Episode 11

RENCANA awal Guntur dan Mbak Pur yang sudah dikubur, tampaknya kembali. Ronald dan Juned tetap akan disandingkan ke pelaminan. Dalam khazanah perkawinan, istilah yang paling tepat adalah Kawin Paksa. Namun sudah menjadi pengetahuan masayarakat secara luas, bahwa keduanya saling bertolak belakang. Ronald tak ingin Juned, begitu juga sebaliknya, Juned tak ingin bersama Ronald.

Terlepas dari pengetahuan masyarakat tentang Ronald dan Juned, muncul pertanyaan, mengapa kini, Mbak Pur dan Guntur perlu kembali menempuh skenario awal, Kawin Paksa? Tampaknya Mbak Pur dan Guntur sudah menujut titik tanpa harapan. Upaya all-outnya melalui program joget-joget, wayangan, bedah kampung, hingga terjun ke pasar, guna menaikkan daya minat dan daya tawar Juned, ternyata tidak seperti yang diinginkan. Bahkan partai yang dipimpinnya, bukan menjadi lebih baik, justru jadi  keropos. Malah berbuah hadirnya Dangsus Permen yang mengancam terbongkarnya kejahatan Pabrik Permen selama ini.

Memang hasil suvery internal yang dilakukan Pabrik Permen menunjukkan tidak ada peningkatan ranking untuk Juned. Sementara segala daya upaya Mbak Pur dan Juned menggergaji Ronald, baik melalui jaringan media berbayar Kacung” ataupun melalui ranah kekuasaan, hasilnya tak signifikan. Padahal hampir seluruh keburukan Ronald sudah ditebar hingga ke gang-gang, mulai dari kasus amoral, selingkuh hingga ke kasus hukum.

Disisi lain, gerilya Mbak Pur bersama tim untuk mengikat koalisi-koalisi, juga tak berujung tuntas. Semua kesepakatan yang telah dilakukan, tak mampu dieksekusi hingga final. Gamang. Sementara lembaran rupiah dan dolar sudah bergudang-gudang digelontorkan.

Mbak Pur merenung. Mbak Pur mencoba melepas perasaannya terhadap Juned. Tapi ada daya, ibarat kata pepatah: Bila cinta sudah melekat, kotoran sapi terasa coklat.

Ada apa lo, koq ngelamun?,” sergah Guntur, sang kakak, memecah kesunyian.

Tak ada apa-apa,” jawab Mbak Pur tetap tak mengalihkan tatapannya kearah Juned yang terbaring di ranjang empuk rumah sakit, yang semalam ditidurinya.

Yuk ngopi diluar,” ujar Guntur menggamit lengan sang adik tersayang, sembari melangkah meninggalkan kamar. Sementara Juned tetap berlagu, seakan pulas ditempat tidur.

Mengambil tempat di coffe shop yang berada tak jauh dari kawasan rumah sakit, kakak beradik ini duduk di meja sebelah kanan ruangan.

Apa keputusan lo soal Pilgub?” ujar Guntur.

Ya gimana? Kalau soal Dangsus Permen, hasilnya sih oke. Mayoritas udah ke kita,” balas Mbak Pur.

Tapi belum tuntas inti masalahnya?,” jawab Guntur.

Itu gampang. Tinggal gua nego dengan partainya Gundala Putera Petir,” jawab Mbak Pur.

Tapi tidak semudah itu. Koalisi dengan Gundala kan dengan syarat agar kasus lahan dengan warga dituntaskan,” balas Guntur.

Iya. Makanya jadi ruwet. Tapi untuk sementara, Dangsus sudah kempes,”jawab Mbak Pur.

Tidak begitu. Faktanya memang kita kuasai tanah warga. Gini aja, sekarang gua yang tangani langsung soal Dangsus dan Pilgub,” pinta Guntur.

Silahkan saja koko tangani. Aku juga capek, apalagi Juned sakit,” balas Mbak Pur.

Bukan Guntur namanya bila tak bergerak cepat. Pimpinan-pimpinan puncak partai segera dihubungi. Guntur meminta waktu untuk bertamu. Guntur sudah melakukan evaluasi. Memang selama ini tim yang dibentuk penuh dengan pengkhianat dan musuh-musuh Ronald. Hasilnya cukup baik untuk menurunkan kredibiltas Ronald di mata warga. Bahkan bukan hanya Ronald yang dihantamnya, Tohari, orang tua Ronald pun dilengserkan dari fungsi dan peran utamanya di Pabrik Permen.

Jiwa Guntur bergelora. Kembali pada skenario awal. Melakukan Kawin Paksa antara Ronald dan Juned. Sebuah kepongahan Yahudi memang menghiasai hatinya. Kekuatan uang adalah segala-gala. Tak ada yang tak bisa dibeli dengan uang. Guntur mengkesampingkan faktor harkat dan martabat Ronald dan keluarga yang sudah didorongnya hingga tergelatak di atas lantai. Demi duduk dikursi kekuasaan, Guntur berpikir, Ronald akan takluk dengan kehendaknya: Kawin Paksa.

Guntur berketetapan, setelah melalui saran dan pertimbangan penasihat-penasihat ahli, skenario Kawin Paksa antara Ronald dan Juned dalam Pilgub, merupakan pilihan efektif dan efisien untuk kepentingan Pabrik Permen. Partai-partai yang selama ini didekati Juned dan Ronald, ditipu saja. Tinggal diselesaikan serta digabungkan.

Bila rencana Guntur sukses, maka secara total kekuasaan bisa dalam genggamannya. Ronald dan Juned benar-benar jadi boneka. Disisi lain, dalam hitungan Guntur, dia bisa secara all out mengerahkan seluruh potensi yang ada, demi memenangkan pertarungan Ronald-Juned vs Hermansyah-Arief.

Guntur bertamu ke boss besar partai Ronald. Dalam pertemuan yang tidak terlalu lama, Guntur menumpahkan sebagian dari cerita. Menyembunyikan niat yang sesungguhnya, menguasai kawasan Pabrik Permen yang kini mulai bergolak. Point penting yang diutarakan, hanya meminta dukungan dan persetujuan untuk mengawinkan Juned dan Ronald dalam Pilgub mendatang.

Namun, hingga pertemuan bubar, Guntur tak mendapat jawaban yang pasti. Guntur lupa, tiga bundel besar laporan tentang Ronlad, yang disebarkan Kacung-kacungnya ke berbagai partai, juga sampai ke boss besar partai Ronald.

Pada fragmen cerita bersambung ini, jelas terlihat bagaimana boss Pabrik Permen menempatkan harkat dan martabat manusia. Sesungguhnya semua diperlakukan Guntur seperti Kacung. Bukan hanya boss partai, tapi juga masyarakat. Bagi yang ingat sejarah pada era penjajahan Belanda, tentu akan merefleksikan bahwa skenario Guntur sama dan sebangun pada era itu: Pengkhianat dan penjilat dipelihara, demi sukses tujuan meng-kolonisasi kawasan Pabrik Permen.

Guntur tak tuntas mengikuti alur cerita era penjajahan Belanda. Walau memelihara pengkhianat dan penjilat, Indonesia tetap merdeka. Melalui kekuasaannya, Guntur mengkesampingkan gelora tekad dan semangat warga di kawasan Pabrik Permen yang menuntut hak nenek moyang mereka. Mari kita simak episode selanjutnya.(d)

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here