Episode 17

GELUDUK dan kilat sambar menyambar menerpa Kawasan PabrikPermen,namun bukan menjadi pertanda datangnya hujan. Ternyataini hanya sebuah pertanda atas arogansi Mbak Pur mengadu domba sesama tokoh elit politik. Tak sebatas itu, ternyata kesuksesan Mbak Pur mengadu­domba, merembes hingga akar rumput.

Sebenarnya tak perlu begitu terkejut. Syahwat kekuasaan Mbak Pur berjalan seiring dengan kesuksesannya menyiasati bisnis Pabrik Permen. Kucuran dana keuntungan yang digenggam Mbak Pur, tentu saja membuat ngiler para elit partai. Tak peduli dengan runtuhnya harkat dan martabat  partai. Apalagi ingin membela nasib warga yang menjadi konstituen mereka di sekitar Pabrik Permen yang sudah menderita puluhan tahun.

Tak berhenti hanya sebatas merampok Partai Go-Kart yang kini digenggam Juned.Syahwat Mbak Pur dan Guntur terus bergelinjang. Cengkraman Mbak Pur terus menusuk jantung dan memporakpandakan pertahanan elit-elit partai. Namun tekad Mbak Pur ingin menguasai seluruh partai, ternyata gagal total. Masih ada partai yang tak silau dengan tumpukan uang haram yang jumlahnya ratusan miliar.

Kini, diluar Partai Go-Kart yang sudah tergadai, Mbak Pur i berhasil memeluk elit Partai Gergaji, Partai Kutu Busuk, dan Partai Anak Nakal. Mereka tidak peduli kalangan akar rumput partai porak poranda, seperti Partai Go-Kart.

Guna memperluas daerah jajahannya, Mbak Pur pun memainkan perangkap buat Mustajab. Partai Hati yang Luka, melalui elitnya sudah memutuskan mendukung Mustajab berpasangan dengan Hasan Hasan. Nanti, diujung pencalonan akan di bom Mbak Pur, dan bubar.

“Kamu jangan capek-capek dong,” ungkap Mbak Pur.

“Kalau mau jadi Gubernur, ya harus capek,”jawab Juned.

“Kalau kamu capek, aku kan ikut capek,”balas Mbak Pur.

“Terus gimana dong…,”ujar Juned.

Nun di ujung sana, para politisi berbincang dengan serius, hingga lupa menyeruput kopi. Mereka sibuk berdiskusi tentang peluang para cagub yang akan turut serta dalam kontestasi. Mereka berdebat dengan mengacu atas hegemoni kapitalisme yang dipertontonkan Pabrik Permen.

“Sekarang Mbak Pur sudah mencengkram aspek politik,” ujar Mat Raji.

“Bukan hanya itu. Aspek ekonomi, sosial, dan juga HAM sudah dikangkangi,” timpal Raden Jambat.

“Sudah lengkap mereka menjajah kita. Bagaimana lagi. Elit-elit partai tak bisa menolak bujuk rayu dan ancaman Mbak Pur,” keluh Raden Simah.

“Warga di kawasan Pabrik Permen tidak bisa berbuat banyak. Yang masuk bui banyak. Kalau yang mati, juga tidak terhitung lagi karena mempertahankan hak milik mereka. Warisan nenek moyang mereka,” sergah Mat Raji.

“Partai yang jadi harapan kita, sudah selingkuh dengan konstituennya. Jangankan mau peduli dengan warga di sekitar Pabrik Permen, kawasan pun mereka akan jarah. Uang mereka hambur-hamburkan. Mbak Pur tak peduli soal itu. Berapapun mereka gelontorkan, yang penting kekuasaan ada ditangan Pabrik Permen,” kata Raden Jambat dengan nada kelu.

“Mbak Pur dan Guntur itu sudah seperti tuhan,” Raden Simah menambahkan.

“Semua sudah masuk dalam jeratan kapitalisme. Ini bentuk penjajahan gaya baru. Mbak Pur memperluas wilayah jajahannya,” kata Raden Jambat.

“Lihat saja, Ronald yang begitu setia, dipermalukan. Dihabisi agar tak bisa ikut kontestasi. Mereka beli partai. Orang-orang partai diadu domba tanpa ada kesadaran akan tanggungjawab mereka kepada rakyat,” ujar Mat Raji.

“Percayalah. Elit partai yang dibeli Mbak Pur, pasti akan menemukan kesadarannya. Ini soal waktu saja. Allah SWT tidak akan membiarkan kezholiman,”ujar Raden Simah mengingatkan.

“Kita lihat saja nanti. Apa yang sudah digenggam mereka akan buyar. Baik yang digenggam Juned maupun Mustajab,” ujar Raden Simah mengingatkan.

“Pilgub kali ini akan diikuti tiga pasang. Walau Mbak Pur berlaku seperti tuhan, tak akan bisa membendung. Allah SWT punya kuasa,” timbal Mat Raji.

“Mat, kog bisa begitu?” tanya Raden Jambat pada Mat Raji.

“Bisa saja. Mbak Pur menzholimi Ronald sudah melampaui batas. Biasanya orang yang dizholimi akan muncul kepermukaan. Elit partai juga dibuatnya terhina karena uang. Allah SWT tak akan membiarkan kesewenang-wenangan Mbak Pur,” timpal Mat Raji.

“Siapa saja?” tanya Raden Jambat.

“Juned, Ronald, dan Hermanus,” jawab Mat Raji meramal.

“Mustajab ?” kejar Raden Jambat.

“Ya tidak kemana-mana,” ujar Mat Raji sembari menyerubut kopi dinginnya.

“Ah, sampean ini ada-ada saja,” kata Raden Simah.

“Siapa yang jadi Gubernur nanti?” kejar Raden Jambat.

“Yang jelas, bila partai pengusungnya diperoleh dengan cara mengadu domba rakyat dan zholim seperti yang dilakukan Mbak Pur, tidak bakal jadi,” ujar Mat Raji.

“Sampean yakin sekali?” ujar Raden Simah memotong.

“Pemilih sudah tahu, Juned itu bonekanya Pabrik Permen yang ingin menjajah kita.Surveynya saja nomor buncit,” tutup Mat Raji sembari ngeloyor pamit. (d)

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here