24.9 C
Bandar Lampung
Senin 13 Juli, 2020 21:21 WIB
Beranda OPINI VAN JOENED Ketika Mbak Pur Gagap

Ketika Mbak Pur Gagap

Episode 6

BAGI kalangan yang tidak mengerti, terkadang perlu berpikir keras melihat gerak Mbak Pur memacu bisnisnya. Lima tahun terakhir, dia begitu melekat dengan dunia politik. Bisa jadi disebabkan pengalamannya dalam mengelola bisnis keluarga, sebelumnya. Mulai dari cara menghindar atas sangkaan sebagai pengemplang pajak, sekitar 25 tahun yang lalu, hingga pada proses pertarungan merebut Pabrik Permen.
 
Sejak ditinggal ibunda tercinta, Mbak Pur dan kakaknya, Guntur, menyadari tidak selalu akan meraih kemenangan. Hanya kekuasaan yang bisa menyelamatkan bisnis mereka. Sehingga citra perlu dijaga. Ada saatnya tersungkur di jurang. Ya jurang menganga yang tercipta atas prilaku mereka sendiri. Mereka yang menggali. Sehingga temuan atas pengalaman selama ini, menciptakan pola tersendiri dan melahirkan siasat baru, seperti yang dipraktikkan belakangan ini.

Perubahan langgam yang terjadi belakangan ini, tidak terlalu mengejutkan. Mbak Pur merujuk pada kegagalan teori Jurgen Habermas, seorang tokoh aliran Filsafat Kritis, kelahiran Jerman. Habermas berpandangan, perlu menciptakan diskursus dan komunikasi politik yang rasionalitas, sebagai pengilmiahan politik di Ruang Publik demi terwujudya demokrasi yang ternyata gagal.
 
Ruang publik perlu diubah. Tidak seperti yang dipikirkan Habermas. Melalui celah ini, Mbak Pur bergerak. Menggergaji ruang publik. Seperti apa siasatnya? Mbak Pur mengawali dengan mendirikan sebuah surat kabar nasional.

Walaupun surat kabar yang dimiliki Mbak Pur, lebih merupakan ucapan terima kasih kepada sekelompok wartawan  yang menjadi pasukannya ketika terjadi pertempuran opini di ruang publik, saat merebut Pabrik Permen.

Inilah kecerdikan Mbak Pur. Melalui pintu media, diterobos jantung pertahanan WRC (wartawan rangkap calo), sebuah organisasi tempat berhimpunya kalangan pekerja media. Mulanya Mbak Pur menempatkan seorang kacung dalam WRC ditingkat nasional. Media yang merupakan “succes fee”┬á dan lahir setelah Mbak Pur berhasil menguasai Pabrik Permen. Juga belakangan menjadi pintu masuk antek Pabrik Permen untuk mengkooptasinya Ketua WRC. Tangan gurita Mbak terus bergerak. Merambah bak perambah kawasan hutan yang menjadi areal tanaman bibit Permen, hingga mencengkram cabang WRC di kawasan Pabrik.

Media massa di kawasan Pabrik ditaklukkan. Ini tak lepas dari peran tangan Ronald. Caranya sederhana, melalui posting kontrak Iklan dan menjadi pelanggan sirkulasi. Setelah tahapan ini berhasil, lengan Gurita, Tentakel terus merambah hingga pada tahap melumpuhkan.

Beberapa petinggi media dijejalinya dengan uang suap dan Bungkam! Mbak Pur berhasil mengubah Ruang Publik. Hampir tak ada informasi yang tersebar di ruang publik, manakala terkait aktifitas Pabrik Permen yang merugikan masyarakat.

Padahal, ruang publik seharusnya diisi kumpulan informasi untuk kepentingan rakyat. Berisi orang-orang cerdas yang mampu berkomunikasi dan berdebat secara rasional.

Kini, karena ulah Mbak Pur dan wayang-wayangnya, Ruang Publik lebih banyak diisi oleh pendapat manusia-manusia yang memperjuangkan kepentingan dirinya, golongan, dan kelompok saja.

Begitu banyak peristiwa di kawasan Pabrik Permen, mulai dari warga yang kehilangan lahannya, tak mampu mengesahkan tanahnya, hingga tak bisa terlaksananya program pembangunan. Media massa diam. Jargon membela kepentingan masyarakat, pupus ketika menyentuh Pabrik Permen. Semua tak ada dalam informasi yang disebar media massa. Ruang publik terjarah. Hanya segelintir media yang masih peduli mengabarkan. Inilah sebuah antitesa Habermas.

Seperti pemilihan gubernur sebelumnya, kini, menjelang pemilihan gubernur baru, banyak media bungkam. Para pekerja media mengkesampingkan tanggungjawab profesinya. Mereka tidak lebih ditempatkan sebagai kuli Mbak Pur. Kesana, kesini, pasang ini, pasang itu, buat ini, buat itu, urus izin ini, izin itu, naikkan berita ini, jangan berita itu. Tak ada ide dan gagasan. Klan WRC meracuni, memaksa rakyat untuk percaya, bahwa Juned merupakan satu-satunya manusia yang patut meraih kursi gubernur.

Setelah Juned merebut Partai Go-Kart, publik dipaksa agar tak bisa lagi membedakan, mana Kurawa, mana Sengkuni. Padahal, Mbak Pur hanya menciptakan wayang-wayang yang bertugas untuk menzolimi masyarakat di kawasan Pabrik Permen yang mereka jarah habis-habisan. Menguasai kelompok WRC itu semata-mata sebagai upaya Mbak Pur untuk menutupi langkahnya yang menghisap kekayaan daerah dan masyarakat. Seandainya ada kepedulian-kepedulian kecil yang dilakukan Mbak Pur, hanya sebatas debu dari jutaan ton butiran permen yang ditelannya.
 
Tembakan meriam iklan dan pemberitaan serta papan reklame, menyerbu ruang publik, bak Zombie yang lapar. Cukup hanya dihiasi wajah Juned, sang adik yang diakui memiliki hubungan khusus dengan dirinya. Disinilah Mbak Pur mempertontonkan kekuatan uang yang dimilikinya. Bisa jadi, bila Mbak Pur diperiksa dokter specialis kejiwaan, hasilnya rada gila.

T: Anda sangat serius dengan Juned?

Mbak Pur: Ya serius dong. Eh, maksudnya serius soal apa? (tampaknya Mbak Pur gagap. Sulit mencerna dan memisahkan antara soal pribadi dan birahi untuk menciptakan wayang kekuasaan).

T: Dalam pikiran anda soal apa?

Mbak Pur: Jika soal pribadi, tentu tidak sampai diresmikan. Jika soal menjadikan gubernur, serius juga.
 
T: Bisa dijelaskan?

Mbak Pur: Kita mengerti, untuk meyakinkan masyarakat memilih Juned, cukup sulit. Tidak punya prestasi apa-apa. Jabatan terakhir yang diraihnya, itu karena saya turut campur. Ketika dilantik, saya hadir.

T: Lantas, kenapa anda memaksakan Juned? Bukankah lebih baik Ronald saja?

Mbak Pur: Ini dua hal yang berbeda. Terus terang saja, saya suka yang muda, walau saya harus memaklumi bahwa pengalaman mereka kurang memuaskan. Ini yang juga menjadi salah satu pertimbangan untuk mendorong Juned. Saya kenal Juned sudah lama. Juned melekat dengan saya, sebelum Ronald berkuasa.
 
T: Jadi selama ini anda tidak puas dengan Ronald?

Mbak Pur: Seperti yang saya katakan sebelumnya. Intinya kita sungguh kecewa. Banyak aspek yang membuat kita kecewa.

T: Dalam pandangan anda, apa keunggulan Juned?

Mbak Pur: Hmm apa ya? Pokoknya ada Dia pandai mengambil hati. Pekerja keras, bermainnya cukup pintar.

T: Misalnya?

Mbak Pur: Oh.. maaf, bukan itu (matanya menatap jauh diluar ketinggian jendela gedung. Kembali Mbak Pur gagap. Sulit mencerna dan memisahkan antara hubungan pribadi dan birahi untuk menciptakan wayang kekuasaan). Dia punya potensi yang terpendam.

T: itu saja?

Mbak Pur: Ya itu. Pokoknya beda lah. Tapi keduanya ada kesamaan.

T: Maksudnya?

Mbak Pur: Sama-sama merasa hebat. (telpon berdering, Mbak Pur menuju pojok ruangan) Maaf, kita sampai sini dulu ya. Nanti disambung kembali.
(wawancara ini terpotong. Mbak Pur ada janji lain. Namun sebelumnya ada penggalan-penggalan lebih dalam tentang alasan mengapa Mbak Pur memilih Juned, simak pada episode berikutnya) (d)

PENULIS: YUSUF YAZID


Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

Baca Juga

Ketika Mbak Pur Geli

Episode 5 LEMBARAN 100 dolar menempel begitu lekat dengan kulit dompet. Terlalu berada di dalam. Negara yang kerab...

Ketika Mbak Pur Patah Arang

Episode 4 CUKUP lama menanti, setelah mengalami lika-liku melelahkan, tiba juga saat melakukan wawancara dengan Mbak Pur....

Ketika Mbak Pur Memutuskan

Episode 3 SIANG hampir menuju akhir. Namun udara kota metropolitan tetap terasa panas. Suhu udara di Restoran Jepang...

Ketika Mbak Pur Berkehendak

Episode 2 ADAKAH yang bilang, bahwa Mbak Pur gagal dalam bisnis? Hampir tak ada. Kondisi ini menciptakan gejolak...
Translate »