Pancasila sebagai dasar negara, dasar filosofi negara, ideologi negara, dan cita hukum negara merupakan suatu haluan untuk mewujudkan tujuan negara Indonesia yang merdeka, bersatu, dan berdaulat dalam tata masyarakat adil dan makmur melalui Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap Bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehdupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial sebagaimana dimaksud dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar.

Yang kontroversi dan sempat jadi berita hangat adalah pada draf bagian mengingat atau pertimbangan yuridis ini tidak memuat TAP MPR tentang pelarangan PKI.

Timbul kecurigaan jangan-jangan ada yang ingin memunculkan kembali ajaran komunis.

Bung Hatta : Pada bagian Menimbang atau dasar filosopis dan sosiologis
RUU tersebut tidak nampak frase kebutuhan masyarakat terhadap RUU tersebut . Yang ada cuma kebutuhan yuridis baru . Bung Syafar bagaimana tanggapanmu?

Syafarudin: Proklamator cermat sekali membacanya wajar sejarawan menjuluki Bung Hatta memiliki kepemimpinan administrator yang handal. Betul sekali RUU ini lemah di frase kebutuhan masyarakatnya tidak nampak.

Dengan kata lain RUU ini lebih merupakan keinginan elite. Saya baca naskah akademiknya, tidak jelas. Sudah tidak disebutkan susunan tim ahlinya, pakar asal kampus mana tidak jelas, tidak ada hasil riset atau hasil survey nasional apa sebenarnya persoalan dan kebutuhan masyarakat terhadap Pancasila.

Milenial: Proklamator dan Pak Syafar izin lanjutkan. RUU ini terdiri dari
sepuluh bab, yakni. 1). Ketentuan Umum; 2); Haluan Ideologi Pancasila; 3) Haluan ideologi Pancasila sebagai pedoman pembangunan nasional; 4) Haluan ideologi Pancasila sebagai pedoman sistem nasional ilmu pengetahuan dan teknologi; 5) Haluan ideologi Pancasila sebagai pedoman sistem nasional kependudukan dan keluarga; 6) Pembinaan Haluan ideologi Pancasila; 7) Partisipasi Masyarakat; 8) Pendanaan; 9) ketentuan peralihan; dan 10 ) Ketentuan Penutup.

Bung Karno: Milenial mohon bacakan draf pasal 56 dalam Bab Pendanaan?

Milenial: Pasal 56 Pendanaan yang diperlukan untuk Pembinaan Haluan Ideologi Pancasila dibebankan kepada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.

Bung Hatta: Milenial mohon anda bacakan draf Pasal 44 dan Pasal 48?

Milenial : Maaf Proklamator, saya paham maksudnya Proklamator ingin menunjukan bahwa ini adalah proyek otak-atik mereka yang berjumlah paling banyak 11 (sebelas) orang atau berjumlah gasal itu. Luar biasa cerdasnya Proklamator membaca semua ini.

Bung Hatta: Bung Syafar, apa yang menarik dan perlu dilengkapi dari RUU ini?

Syafarudin: Semenjak GBHN dihapus, nampaknya Pancasila melalui RUU ini ingin dijadikan garis-garis besar dalam haluan pembangunan Negara di level pusat maupun daerah. Lumayan ada kreativitas dan terobosan.

Yang mesti dilengkapi lagi secara transparan dan partisipatif dari RUU ini menurut saya lima hal:

Pertama, mesti dijelaskan apa batasan menghina,melecehkan mencemarkan nama baik pancasila. Lalu apa sanksinya.

Kedua, organisasi atau lembaga apa yang bertentangan dengan pancasila.

Ketiga, mereka yang ateis (tidak mengakui ada tuhan), mereka yang agnostik (tidak memiliki agama) apakah boleh jadi warga negara Indonesia yang berideologi Pancasila.

Keempat, perjelas Pasal Pasal sanksi pidana dan perdata untuk pelanggaran UU ini. Kelima, lakukan uji publik RUU ini di kampus-kampus.

Bung Karno : Maaf semuanya, saya permisi duluan karena mesti segera ke Blitar. Sudah ramai yang ziarah. Itu calon-calon bupati dan gubernur sudah ramai ziarah menjelang pilkada. Insha Alloh pekan depan bolehlah kita dialog kembali. Assalamualaikum warrohmatulohi wabarakatuh.

*Peneliti Labpolotda dan Dosen Ilmu Pemerintahan
FISIP Universitas Lampung

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

Baca Juga

Preman Dari Provinsi Pabrik Permen

Dialog Imajiner dengan Sukarno-Hatta (22): Oleh Syafarudin Rahman PAGI masih gelap dan sepi usai salat subuh, kami berempat seperti biasa berbincang sambil menghirup segarnya oksigen yang...

Koruptor, Antara Diberantas Dan Dirawat

Oleh Syafarudin Rahman KOMISI Pemberantasan Korupsi (KPK) merilis 10 daerah provinsi dengan angka korupsi tertinggi sejak lima tahun terakhir, 2014 hingga 2019. Provinsi Lampung menempati...

RUU HIP Ditunda, Penunggang Kandas, Lovers Gagal

Dialog Imajiner dengan Sukarno-Hatta (21): Oleh Syafarudin Rahman  PAGI masih gelap dan berembun usai salat subuh, kami berempat (Bung Karno, Bung Hatta, Syafarudin dan mahasiswa milenial),...

Iklan Lebay Milad Dan Jilat Pejabat

Opini Syafarudin Rahman, GUBERNUR Lampung Arinal Djunaidi, Presiden Soekarno dan Presiden Joko Widodo sama-sama lahir di bulan Juni. Mereka cuma beda tanggal dan tahun. Soekarno lahir...
Translate »