Kanker Payudara Tertinggi di Indonesia, RSUDAM Ingatkan Pentingnya Deteksi Dini

•KESEHATAN
externalexternalexternalexternal
Kanker Payudara Tertinggi di Indonesia, RSUDAM Ingatkan Pentingnya Deteksi Dini
Wakil Direktur Keperawatan, Pelayanan, dan Penunjang Medik Rumah Sakit Umum Daerah Dr. H. Abdul Moeloek (RSUDAM) Provinsi Lampung, Yusmaidi/dok RSUDAM

Article Header ImageKanker payudara masih menjadi jenis kanker dengan jumlah kasus tertinggi di Indonesia. Kondisi tersebut menjadi pengingat pentingnya kesadaran masyarakat melakukan pemeriksaan sejak dini, terutama ketika menemukan perubahan atau benjolan pada payudara.

Berdasarkan data 10 jenis kanker yang paling banyak diderita penduduk Indonesia, kanker payudara menempati urutan pertama dengan 65.858 kasus. Posisi berikutnya ditempati kanker serviks sebanyak 36.633 kasus dan kanker paru-paru 34.783 kasus.

Kemudian kanker hati tercatat sebanyak 21.392 kasus, kanker nasofaring 19.943 kasus, kanker kolon 17.368 kasus, limfoma non-Hodgkin 16.125 kasus, kanker rektum 16.059 kasus, leukemia 14.979 kasus, serta kanker ovarium sebanyak 14.896 kasus.

Wakil Direktur Keperawatan, Pelayanan, dan Penunjang Medik Rumah Sakit Umum Daerah Dr. H. Abdul Moeloek (RSUDAM) Provinsi Lampung, Yusmaidi mengatakan, kasus kanker payudara juga masih banyak ditemukan di Lampung.

Dokter spesialis bedah digestif tersebut menyebut, tidak sedikit pasien datang ke fasilitas kesehatan ketika kanker sudah berada pada stadium lanjut. Padahal, perubahan pada payudara dapat mulai dikenali melalui pemeriksaan sederhana secara mandiri.

Menurut Yusmaidi, perempuan dapat memperhatikan kondisi payudara secara rutin, salah satunya dengan bercermin setelah mandi untuk melihat apakah terdapat perubahan yang tidak biasa.

"Tentunya setiap kita membuka baju, terus sambil di kaca, di cermin, habis mandi pasti periksa, apakah ada perubahan pada tubuh, misalnya seperti benjolan," kata Yusmaidi, Minggu, 4 Oktober 2026.

Ia mengatakan, salah satu persoalan yang masih ditemukan adalah masyarakat telah menyadari adanya benjolan, tetapi memilih membiarkannya dan tidak segera memeriksakan diri.

Menurutnya, kondisi tersebut tidak seharusnya diabaikan. Benjolan maupun perubahan yang mencurigakan perlu dikonsultasikan kepada tenaga medis untuk memastikan apakah bersifat jinak atau ganas.

"Itu yang harus dilanjut dikonsultasikan. Jangan ragu. Peralatan di RSUDAM sudah ada komplit semua," ujarnya.

Yusmaidi menjelaskan, penanganan terhadap kelainan maupun kanker payudara bergantung pada hasil pemeriksaan dan kondisi pasien.

Pada kasus benjolan yang bersifat jinak, tindakan dapat berupa pengangkatan benjolan. Sementara kanker yang bersifat ganas dapat membutuhkan penanganan lebih lanjut, termasuk operasi pengangkatan payudara atau radical mastectomy sesuai indikasi medis.

"Kanker sendiri banyak macamnya. Ada kanker payudara yang jinak, ada yang ganas. Yang ganas tentunya dengan tindakan lanjutnya itu radical mastectomy, itu pengangkatan payudara," jelasnya.

Karena itu, ia kembali menekankan pentingnya deteksi dini. Semakin cepat kelainan ditemukan dan diperiksakan, semakin cepat pula dokter dapat menentukan diagnosis dan langkah penanganan yang sesuai.

"Tapi kalau yang jinak ya tentunya dengan pengangkatan benjolannya saja. Makanya dikatakan sadari sejak dini, supaya dicurigai itu yang jinak atau ganas. Jangan sampai terlambat," katanya.

Menurut Yusmaidi, pasien yang datang dalam kondisi lebih lanjut dapat membutuhkan rangkaian terapi setelah tindakan operasi, termasuk kemoterapi maupun radioterapi.

Ia menyebut layanan penanganan kanker tersebut telah tersedia di RSUD Dr. H. Abdul Moeloek.

"Kalau terlambat akhirnya pengangkatan payudara. Dan tentunya nanti ada terapi-terapi lanjutnya, ada sinar, ada kemoterapi," ujarnya.

Dengan masih tingginya kasus kanker payudara, masyarakat diharapkan tidak menunda pemeriksaan apabila menemukan benjolan maupun perubahan yang tidak biasa pada payudara. Deteksi lebih awal menjadi penting agar pemeriksaan dan penanganan medis dapat dilakukan sesegera mungkin.Article Image

Editor : Faiza Ukhti Annisa

Kata Kunci


Berita Terkait