Ketum PWI: Indonesia Harus Tetap Waspada Pada Krisis Global

Dampak perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China terhadap Indonesia masih terus menghantui benak masyarakat. Pasalnya, sejumlah negara tetangga telah mengalami pertumbuhan ekonomi yang rendah selama kurun waktu 2 tahun terakhir.


Sebagai contoh, sejumlah negara seperti Jepang, Singapura, Hongkong, dan Turki mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi pada kuartal III 2019. Dalam forum diskusi ekonomi dan bisnis bertajuk "Jurus Bisnis dan Investasi dalam Menyiasati Resesi Ekonomi Global", Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Atal S Depari mengajak semua pihak untuk tetap optimis menghadapi kondisi perekonomian dunia saat ini.

"Dalam berbagai polemik dunia yang terjadi saat ini akan isu krisis ekonomi global, tentunya kita tidak perlu khawatir dan perlu waspada dan mengantisipasipasi hal tersebut," ucap Atal di Ballroom Adhiyana, Wisma Antara, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Jumat (31/1) dilansir Kantor Berita Politik RMOL.

Lebih lanjut, Atal menyebutkan data yang ia miliki terkait kondisi perekonomian global secara keseluruhan. Di mana, sepanjang tahun 2019, pertumbuhan ekonomi lebih melambat di hampir 90 persen dunia.

"Di tengah kisruhnya perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China dalam 2 tahun waktu terakhir ini yang mengakibatkan aktivitas menufaktur dan investasi di seluruh dunia melemah secara substansial," papar Atal mengenai sebab pelemahan ekonomi global.

Data ini, ujar Atal, sesuai dengan data Kementerian Keuangan dan Badan Pusat Statistik (BPS) di sejumlah negara. Bahkan, sejumlah otoritas di beberapa negara itu memperlihatkan data mengenai ancaman resesi di negaranya masing-masing.

Sementara, kondisi perekonomian domestik yang sampai dengan saat ini masih cenderung stagnan di angka 5 persen mesti ditingkatkan oleh pemerintah, guna mengantisipasi ancaman resesi global tersebut.

"Butuh trik dalam menyiasati resesi ekonomi global, perlu dibentuk agar hal tersebut dapat menjadi upaya preventif dalam menangkal resesi ekonomi yang sedang menghantui dunia saat ini," ungkap Atal.