Episode 12

GUNTUR bergerak cepat. Bermodal kekuatan uang yang dimiliki, tingkat percaya dirinya sangat tinggi. Setelah menghambat laju sebagian besar partai-partai di Dangsus Permen, dia secara paralel menaklukkan partai-partai lain demi mengusung Juned sebagai cagub di kawasan Pabrik Permen.

Satu demi satu petinggi partai menistakan diri hanya karena suntikan dolar. Mereka tak peduli tentang nasib warga masyarakat yang dihisap habis karena keberadaan Pabrik Permen. Sampai tak mampu berdiri nyaman di rumah yang menjadi tempat kelahiran mereka.

Terkini, Partai Anak Nakal, takluk. Ketua Umumnya tak berkutik akibat ulah adiknya yang dikocori 40 miliar plus dijanjikan untuk mendapat konsesi kursi calon wakil gubernur. Prosedur partai, apalagi tatakrama diterobos habis-habisan. Jual beli partai dilakukan tanpa mengindahkan moral.Padahal selama ini partai kebiru-biruan ini mengedepankan jargon soal akhlak, etika dan moral.

Sebelumnya, Partai Kutu Burung yang malu-malu, buntutnya luruh dengan tumpukan dolar senilai 30 miliar. Guntur juga memainkan iming-iming kader mereka untuk dijadikan calon wakil gubernur mendampingi Juned. Sementara Partai Gergaji yang sudah pacaran dengan Partai Go-Kart belum mampu dituntaskan untuk menuju pelaminan. Masih banyak tahapan-tahapan yang perlu diselesaikan.

Skenario Guntur dan Mbak Pur, seperti yang dipaparkan pada episode sebelumnya, ingin membeli seluruh partai, tampaknya terus dilakukan. Sebenarnya pikiran Guntur tidak sesederhana itu. Ada ambisi yang sangat besar untuk melampiaskan nafsunya. Beli partai, kumpulkan, targetnya agar Ronald tak bisa maju Pilgub. Lebih jauh dari itu Juned maju sebagai calon tunggal dengan membeli Partai Daun Itunya Pepaya. Syahwat kooptasi yang luar biasa.

Tiba-tiba Raden Jambat bertanya: Banyak sekali uang dikocorkan untuk membumi hanguskan partai?

Tak apa-apa, kan bukan uang pribadi kami. Tidak mengurangi keuntungan Pabrik Permen, jawab Guntur.

Raden Jambat terus mengejar: Kenapa harus Juned. Kog bukan meneruskan Ronald?

Ronald bandel, tidak patuh. Kami harus berhadap-hadapan langsung dengan penguasa di Ibukota, gara-gara Ronald tidak patuh, sergah Guntur.

Setelah Ronald melindungi anda bertahun-tahun, anda campakkan begitu saja. Hal serupa bisa terjadi pada Juned dong? ujar Raden Jambat.

Namanya juga dagang, kalau sudah tidak berpotensi ada keuntungan, ya kita lepaskan. Khusus Juned, mungkin tidak, jelas Guntur.

Mengapa Juned tidak? tanya Raden Jambat.

Dia punya hubungan pribadi yang cukup lama dengan Mbak Pur. Itu yang menjadi pertimbangan,”ujar Guntur (Nanti diyakini Guntur akan kecewa. Sama seperti kecewanya terhadap Ronald. Bahkan lebih parah).

Diujung sana, Mbak Pur tak bisa menyembunyikan rasa riangnya. Kinerja Guntur dan Timnya memberangus partai dengan siraman dolar, tampaknya membuahkan hasil yang cukup menggembirakan.

Terbayang dibenak Mbak Pur, bila dulu dia masih malu-malu menampakkan dirinya dalam lingkar kekuasaan Ronald, ke depan Mbak Pur akan bebas dan lebih banyak memanfaatkan waktu bersama Juned. Sebuah angan-angan yang sangat mungkin menjadi nyata. Tergantung harga diri dan martabat yang dimiliki partai-partai, termasuk warga masyarakat yang akan menjadi pemilih dalam Pilgub mendatang. (d)

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here