23.8 C
Bandar Lampung
Selasa 4 Agustus, 2020 07:13 WIB
Beranda OPINI Pojok Syafarudin Kekuasaan Cut Ba Cut Robek Moralitas

Kekuasaan Cut Ba Cut Robek Moralitas

Dialog Imajiner dengan Sukarno-Hatta (25):
Oleh Syafarudin Rahman

USAI saat isya berjamaah, kami berempat (Bung Karno, Bung Hatta, Syafarudin dan mahasiswa milenial), kembali duduk di sofa panjang berhadapan dibatasi meja pada sebuah balkon menghadap ke jalan raya yang sepi.

Gerimis awet, udara cukup dingin. Milenial menekan tombol power pada remote control, tambahkan pencahayaan dan tambah volume speaker laptop.

Meluncurlah lagu pop rock berjudul Topeng dibawakan penyanyi Ariel NOAH sambil berjingkrak bersama anak milenial di atas panggung.

Ku dapat melintas bumi
‘Ku dapat merajai hari
‘Ku dapat melukis langit
‘Ku dapat buatmu berseri

Tapi ‘ku dapat melangkah pergi
Bila kau tipu aku di sini
‘Ku dapat melangkah pergi
‘Ku dapat itu

Tapi buka dulu topengmu
Buka dulu topengmu
Biar ‘ku lihat warnamu
‘Kan ‘ku lihat warnamu

Kau dapat cerahkan aku
Kau dapat buat ‘ku berseri
Kau dapat buat ‘ku mati
Kau dapat hitamkan pelangi

Tapi ‘ku dapat melangkah pergi
Bila kau tipu aku di sini
‘Ku dapat melangkah pergi
‘Ku dapat itu

Tapi buka dulu topengmu
Buka dulu topengmu
Biar ‘ku lihat warnamu
‘Kan ‘ku lihat warnamu

Tapi buka dulu topengmu
Buka dulu topengmu
Biar ‘ku lihat warnamu
‘Kan ‘ku…

Bias Hukum, Etika Politik dan Demokrasi Cai Bucai

Milenial : izin Proklamator dan Pak Syafarudin, silakan diminum kopi andan jejama asal Kabupaten Pesawaran. Pembaca yang kirim bilang khasiatnya insha Alloh bisa menambah imunitas tubuh di akhir pekan.

Bung Hatta: Milenial apa saja berita menarik pekan ini?

Syafarudin: Milenial, apa topik yang sebenarnya mau dibahas pekan ini? lagu pembuka dialog kali ini pop rock anak milenial berjudul “Topeng”. Siapa yang pakai topeng? Ada apa dengan topeng masker?

Bung Karno: Milenial, anda ini generasi 4.0. kadang sulit dimengerti alias absurd. Tapi wajar karena anda itu tergolong cicit kami.

Milenial : Maaf dan izin. Santuy aja dulu Proklamator dan Pak Sayafarudin. Akhir pekan, mbok ya rileks dulu sejenak . Ada tiga berita menarik dan memilukan pekan ini. Saya bacakan yang tertera di monitor. Kita bahas satu persatu.

Berita pertama, Polri menjadi sorotan beberapa hari belakangan karena terseret dalam sengkarut pelarian buron terpidana kasus pengalihan hak tagih Bank Bali tahun 2003, Djoko Tjandra.

Hingga hari ini saja, sudah terdapat tiga jenderal polisi yang diduga terlibat. Satu perwira berpangkat irjen pol dan dua lainnya menyandang bintang 1 alias brigjen polisi.

Terbaru, Kapolri Jenderal Polisi Idham Aziz mencopot Irjen Pol Napoleon Bonaparte dari jabatan kepala Divisi Hubungan Internasional (Kadivhubinter) Polri. Pencopotan jabatan itu tertuang dalam Surat Telegram Kapolri dengan nomor ST/2076/VII/KEP/2020 tertanggal Jumat (17/7/2020). Surat telegram tersebut diteken langsung oleh AsSDM Kapolri Irjen Pol Sutrisno Yudi.

Nantinya, Irjen Napoleon akan dimutasi menjadi analisis Kebijakan Utama Itwasum Polri. Hal tersebut dibenarkan Karo Penmas Divisi Humas Polri, Brigjen Pol Awi Setiyono.

Syafarudin: Wow, polisi. Bagaimana Tanggapan Proklamator atas kabar ini?
Bung Karno: Polisi RI itu aku bentuk kesatuannya dengan Peraturan Presiden Nomor 11 Tahun 1946. Aku tanda tangani tanggal 1 Juli yang selanjutnya kalian peringati sebagai Hari Bhayangkari.

Bung Hatta: Polisi sudah memiliki sosok teladan yang menjadi panutan, sederhana dan jujur. Dialah Jend (Purn) Polisi Hoegeng Iman Santoso. Pada 14 Juli 2004, beliau meninggal.

Presiden Gusdur sangat menghormati dan mengapresiasi beliau dan membuat joke atau guyonan satire tentang polisi. Kata beliau, hanya ada tiga polisi jujur: polisi tidur, patung polisi, dan Hoegeng.

Sosok Hoegeng Iman Santoso diteladani sebagai polisi sederhana, jujur, dan berintegritas. Apa tidak malu dengan beliau.

Milenial : Maaf dan izin. Berita Kedua, Pertemuan Presiden Jokowi dengan Wakil Wali Kota Solo Achmad Purnomo di Istana untuk membahas rekomendasi PDIP bagi sang putra, Gibran Rakabuming Raka, disorot.

Jokowi dinilai tak seharusnya mencampur urusan negara dengan urusan pribadinya.

“Dari dulu kita sudah mengingatkan Presiden supaya membedakan urusan negara dan urusan keluarga. Ini bisa menjadi sentimen negatif, Presiden bisa tergelincir karena ada perilaku abuse of power. Menggunakan fasilitas Istana untuk bahas masalah internal partai,” kata pengamat politik Pangi Syarwi Chaniago kepada wartawan, Jumat (17/7/2020).

Untuk diketahui, Purnomo dan Gibran sebelumnya berebut tiket rekomendasi DPP PDIP untuk melaju di Pilwalkot Solo. Namun hari ini DPP PDIP secara resmi mengumumkan rekomendasi itu jatuh ke tangan Gibran.

Kembali ke soal pertemuan di Istana, Pangi menilai pertemuan itu bisa menurunkan citra Jokowi yang dekat dengan rakyat. Jokowi pun diminta berhati-hati membahas sesuatu di Istana yang tidak tidak berhubungan dengan perannya sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan.

“Boleh jadi Presiden sudah tahu bahwa ini kurang etis membahas keputusan rekomendasi PDIP untuk Pilkada Kota Solo kepada putranya, Gibran, namun tetap maksa membahasnya di Istana,” ujarnya.

“Padahal kan tinggal digeser saja ke tempat lain, agar menghindari menggunakan fasilitas negara Istana untuk membahas kepentingan pribadi dan partai,” imbuh Pangi.

Menurut Pangi, pertemuan Jokowi dengan Purnomo di Istana saat membahas urusan internal partai dinilainya tidak etis dan tak pas. Hal itu, menurutnya, rawan konflik kepentingan.

“Ya jelas nggak boleh. Ini yang kita khawatirkan dari awal ketika anak pejabat atau presiden ikut dalam kontestasi elektoral. Sangat rawan conflict of interest, apalagi ini dipanggil ke Istana,” tutur Pangi.

Achmad Purnomo mengaku mendapat tawaran jabatan dari Presiden Joko Widodo sebagai timbal balik karena putranya, Gibran Rakabuming Raka, mendapat rekomendasi PDI Perjuangan (PDIP) di Pilwalkot Solo 2020. Namun Purnomo menyatakan menolaknya.

“Ya ada (tawaran timbal balik), tapi bagi saya ndak perlu,” ungkap Purnomo dalam perbincangan dengan detikcom, Jumat (17/7/2020).

Tawaran tersebut disampaikan saat Purnomo dipanggil Jokowi ke Istana, Kamis (16/7) kemarin.

Namun ia tak bersedia menjawab apa penawaran Jokowi. Purnomo hanya memastikan tawaran tersebut berupa jabatan, tapi bukan posisi menteri.

Wow, Bias etika dan Demokrasi cai Bucai (Dagelan) bukan Demokrasi kita ala Bung Hatta. Bagaimana Tanggapan Proklamator atas kabar ini?

Bung Karno: Alhamdulillah, selama di istana, tidak pernah aku mendahulukan kepentingan anakku. Apalagi coba barter jabatan dengan kepentingan anak. Sungguh memalukan dan kritik Pangi itu benar.

Bung Hatta: Dalam salah satu artikel di Buletin Demokrasi Kita. Aku menulis pesan agar berjalanlah seperti pancasila, yang dia berjalan lurus tidak ke kiri dan tidak ke kanan karena tahta, harta dan keluarga merupakan amanah sekaligus godaan yang bisa menggelincirkan.

Milenial : Maaf dan izin. Berita Ketiga, Para menteri mewakili Presiden Joko Widodo menyampaikan konsep RUU Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (RUU BPIP). Menteri yang hadir adalah Menko Polhukam Mahfud Md, Mensesneg Pratikno, Menhan Prabowo Subianto, Mendagri Tito Karnavian, Menkum HAM Yasonna Laoly, dan MenPAN-RB Tjahjo Kumolo.

Ketua DPR Puan Maharani bersama Wakil Ketua DPR Azis Syamsuddin, Sufmi Dasco Ahmad, Rachmat Gobel, dan Muhaimin Iskandar menemui dan menyambut langsung. Puan mengatakan kedatangan para menteri untuk menyampaikan konsep RUU BPIP. Puan berharap konsep itu mendapat masukan dari masyarakat.

Puan memastikan konsep RUU BPIP akan berbeda dengan RUU Haluan Ideologi Pancasila yang mendapat penolakan dari masyarakat. Ada 7 bab dan 17 pasal dalam RUU BPIP.

“Konsep RUU BPIP yang disampaikan pemerintah berisikan substansi yang berbeda dengan RUP HIP, yaitu berisikan substansi yang telah ada di dalam Peraturan Presiden yang mengatur tentang BPIP dan diperkuat menjadi substansi RUU BPIP,”

Syafarudin: Wow, lagu lama kaset baru. Gagal dibahas karena RUU usul DPR didemo meluas kalangan umat Islam. Kini yang usul gantian pemerintah dan judul diubah dari RUU HIP menjadi RUU BPIP. agaimana Tanggapan Proklamator atas kabar ini?

Bunh Karno: Demokrasi Terpimpinku kerap dikritik tapi kejadian lucu ini menjadi bukti mengawal demokrasi membutuhkan pemimimpin yang orisinil bukan pemimpin karbitan. Karena eksekutif lah yang mesti nampak berkehendak dalam pemerintahan dan politik.

Bung Hatta: Aku setuju eksekutif yang berkehendak dominan tetapi tidak memberangus kritik dan aktor-aktor kecil dalam berdemokrasi. Tidak boleh membatasi ruang gerak kelompok masyarakat, ormas, dan parpol gurem sekalipun.

Syafarudin: Wow, izin proklamator. Cukup sudah yang berlalu jangan diungkit kembali saya tengahi dialog ini jangan berdebat lagi. Silakan milenial bila ada yang ingin disampaikan.

Milenial : Maaf, izin Proklamator, Pak Syafarudin. Saya permisi dulu karena akhir pekan ini saya sudah ditunggu join di aplikasi Zoom untuk ngobrol anak muda milenial. Laptop ini mau saya pakai. Pekan depan dialog lagi. Terima kasih. Wassalamualaikum, warrohmatullohi wabarakatuh.

Peneliti Labpolotda dan Dosen Ilmu Pemerintahan
FISIP Universitas Lampung

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

Baca Juga

Hagia Sophia Hingga Masjid Agung St. Petersburg Soekarno Di Rusia

Dialog Imajiner dengan Sukarno-Hatta (26): Oleh Syafarudin Rahman USAI salat subuh berjamaah, kami berempat (Bung Karno, Bung Hatta, Syafarudin dan mahasiswa milenial), kembali bertemu dan duduk...

Preman Dari Provinsi Pabrik Permen

Dialog Imajiner dengan Sukarno-Hatta (22): Oleh Syafarudin Rahman PAGI masih gelap dan sepi usai salat subuh, kami berempat seperti biasa berbincang sambil menghirup segarnya oksigen yang...

Koruptor, Antara Diberantas Dan Dirawat

Oleh Syafarudin Rahman KOMISI Pemberantasan Korupsi (KPK) merilis 10 daerah provinsi dengan angka korupsi tertinggi sejak lima tahun terakhir, 2014 hingga 2019. Provinsi Lampung menempati...

RUU HIP Ditunda, Penunggang Kandas, Lovers Gagal

Dialog Imajiner dengan Sukarno-Hatta (21): Oleh Syafarudin Rahman  PAGI masih gelap dan berembun usai salat subuh, kami berempat (Bung Karno, Bung Hatta, Syafarudin dan mahasiswa milenial),...
Translate »