Kepala Teknik Tambang (KTT) PT Bukit Asam Suhedi mengatakan tewasnya pekerja outsourching– Hartono (39)–murni kecelakaan tambang.

“Tidak ada unsur pidana atau unsur kesengajaan,” ujarnya kepada Kantor Berita RMOLLampung, Kamis (12/3).

Jika hasil investigasi ternyata ada indikasi pidana atau ada unsur kesengajaan, KTT akan melaporkannya ke pihak kepolisiaan.

Hasil investigasi peristiwa pada tanggal 27 Januari lalu berupa berita acara dan sudah disampaikan ke Kepala Instruktur Tambang (KAIT).

Investigasi bukan mencari kesalahan tetapi mencari penyebab kecelakaan sehingga kejadian semacam ini tidak terulang kembali, katanya.

Menurut Suhedi, kejadian ini tidak ada yang ditutupi, semua terbuka dan banyak yang menyaksikan.

“Saya sebagai KTT wajib melaporkan setiap kecelakaan berat atau fatal kepada inspektur tambang,” ujarnya.

Hari peristiwa, dia mengaku langsung melaporkan kejadian ini ke KAIT dan besoknya langsung dikirim Inspektur tambang untuk dilakukan investigasi.

Hasil Investigasi, murni kecelakaan, tandasnya.

Dia menjelaskan ada lima kriteria atau syarat dimasukan dalam kategori kecelakaan tambang.

Pertama, benar-benar terjadi,  bukan reka yasa.

Kedua, kecelakaan mengakibatkan cidera pada pekerja tambang atau orang yang diberi ijin oleh Kepala Teknik Tambang (KTT).

Ketiga, peristiwa akibat kegiatan usaha pertambangan.

Keempat, terjadi pada jam kerja pekerja tambang yang mendapat cidera atau setiap saat orang yang diberi izin.

Kelima, terjadi di dalam wilayah kegiatan usaha pertambangan atau wilayah proyek.

“Rekomendasi hasil investigasi Inspektur Tambang ditulis dalam buku tambang dan sudah kami tindaklanjuti sesuai batas waktu yang sudah ditentukan,” kata Suhedi.

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here