RMOLLampung. Kebijakan pertanian pemerintah saat ini kurang memihak rakyat. Badan Eksekutif Mahasiswa Se-Indonesia (BEM SI) menghimbau mahasiswa bergabung dalam “Aksi Tugu Tani”, Senin (24/9).

“Hari Tani Nasional menjadi salah satu momen refleksi bangsa terkait kondisi pertanian di Indonesia,” kata Koordinator Isu Pertanian BEM SI Qudsyi Ainul Fawaid kepada RMOL Lampung, Minggu (23/9).

Permasalahan pertanian saat ini, katanya, kebijakan-kebijakan pertanian pemerintah yang kurang memihak kepada petani. Oleh karena itu, BEM SI mengajak mahasiswa bergabung dalam Aksi Tugu Tani”.

Menurut dia, ada lima tuntutan yang ingin disampaikan mahasiswa dalam “Aksi Tugu Tani” kepada pemerintah, yakni :

1. Mendesak pemerintah untuk menuntaskan target Program Perhutanan Sosial seluas 4,38 juta ha dan Tanah Objek Reforma Agraria seluas 9 juta ha.
2. Mendesak pemerintah untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing produk pertanian lokal serta meminimalisir impor bahan pangan
3. Menuntut pemerintah untuk menyingkronkan data pertanian dari bebrbagai lembaga survei.
4. Menuntut pemerintah untuk menyelesaikan konflik agraria.
5. Mendesak pemerintah untuk menghentikan kriminaslisasi petani dan mahasiswa.
6. Menuntut realisasi janji pemerintah swasembada pangan 2017 melalui Upsus Pajale.
7. Menuntut pemerintah untuk konsistten dalam penegakan hukum soal illegal fishing.

Qudsyi Ainul Fawaid mengakhirinya dengan mengutip kalimat Proklamator Soekarno : “Kita bangsa besar, kita bukan bangsa tempe. Kita tidak akan mengemis, kita tidak akan meminta-minta, apalagi jika bantuan-bantuan itu diembel-embeli dengan syarat ini syarat itu. Lebih baik makan gaplek tapi merdeka daripada makan bistik tapi menjadi budak.” [hms]

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here