RMOLLampung. Rocky Gerung, filsuf yang juga akademisi dan pengamat politik, melihat kepemimpinan masih berkutat seputar memburu kekuasaan, belum mendistribusikan keadilan.

Ada partai yang sebelum pemilihan presiden (pilpres) kini siap-siap transaksi kekuasaan. “Komedi bisa menatap tragedi, tapi kita hanya menerima tragedi saat ini,” ujarnya di Fisip Universitas Lampung, Selasa (2/7).

Menurut Rocky pada acara bertajuk Politik Akal Sehat Untuk Membangun Peradaban Demokrasi, ada sinisme terhadap kekuasaan. Tapi, katanya, jangan sampai menjadi fandalisme.

Pada acara yang digelar di alun-alun halaman kampus itu, Rocky berpuisi tentang alun-alun: Di alun-alun, ada kalian, kupu-kupu dan pelangi. Namun, di negeri ini, sudah tak ada lagi. Alun-alun tempat berceloteh dan kritis pada kekuasaan dan keadilan.

Dia mengumpakan pemimpin seperti kapten kapal yang harus tahu rasi untuk menjalankan kapalnya, tahu memasak, dan bila perlu tahu cara menolong sekiranya ada penumpang yang akan melahirkan.

Pada acara yang dipandu  dua akademisi, Ikram dan Sugiyono, Rocky Gerung yang terus menyebarkan “virus” politik akal sehat mengingatkan bahwa kekuasaan harus dikontrol agar sehat.

Menurut Rocky Gerung, kampus harus fokus menggunakan akal sehat sebagai sarang kritisme, sarangnya akal sehat.

Mimbar akademisi milik semua orang yang harus dilakukan secara sistematis agar terjadi dialika kepemimpinan, katanya.

Dia didampingi Paus Sastra Lampung Isbedi Stiawan yang juga melihat fenomena demokrasi bangsa saat ini dari kaca mata “budaya akal sehat” “Budaya akan merawat etika dalam berpolitik,” ujarnya kepada RMOLLampung usai acara.

Dekan Fisip Universitas Lampung Syarief Makhya, dalam sambutannya, mengatakan demokrasi merupakan ruang kebebasan dalam bersaing atau berkompetisi politik secara sehat. [hms]



Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here