23.8 C
Bandar Lampung
Minggu 31 Mei, 2020 04:58 WIB
Beranda OPINI Kisah Pilon Pejabat Menyanyi Dan Covid-19

Kisah Pilon Pejabat Menyanyi Dan Covid-19

Oleh Soeyanto Soe*

SALAH satu momen paling bloon dan konyol yang saya saksikan dalam hidup saya adalah saat melihat pejabat-pejabat bernyanyi, baik di panggung resepsi atau di acara-acara lain.

Lebih dari 85 persen suara mereka cempreng, nafas tersengal-sengal, dan nada suara lari entah ke mana. Meski demikian,  mereka tetap senyum-senyum bangga (saya melihatnya justru inilah mimik paling bloon umat manusia) dan bersemangat karena mendapat applaus berkali-kali dari penonton.

“Lagi Pak.. Lagi Bu..!,” kata mereka tertawa-tawa.

Dikira si pejabat suaranya poll menghibur nanmerdu. Padahal lebih mirip suara gondoruwo ngambek atau pun kuntilanak kejepit lemari.

Saya tidak pernah paham mengapa ulah mereka seperti ini. Stres dari pekerjaankah? Cita-cita yang tak sampaikah? Atau memang kebelet mau eksis mumpung jadi pejabat sehingga berharap orang terpesona dan tidak akan ada yang protes atas polusi suara mereka. Entahlah. Ini konyol.

Bukannya menunjukkan kinerja, bekerja keras, dan bersikap profesional tetapi lebih senang bersenda-gurau. Mungkin mereka beranggapan sudah takdirnya rakyat menonton kebahagiaan mereka. Kekuasaan mereka. Rakyat hanya pelengkap untuk meng-elu-elu-kan mereka.

Kalau pejabat itu tahu diri, seharusnya mereka mengundang penyanyi profesional untuk berdendang. Setiap orang memiliki keahlian dan bidangnya masing-masing. Dengar dan simak olah vokal mereka. Nikmati.

Di situlah tandanya engkau menikmati keriangan sebuah lagu. Bukan ikut buas meraih microphone. Biarkan rakyat turut menikmati sajian karya yang berkualitas. Ajari rakyat untuk menghargai hal-hal baik.

Kalaupun engkau tak dapat menahan hasrat untuk berdendang, lakukanlah di rumah atau ruang-ruang private. Tutupi aib-mu. Jaga agar tak banyak orang tahu betapa mengerikannya suaramu.

Semburkan suaramu pada segelintir orang-orang dekat. Merekalah yang ikhlas untuk bergembira dan bertepuk-tangan. Bukan rakyat yang kau paksa-paksa dan kau siksa dengan suara yang memedihkan telinga.

Tak ada pejabat di luar negeri yang rela mempermalukan dirinya seperti ini. Bahkan penyanyi top luar negeri ternama pun mikir-mikir bila disuruh mendadak menyanyi di suatu acara. Mereka khawatir menurunkan “grade” karena tanpa persiapan yang memadai.

Berhubung bloon-bloon, ya kalau di sini banyak yang lebih terhipnotis untuk adu suara. Trabas saja. Toh banyak yang bertepuk tangan bahagia. Walau kalau mereka ada otak sedikit, yang bertepuk tangan itu justru mengejek mereka dan menjebak mereka agar ketololan itu diumbar selama mungkin.

Kapan lagi melihat bupati, walikota, gubernur, menteri-menteri terlihat norak laksana badut di panggung. Runtuh sudah wibawa mereka. Runtuh sudah kegagahan yang disombongkan mereka. Hancur lebur.

Nah, di masa wabah Covid-19 ini banyak pula pejabat bernyanyi-nyanyi tak jelas apa pesannya. Cengangas-cengenges di panggung maupun video. Mengajak bergembira. Elu senang, rakyat susah. Ajaib!

Tidak ada sama sekali empati mereka untuk bekerja keras sebagai pejabat. Ini malah berjoget. Apa mungkin karena sudah tidak bisa mikir lagi?

Atau karena selama ini tidak pernah mikir, sehingga saat covid-19 diharuskan berpikir, pelarian akhirnya hanya bisa tralala-trilili?

Bencana pejabat bernyanyi setahu saya dimulai di era Sudomo jaman Soeharto saat beliau dengan mata terpejam-pejam menyanyikan lagu Kemesraan-nya Franky Sahilatua.

Sejak itu mulailah trandisi pejabat-pejabat ramai-ramai menyanyi di panggung atau di setiap kesempatan. Bahkan ada keyakinan tak tertulis: kalau ingin jadi pejabat haruslah bisa menyanyi.

Sembrono sekalipun. Nyanyilah di atas panggung menghibur ala badut cemong.

Ukuran untuk menjadi pejabat ter-downgrade, terkikis hingga ke dasar. Bukan lagi kapasitas, kemampuan, pengalaman, dan sebagainya; tetapi yang penting bisa nyanyi bloon, tepuk-tepuk lucu, dan ikhlas hore-hore bersama handai-taulan sang atasan. Simsalabim anda menjadi pejabat! ***

(*) Penulis adalah Pemerhati Ruang Publik

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

Baca Juga

H+1 Lebaran Corona Capai 22.750, Sembuh 5.642, Meninggal 1.391 Orang

 Penambahan kasus positif virus corona baru atau Covid-19 pada H+1 Lebaran hari ini mengalami peningkatan signifikan.Berdasarkan data yang...

Jumlah Terinfeksi Covid-19 Nasional Tembus 22.271 Kasus

 Jumlah pasien terinfeksi virus corona baru (Covid-19) di Indonesia masih terus mengalami peningkatan. Dari data...

Tok! Perppu Corona Resmi Disahkan Menjadi Undang-Undang

Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI mengesahkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang Undang Perppu (Perppu) 1/20a20 tentang Kebijakan Keuangan Negara dan Stabilitas Sistem Keuangan Untuk...

Labkesda Lampung Uji Coba Alat Tes Covid-19

Alat PCR untuk uji Covid-19 bantuan Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sejak 2 Mei lalu mulai diuji coba di Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda)...
Translate »